Kenapa Apam Pidie Sukses


Ini tulisan rahasia, jangan bilang siapa-siapa ya! Membaca tulisan ini belum pasti Anda sukses. Saya saja orang Pidie belum sukses. Rata-rata orang pidie sukses. Paling rendah kami sukses menjadi pengemis. Tanyalah pengemis di mana-mana. Mereka rata-rata pasti bilang “dari Pidie”. Itu mungkin ‘kasta’ paling rendah bagi orang Pidie nanti bila ada tersinggung dengan tulisan ini. Boleh memprotes dengan tulisan lain. Saya tidak bermaksud menjatuhkan siapa-siapa, apa lagi menjatuhkan bangsa sendiri. Saya hanya ingin memuji kampung kelahiran saya.
Peraturan pertama kesuksesan orang sigli adalah jangan tinggal di kampung. Karena kata pepatah nenek goyang kami “mita raseuki bak lee tapak ureung” maka dimana ada keramaian di situ ada orang Sigli. Blok M, Medan dan kota-kota besar Indonesia sampai dunia ada orang Pidie. Kemarin saya baru ditelpon sama teman saya yang dulu terlunta-lunta di kampung. Dia sekarang di Dubai. Pekerjaannya laundry di kapal pesiar. Subhanallah. Rencana Allah luar biasa.
Peraturan kedua orang Sigli itu sabar. Tidak semua. Saya bukan tipe ini. Saya orangnya tak sabaran. Seorang pengusaha di Malaysia pergi ke sana bermodalkan air mata. Naik boat nelayan. Lalu kerja di tempat Cina. Tidak dibayar apa-apa. Dia hanya di beri makan 3x. tapi dia tetap bersabar sambil belajar bagaimana cara Cina itu bekerja. Lama-kelamaan karena kejujurannya dia diangkat menjadi manager dan dibayar. Setelah punya cukup modal, dia berjualan sendiri dan kini sukses jadi konglomerat di negara tetangga. Untung kemarin nenek moyang kami tidak bilang “kejarlah cita-citamu sampai ke negeri tetangga” kalau itu dibilang, orang Pidie rata-rata di Malaysia.
Malaysia adalah negara yang banyak orang Pidienya. Nekat betul bangsa kami naik kapal nelayan melalui Laweung. Demi mencari penghidupan lebih baik di sana. Bekerja sebagai buruh bangunan. Buruh pabrik. Jualan. Jualan ganja. Sabu dan ada juga yang jual ya, jual itu. Masak tak tahu.
Orang Malaysia yang malas dan gengsi dimanfaatkan dengan baik oleh orang Sigli yang rajin. Kerja yang tidak mau dikerjakan oleh bangsa Malay, dikerjakan oleh orang Siglay. Sukseslah beberapa. Dan beberapa lain masuk penjara.
Peraturan selanjutnya, level sedikit lebih pintar dari masyarakat Pidie adalah kata-kata nenek moyang selanjutnya “Ureung Aceh Buet beu kureung, peng beulubeh” Ini mungkin seperti prinsip ekonomi “dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan laba sebesar-besarnya” Kami mencari kerja yang banyak labanya. Misalnya jualan kelontong. Jualan pakaian. Buka warung kopi. Toko pecah belah. Jaga toko. Pokoknya kerja yang santai tapi duitnya banyak.
Seperti kata pak camat Silih Nara, Takengon pada saya saat saya KKN di sana, saat dia tahu saya dari Pidie “Saya heran sama kalian (orang Pidie). Kami (orang Gayo) capek-capek menanam kopi. Naik ke atas gunung, mencangkul tanah, merawat, memetik, mengangkut. Datang kalian theun umpang di miyup” Maksudnya masyarakat gayo yang menanam kopi, masak orang sigli yang membelinya dan menjual lebih mahal. Itu di beberapa tempat. Tidak semua Takengon.
Orang Pidie yang sukses tidak menjamin daerah Pidie maju. Lihatlah dimana toko yang paling besar punya orang Sigli. tentu saja bukan di kampungnya. Tapi di kota orang. Karena ya itu tadi peraturan pertama. Orang sigli tak akan sukses di kampung sendiri.

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus