Tuesday, October 16, 2012

Krupuk Mulieng dan Pidie

Tags


Orang Pidie tidak bisa di pisahkan dari Bak Mulieng. Siapa bilang tidak bisa?! Angkut semua orang Pidie ke Gurun Sahara, habis Perkara! Kalau ini tulisan ilmiah mungkin judulnya akan begini “Kajian tentang Bak Mulieng dan hubunganya dengan orang Pidie.” Kita mulai tulisan sangat tidak ilmiah ini dari pendahuluan, kata pengantar, mengapa memilih judul ini dan daftar isi.

Sebagai mana kita ketahui, bahwa orang Pidie terkenal dengan kerupuk muliengnya. selain pelitnya dan mahalnya mahar. Tidak lengkap kalau orang Pidie tanpa keurupuk mulieng. Di setiap rumah di Pidie rata-rata ada pohon meninjau (bak Mulieng) setiap anak laki-laki di Pidie yang lahir tahun sbelum masehi sampai 80an, bisa memanjat pohon mulieng, sekarang? Sudah gengsi anak-anak dekat kota manjat pohon mulieng. Tinggal anak-anak desa saja yang bisa.

                Di desa-desa seputaran Beureunuen, di setiap rumah ada palei peh kerupuk dan bak peh kerupuk yang besar. Bak peh kerupuk memang bak (Sepohon kayu, akarnya saja, di sinso dan di nyeh (ketam) dengan licin dan dip eh kerupuk di atas itu) yang Pidie pasti mengerti, yang luar akan saya jelaskan lagi nanti di bab berikutnya.

                Baiklah bab satu, saya tulis BAB I terlalu kasar dan haram untuk di makan. Bab ini meliputi  Pengenalan tentang mulieng. Pengenalan, PDKT dan mintak nomer hape. Bak nya dulu, bak itu bahasa Aceh dari pohon. Kecuali kata bak budik dan bak mandi. bak budik saya belum menemukan itu jenis pohon apa. Sedangkan Bak mulieng yang kita teliti kalai ini itu warnanya seperti warna ular piton. Cuma tidak bersisik, tapi sama kasarnya. Bercabang-cabang dan ber atot seperti pohon bambu, bercabang-cabang yang sangat berdekatan sehingga memudahkan manusia untuk memanjat.

                Kita lihat Daun, daunnya hijau tua, kecuali daun baru tumbuh, berwarna hijau muda dan bisa di manfaatkan untuk sayur, dan kalau di goreng enak juga. Daun pohon meninjau sangat lebat sehingga mama saya harus menyapu di bawah pohon meninjau agak sedikit lama, apa lagi kalau pohonya baru selesai saya panjat. Apa ini? Kok bawa-bawa mama, tidak ilmiah lagi tulisan saya. Baiklah mama! Keluar dulu, nantik kita sapu lagi. Tentang sapu, menyapu daun meninjau jatuh harus dengan sapu lidi, dengan sapu ijuk kapan bersihnya? Kembali kedaun. Ukuranya sebesar telapak tangan, tapi lebih panjang sedikit, oval.

                Buahnya? Buah mulieng. Ada 3 fase warna buah mulieng ini, seperti traffic light. Mungkin ide traffic light itu dari boh muling. Kenapa traffic light kita sebut lampu merah? Kenapa tidak lampu boh mulieng saja? Kan lebih terkesan keAcehan. Waktu berumur sehari, buahnya akan berwarna hijau seperti daun. Dari sangat kecil yang biasa sudah di petik dan di masak di Kuah Pliek. Kemudian fase kedua dia akan berwarna kuning, berarti kita harus berhati-hati, di saat boh mulieng berwarna kuning, sebenarnya sudah siap di petik, tapi tunggulah sampai merah. kalau boh mulieng ada yang berwarna orange, berarti itu transisi dan kuning ke merah. Tapi apapun warna kulit luarnya, di dalamnya tetap saja hitam. Kecuali waktu masih hijau, warna kulit dalamnya masih putih. Tapi anda jangan kecewa dulu warna kulit dalamnya hitam. Lihat lagi lebih dalam. Pecahkan kulit hitamnya itu, maka anda akan mendapat warna putih lagi dan itulah yang kita olah sebentar lagi menjadi kerupuk mulieng.

                Kita lanjut ke Bab dua. Bab ini mencakup Proses pemanjatan dan pembuatan boh Mulieng menjadi kerupuk
Semakin tinggi peradaban Sigli, tapi cara memetik Boh Mulieng masih begitu-begitu saja, pet dan chet. Mungkin anak Sigli yang kuliah tinggi-tinggi tak ada yang mahu mengembangkan potensi daerah sendiri. Pet adalah memanjat dan memetik tangkai buah satu persatu. Awak ek chong bak mulieng (para pemanjat) berasal dari keluarga ahli waris bak mulieng atau sewa orang. Biasa kalau kita sewa orang, orang sewaan itu akan mintak bagi 3. 2 bagian untuk ureung po (pemilik) dan 1 bagian untuk dia. Yang kedua adalah chet (apa ini bahasa indonesnya? Lupa saya, ini bisa di artikan memakai galah utuk memetik) galah bahasa Acehnya Runoeng, semakin tinggi galah semakin jauh menjangkau. (Kalau anda bermasalah dengan tinggi badan, anda bisa menelan 2 biji runong dijamin akan tinggi hari itu juga-red). Bahkan ada pemanjat yang juga membawa serta galah saat dia memanjat. Itu cara yang benar. Ada juga cara yang salah memetik pohon meninjau, cara yang salah yang jarang di praktekkan adalah menumbangkan pohonnya. Tidak perlu di ceritakan!
                Lalu setelah pet atau chet kita masuk dalam acara pileh (kutip, punggut, pilis) di bagian ini sudah ada sedikit perkembangan, masyarakat di daerah butoeng (7 km dari Beureunun) sudah mulai menggunakan tikar, tikar besar yang di pakai untuk menjemur padi di bentang di sekitar pohon, jadi lebih mudah saat memungut, dari pada cara manual yang harus memungut satu persatu. Tapi kalau buah mulieng jatuh alami tetap harus di punggut manual.

                Pluek adalah proses selanjutnya, yaitu mengupas kulitnya, baik kulit kuning dan kulit hijau. Salah satu kekurangan dari mengupas ini adalah tangan kita bisa aus dan mengelurakan darah, perih! sakit sekali, getah meninjau bisa menipiskan kulit dan kita bisa saja berdarah. Tapi dalam perkembangannya sekarang orang-orang yang mengupas meninjau mulai memakai sarung tangan. Kalau dulu pakek plastik yang di ikat karet. Cara yang lain adalah mencuci dan menginjak-injak, tapi ini hanya berlaku pada buah yang merah dan jatuh secara alami. Yang menarik dari proses mengupas ini adalah Ulat muling. Ulat kecil kecil sebesar padi kurang gizi di buah merah yang busuk kulitnya yang bergerak dengan cara melipat tubuhnya secara vertical lalu mementalkan diri satu senti demi satu senti, sungguh pemandangan yang menakjubkan.
              
 Bab III marketing boh mulieng
Setelah di kupas, ada 2 macam yang orang Pidie lakukan, publoe dan peh keudroe. Publoe adalah menjual hasil pluek itu, satu bambu berkisar antara 20 ribu sampai 10 ribu, tergantung index saham dunia, kalau saham Nikkei menanjak dan saham gabungan turun, maka harga satu bamboo aneuk muling bisa 20 ribu. Tapi kalau saham IHSG dan harga minyak dunia naik, maka harga buah meninjau akan turun ke angka 10 ribu. Aneuk mulieng di kira per are (sekitar 2 liter).

                Yang membeli bernama meuge mulieng, apa bahasa indonya? Penjaja melinjo ya? Mereka adalah lelaki sejati tak ada wanita menjadi mugee. Kenapa para muggee adalah lelaki sejati? Bukan karena mereka minum Extra joss?! Tapi karena mereka tulus iklas membawa  jiwa dan raganya kemana saja mereka pergi. Sangking sejatinya mereka membawa 2 raga sekaligus. Raga adalah sejenis keranjang yang di ikat sedemikian rupa di belakang motor sehingga tidak bisa membawa penumpang.

                Peh keudroe. Ini adalah dimana boh muling untuk di makan sendiri, tidak di perjual belikan. Peh adalah pembuatan boh mulieng menjadi kerupuk. Kata Peh berasal dari pedagang Arab, anaknya syarifah, Syarifah pertama di panggil Ipah lama-lama menjadi Ipeh lalu supaya lebih singkat jadi Peh, peh juga bersaudara dengan Khok, pengusaha dari China daerah Tiongkok. Sulit juga menjelaskannya bagaimana. Pokoknya Untuk bisa di Peh, aneuk Mulieng yang sudah di kupas tadi harus di masak dulu bersama batu kerikil sampai betul betul masak, di gongseng! Di dalam pengorengan, tanpa air dan minyak, hanya batu kerikil dan aneuk mulieng. Setelah itu di Rhueng (bagian Punggung) dan di pecahkan kulitnya dengan batu, tinggal putihnya lalu di pukul di palu sampai tipis. Lalu di jemur dan di goreng. Jadilah kerupuk! Sekian dan terimakasih.

Minggu depan saya akan menulis tentang boh kuldi

Daftar Pustaka
1.       Pustaka Unsyiah
2.       Pustaka IAIN
3.       Pustaka Wilayah
4.       Pustaka Masjid Raya
5.       Pustaka Tgk Chik Tanoh Abei


EmoticonEmoticon