Thursday, January 17, 2013

Akbar Adikku

Tags

Hujan dibulan Desember ini beberapa hari deras. Kalau datang di pagi hari, membuat mata yang sudah melek, karena harus membuka pagar yang keratan. Mengeluarkan motor yang besar melalui pintu rumahku yang kecil, harus hati-hati agar tidak menyenggol motor lain di dalam rumah. Apalagi kalau menyengol motor merah punya adik. Dia akan MABES (Marah BEsar).
Mata yang melek tak bisa diajak tidur lagi, walaupun di rayu oleh hujan yang deras dan selimut lembut buatan Iran. Lalu terpaksa meraba laptop. Yang sudah 6 jam terhibernate karena tombol Shut downnya sudah tidak lagi berfungsi.
                Tapi tulisan ini bukan tenang hujan yang di dramakan, bukan tentang pintu kecil  yang karatan, juga bukan tentang motor yang besar. Tapi tentang seseorang. Seseorang yang sudah 16 tahun hidup bersamaku. Kadang dia kutampar, kadang kubawa ke masjid. Juga kadang kuberi uang. Untuk membeli ikan peliharaan. Dia adalah adekku. Adekku ke 4 dari 2 bersaudara, bagaimana itu?
                Namanya hampir sama dengan namaku. Kalau aku Iqbal dia bernama Akbar. Sejak kecil dia adalah adik yang membosankan. Si tukang nangis. Si yang permintaannya harus di kabulkan kalau tidak dia akan memecahkan barang-barang. Pernah di injak sama Ayah. Nakal luar biasa dan anti social. Anak yang selalu di rumah kalau pulang sekolah Karena dia kurang pandai bergaul.
                Mau jadi apa dia kalau nanti besar? pikirku, anak yang suka pindah-pindah sekolah. Pernah berantam sampai hilang semua gigi depannya.  Cengengesan sana-cengengesan sini. Yang dia bisa Cuma menanam ini-menanam itu dan memelihara ini-memelihara itu.
                Awal kariernya menanam adalah menanam pohon jagung di belakang rumah. Dengan tanah kering dekat laut, dan pupuk seadanya. Dari awal ini aku berfikir tidak akan berhasil. Aku diamkan saja, karena tidak boleh mematahkan semangat anak di usia labil. Dan ternyata yang aku pikirkan benar. Pohon jagungnya tumbuh. Tapi buahnya masih harus beli di pasar. Yang berhasil tumbuh dan berbuah di belakang rumah hanya pohon pisang dan pohon coklat, itupun ayah yang menanamnya.
                Lalu dia benting stir jadi pemelihara binatang. Dia memelihara ikan hias di depan rumah. Ini menuai sukses besar dan di terima oleh masyarakat luas di kalangan anak-anak. Anak-anak sepulang sekolah selalu menghampiri kolam ikan kecil di depan rumah kami. Melihat-lihat dan kagum. Menunjuk-nunjuk seolah mereka tahu semua nama ikan di kolam itu.
                Tahun berikutnya dia mulai menunjukkan jiwa Siglinya. Dia mulai menjual anak-anak ikan itu dengan harga yang sangat murah. Seribu rupiah! Menggebrak harga pasar. Dan membuat Toke ikan Hias Cina di Sigli, bangkrut! Tapi masa kejayaan ikan itu sirna ketika mama mengepel lantai dengan produk porcelen baru. Air pel yang merembes ke teras, meliuk-liuk perlahan masuk ke kolam si Akbar, menewaskan semua penduduk kolam. Ikan merah, putih, hitam, warna warni, ikan mas kesayanganku-padahal mau kujadikan mahar- semua meregang nyawa. Menghancurkan dunia bisnis perikanan Akbar. Membuat klien dari berbagai desa kecewa.
                Dia galau, muka merengut sepanjang hari. Mulut selalu mengoceh kekecewaannya.  Dia merusak lemari kamarnya. Dan pergi kepasar, membeli seekor hamster. Bagiku hamster hanya tikus yang beruntung. Bulunya yang tebal dan ikornya yang pendek membuat dia sedikit disukai.
                Ayah pulang dan melihat bencana yang begitu besar dirumah. Beliau berdiri sejenak dan melepas helemnya. Seperti mengheningkan cipta di depan kuburan ala Amerika. Lalu menuju kamar Akbar dan mencoba menghiburnya.
“Kenapa kamu rusak lemari?” Ayah ingin memarahi tapi dia melihat kelemari “I in ini tikus apa kenapa besar sekali?” niat ayah memarahi jadi keheranan yang luar biasa. Padahal ayah tahu itu hamster tapi dia ingin membuat Akbar tersenyum. Dan itu berhasil.
                Keesokan harinya ayah membuatkan Kandang untuk ‘tikus’ itu. Di taruh di depan kamarku. Aku bahkan tak pernah memperhatikannya. Yang aku tau itu hamtaro makan kuaci. Sampai suatu pagi. Aku harus mengantri mandi. Kulihat ada tauge di atas kandang hamster. Ini pasti mama salah taruh sayuran, seharusnya Tauge ada di dalam kulkas. Aku melihat kanan-kiri tak ada orang, hanya suara percikan air di kamar mandi.
                “bagaimana kalau kita berekperimen, kita kasih tauge ini ke Hamster?” kataku dalam hati. Aku membuka kandanya dan melemparkan segengam Tauge ke dalam kandang. Hamster terkejut dan meraih sebatang tauge. Memegang batang itu dengan kedua tangannya dan makan sambil berdiri, sehabis beberapa kali kunyah dia menatap kearahku. Matanya yang kecil dan kedua tangannya yang sedang memegang tauge membuat aku terpana. “Lucu juga tikus ini” kataku dalam hati. Dia mengunyah lagi, dan melihatku lagi. Seakan-akan dia berkata “Terimakasih abang yang baik” lalu Akbar keluar dari kamar mandi, aku pura-pura melihat kea rah lain. Baru tahu aku hamster itu makan sayuran juga. Beberapa hari lalu hamster kami melahirkan 4 orang anak! Orang? Maksud saya melahirkan 4 binatang anak.
                Sambil memelihara Hamster Si Akbar juga rajin latihan Kempo. Di depan mantan kolam ikannya dia mengikat satu ban bekas untuk di tending-tendangnya. Aku rajin mengantarkannya pergi latihan ke GOR. Ya daripada di rumah terus mendingan dia melakukan sesuatu yang bermanfaat.
                Nilai sekolah dia anjlok. Dia mendapat tiga C di rapor. Rekor keluarga! Anak-anak mama yang lain nilainya selalu bagus. Di sekolah! Di kuliah ya D aku pernah (bangga). Dia sibuk latihan Kempo, jarang sekolah. Selalu kenak marah mama kalau dia dapat nilai jelek. Anak ini memang tak bisa di andalkan pikirku.
                Suatu hari dia bilang “Abang nontonlah adek turnamen di Banda, Turnamen Kempo Suzuki.”
“abang ngajar dek” kataku. “Good luck” kataku dalam hati. Apa yang terjadi di turnamen? Dia Juara 1! Membawa pulang medali Emas.  Mama begitu bangga dan menceritakan ke seluruh tetangga. Pria yang membosankan kini sudah mulai menunjukkan apa yang dia bisa.

                

Tuesday, January 8, 2013

proverb

Tags
Chinese Proverbs
Proverb Resources
English-Spanish proverbs

English Proverbs and Proverb Humor
(revised 6 June 2003)
Proverbs
A stumble may prevent a fall
All good things come to those who wait
Everyone must row with the oars he has
Every path has its puddle
God tempers the wind to the shorn lamb
One of these days is none of these days
Revenge is a dish best served cold
Worry often gives a small thing a big shadow
See also Weather Proverbs (external)
Beauty without grace is like a hook without bait.
Contributed by Charon Muck, 26 Jan 2000
Caught between a rock and a hard place
Caught between the devil and the deep blue sea
(to be stuck with two choices that are both undesirable)
Out of the frying pan and into the fire
(to go from a bad to a worse situation)
Might as well be hanged for a sheep as a lamb
(if you're going to get into the same amount of trouble, you might as well commit the greater offense)
Six of one, half a dozen of the other
(each choice is really the same thing)
Two sides of the same coin
(two aspects of a situation that are connected by necessity)
In for a penny, in for a pound
(if you're going to make a minor committment you might as well make the entire committment)
Don't count your chickens before they're hatched
(don't start making plans for something until it is a reality, rather than a pleasant speculation)
Don't cross your bridges before you get to them
(don't worry about future problems before you need to)
A stitch in time saves nine
(if you take care of a problem while it's small you won't have a bigger problem to deal with later)
(or, as Dr. Who likes to say: A stitch in time takes up space)
Time and tide wait for no man
(act in a timely fashion because you can't get back lost chances)
(or, once again as Dr. Who likes to say: Time and tide melts the snowman.)
Contributed by Rebecca Loos, Spokane, Washington, 5 June 2000
To listen is to learn, and to understand is to inspire.
Contributed by Hannah Martinez, 5 February 2002
A lie well stuck to is as good as the truth.

Contrary Proverbs
 
A bird in the hand is worth two in the bushBUTA man's reach should exceed his grasp
A miss is as good as a mileBUTHalf a loaf is better than none
All good things come to those who waitBUTTime and tide wait for no man
Birds of a feather flock togetherBUTOpposites attract
Clothes make the manBUTNever judge a book by its cover
Don't cross your bridges before you come to themBUTForewarned is forearmed
Doubt is the beginning of wisdomBUTFaith will move mountains
Good things come in small packagesBUTThe bigger the better
Great starts make great finishesBUTIt ain't over 'till it's over
He who hesitates is lostBUTFools rush in where angels fear to tread
BUTLook before you leap
Practice makes perfectBUTAll work and no play makes Jack a dull boy
Silence is goldenBUTThe squeaky wheel gets the grease
The pen is mightier than the swordBUTActions speak louder than words
You're never too old to learnBUTYou can't teach an old dog new tricks
What's good for the goose is good for the ganderBUTOne man's meat is another man's poison.
Wise men think alikeBUTFools seldom differ



Cf. Brian S. Kendig's "Proverbs to Live By" (external).

Proverb Humor
Anti-proverbs
 
 Sources
A penny saved makes Jack a dull boyA penny saved is a penny earned, and 
All work and no play makes Jack a dull boy
Absence makes the heart go wander Absence makes the heart grow fonder

Abstinence makes the heart go wander
Chaste makes wasteHaste makes waste
If practice makes perfect and nobody's perfect then why practice?Practice makes perfect and Nobody's perfect
The early bird catches the worm, but it is the early worm that gets caughtThe early bird catches the worm
The early bird may get the worm, but the second mouse gets the cheese
Time wounds all heelsTime heals all wounds
Where there's a will, there's a relativeWhere there's a will, there's a way


Circumlocutory Proverbs 
A disposition towards inquiry deprived the feline of its vital stateCuriosity killed the cat
Elementary sartorial techniques initially applied obviate the need for repetitive similar actions to the square of threeA stitch in time saves nine
Exigency is the matriarch of ingenious contrivanceNecessity is the mother of invention
The stylus is more potent than the claymoreThe pen is mightier than the sword
There is illumination at the termination of the subterranean excavationThere's a light at the end of the tunnel
(Barry Klein, Melbourne, Australia)
Contributed by Somakala Somakala, 3 September 2001

Stunted Proverbs 
Familiarity breeds contemptBUTFamiliarity breeds!
People living in glass houses should not pelt stonesBUTPeople living in glass houses should not!
Contributed by N. Venkatakrishnan, Chennai, India, August 2000.
Silicon Proverbs
  1. Home is where you hang your @
  2. The e-mail of the species is more deadly than the mail
  3. A journey of a thousand sites begins with a single click
  4. You can't teach a new mouse old clicks
  5. Great groups from little icons grow
  6. Speak softly and carry a cellular phone
  7. C:\ is the root of all directories
  8. Don't put all your hypes in one home page
  9. Pentium wise; pen and paper foolish
  10. The modem is the message
  11. Too many clicks spoil the browse
  12. The geek shall inherit the earth
  13. A chat has nine lives.
  14. Don't byte off more than you can view.
  15. Fax is stranger than fiction
  16. What boots up must come down
  17. Windows will never cease
  18. In Gates we trust
  19. Virtual reality is its own reward
  20. Modulation in all things
  21. A user and his leisure time are soon parted
  22. There's no place like home.com!
  23. Know what to expect before you connect
  24. Oh, what a tangled Web site we weave when first we practice
  25. Speed thrills
  26. Give a man a fish and you feed him for a day; teach him to use the Net and he won't bother you for weeks
New Proverbs
  1. If you're too open-minded, your brains will fall out.
  2. Age is a very high price to pay for maturity.
  3. Before you criticize someone, walk a mile in his shoes. That way, if he gets angry, he'll be a mile way - and barefoot.
  4. Going to church doesn't make you a holy person any more than going to a garage makes you a mechanic.
  5. Artificial intelligence is no match for natural stupidity.
  6. A clear conscience is usually the sign of a bad memory.
  7. A closed mouth gathers no feet.
  8. If you must choose between two evils, pick the one you've never tried before.
  9. My idea of housework is to sweep the room with a glance.
  10. Not one shred of evidence supports the notion that life is serious.
  11. It is easier to get forgiveness than permission.
  12. I have found at my age going bra-less pulls all the wrinkles out of my face.
  13. For every action, there is an equal and opposite government program.
  14. If you look like your passport picture, you probably need the trip.
  15. Always yield to temptation, because it may not pass your way again.
  16. A conscience is what hurts when all your other parts feel so good.
  17. Eat well, stay fit, die anyway.
  18. No husband has ever been shot while doing the dishes.
  19. Men are from earth. Women are from earth. Deal with it.
  20. It's amazing what you won't find if you don't look for it, especially if it's not there. (Thanks to Mark O'Reilly, Dundee, Scotland.)

Proverb completion
A first grade teacher collected old, well known proverbs.  She gave each child in her class the first half of a proverb, and had them come up with the rest.
  1. As you shall make your bed, so shall you..........mess it up
  2. Better to be safe than....................punch a 5th grader
  3. Strike while the................................bug is close
  4. It's always darkest before.............daylight savings time
  5. You can lead a horse to water but.......................how?
  6. Don't bite the hand that.........................looks dirty
  7. A miss is as good as a...................................Mr.
  8. You can't teach an old dog new..........................math
  9. If you lie down with the dogs, you'll.....stink in the morning
  10. The pen is mightier than the............................pigs
  11. An idle mind is.........................the best way to relax
  12. Where there's smoke, there's.......................pollution
  13. Happy the bride who......................gets all the presents
  14. A penny saved is.....................................not much
  15. Two's company, three's..........................the musketeers
  16. Laugh and the whole world laughs with you, cry and....you have to blow your nose
  17. Children should be seen and not..........spanked or grounded
  18. When the blind leadeth the blind..........get out of the way
  19. Better late than.....................................pregnant

Donna Austin writes from Australia (25 August 2004):
Hi my son Jackson is 11 and he completed this proverb like this:
Every dog has its ……………kennel
Miscellanea
  1. A tree never hits an automobile except in self defense


Please contribute a proverb to this page, along with your name and location. 
  
 
Chinese Proverbs
Proverb Resources
English-Spanish proverbs

Es Kado Untuk Israel

Tags

“Es Kado! Es Kado! Es Kado!” Aku berteriak teriak di antara kamp militer Israel di Palestina, pekerjaan yang sudah 2 tahun kugeluti. Debu-debu berterbangan kesana kemari di antara puing rumah hancur warga yang di bom tentara zionis, aku kini berdiri di bawah pohon zaitun yang rimbun, melayani anak-anak Yahudi membeli es krim yang kujual ini, di cuaca yang sangat panas siang ini 2 jam saja aku akan membawa kaleng kosong di gerobakku dan beberapa dirham uang.
2 Tahun yang lalu Aku di nobatkan sebagai Intelijen muda terbaik Indonesia oleh ketua BIN, acara yang mewah tapi rahasia di sebuah basement kantor yang sedang di bangun. Kepala BIN sanggat bangga terhadap aksi-aksiku mengungkap kejahatan kelas kakap di Indonesia.  Prestasiku terakhir adalah menemukan pelarian Edi Tansil.  Sebagai hadiah atas prestasiku itu aku di kirim ke Amerika untuk latihan bersama CIA, umurku saat itu baru 20 tahun, spesialisasiku adalah penyamaran.

                Aku menumpang pesawat komersil. Menyamar sebagai seorang kakek yang ingin liburan ke Hawaii, berbaju kemeja pantai kuning bergambar pepohonan kelapa serta matahari terbenam. Aku berkalung batu akik biru. Di dalam kalung terdapat alat pelacak di mana tempatku berada. Aku menolak alat pelacak yang di suntikkan kekulit. Alasanku di suntik itu Sangat sakit dan kulitku gampang iritasi. Padahal di sana aku berniat lain.

                “Can I see your ticket Sir?” tanya petugas bandara America
                “Sure” kataku, dia membolak balikkan tiketku dan menatapku.
“Saiful Jamil! The singer!!” katanya memelukku.
“Can we take picture together!” dia mengambil kamera ponselnya dan memotret. Aku tersenyum dan bilang “Thank you!” No no no, I’m the one who have to say thank you. Dia berkata lagi.

                Aku mencari-cari dimana jemputanku. Aku duduk di terminal bandara. Bangku kayu yang panjang. Daki manusia amerika dimana mana. Kulihat juga bekas liur. Pasti semalam ada tunawisma yang tidur di sini. Dua orang Men In Black datang kepadaku, mencurigakan sekali. bagaimana mereka bisa jadi agent CIA kalau begini. Dari jauh saja sudah bisa kukenal. Apa juga katanya Amerika punya agent terbaik dunia. Payah! (kataku dalam hati).

                Aku di bawa masuk dalam limousine. Di bukakan pintu. Aku duduk di mebel putih. Empuk sekali. di depanku ada meja kecil kaca tebal tanpa taplak. Di atasnya ada botol bir dan gelas berpegangan tinggi. “Welcome to America Agent R10, how is your flight?” tanya sang pembuka pintu tadi.
Aku tak menanggapi. Diam dan memandang keluar jendela. Gedung-gedung tinggi Manhattan.

                Tiba di kantor CIA aku tidak di sambut meriah. Hanya 2 orang tadi membawaku ke ruangan administrasi. Aku melepas penyamaranku, topeng orang tua, baju pantai dan topi kemping. Kini tenang terasa berdiri di wajah sendiri. Bos di ruang administrasi agen Carter. Tertulis di meja kerjanya. Punya luka di wajah. Bekas bom biologi. Nampak seperti bulatan-bulatan yang terbakar seperti air mendidih.

“Sit!” katanya. (dalam hatiku berkata you too Sh*t) Lalu menggerakkan tangan sebagai kode yang lain di suruh keluar.
Aku duduk dan memandang sekitar. Peta dunia di dinding sebelah kananku. Peta elektronik. Banyak tanda merah di Afganistan, Iraq, Palestina, Iran, Suriah, Russia dan Korut. Tanda kuning di Mesir, Indonesia, Libya, Somalia dan Dubai. Di meja foto keluarga agent Carter. Kotak pulpen. Beberapa medali dan pistol. Sepertinya pelurunya kosong. Hanya untuk menakut nakuti.

                So, Sir! Do we have anything to eat here? I’m Starving. Kataku di sambut gelak tawa agent Carter.
Kfc? Mc Donald? Dunkin donuts? Katanya menyuruhku memilih.
Apa saja tuan, asal ada nasinya! Dia tertawa lagi dan kami keluar dari ruangan itu.

                Di restoran dia berbicara banyak tentang masa lalunya. Aku bertanya masa depanku disini. Dia bilang aku akan menjalankan misi-misi penting. Latihan langsung praktek katanya. Dia memproyeksikanku untuk membantu mereka menupas kejahatan di Manhattan ini. Aku bertanya kalau di new york aku harus melompat dari gedung ke gedung. Di sini aku harus apa? Dia tertawa lagi. Aku menghabiskan nasiku. Nasi India (nasi barjanji).

                Misi-misiku berjalan lancar, aku malah unggul dari agent-agent Man in Black ini. Cecunguk-cecunguk yang Cuma hebat di layar kaca. Tapi di lapangan seperti melihat malaikat maut. Agent carter sangat bangga menjadi atasanku. Dia memanggilku ke ruangnya lagi.

“listen Kid, now you have a special mission..”(katanya sambil menunjuk alat semacam antena radio ke dinding)  dia menyuruhku ke Palestina. Tapi katanya itu Israel tapi tetap hatiku berkata itu Palestina yang di jajah.  aku di suruh menyamar menjadi rakyat palestina, berbaur dan mendengarkan apa rencana mereka selanjutnya.

                Esok paginya aku bangun dengan hati gembira Shalat Subuh dan Bersyukur pada Allah. Misi pribadiku akhirnya tercapai. Ke palestina tanpa di tanya macam-macam sama babi-babi Israel. Aku mendarat di Tel Aviv. Aku sengaja memakai sarung tangan supaya tanganku tidak bersentuhan langsung dengan tangan Zionis.

                Hari hari yang membosankan berbicara dengan orang-orang Israel yang suka menyebut mereka special. Katanya kalau menyebut Israel kalian akan terbayang pebisnis sukses. Padahal kulihat di Tel Aviv. Kemiskinan dimana-mana. Hari yang membosankan kini berubah saat aku bertemu seorang teman. Tall berul. Dia ahli kapal selam. Di Tel aviv dia membuat sebuah restoran bawah laut. Dia muslim. Seorang pejuang. Dia menampakkan karyanya di ruang rahasia kantornya. Dia membuat banyak ikan paus. “ini tidak terbaca sama radar Pul” dia memanggilku pul karena  dia sudah memantauku dari pertama sampai ke Palestina. “kok bisa tak terbaca radar?” tanyaku heran.

                “Dindingnya dibuat dari sisik ikan. Setiap ikan yang di pesan orang Israel di sini kulitnya ku kupas dan kubuatkan dinding kapal. Setiap 4 bulan sebuah kapal siap dan aku kirim ke Negara Negara islam yang mendukung misi Es Kado ini” katanya sambil mengajakku masuk kedalam kapal paus. “misi Es Kado kan aku yang laksanakan?” sanggahku. “iya Pul, Israel pun tahu itu, kau di jadikan tumbal. Untuk pengalihan, Mereka pikir misi Es kado hanya untuk melacak dan mengetahui gudang senjata saja”
Jadi rencananya bagaimana?
Bersambung…   

Pidie dan Rahasianya

Tags


 Ini tulisan rahasia, jangan bilang siapa-siapa ya! Membaca tulisan ini belum pasti Anda sukses. Saya saja orang Pidie belum sukses. Rata-rata orang pidie sukses. Paling rendah kami sukses menjadi pengemis. Tanyalah pengemis di mana-mana. Mereka rata-rata pasti bilang “dari Pidie”. Itu mungkin ‘kasta’ paling rendah bagi orang Pidie nanti bila ada tersinggung dengan tulisan ini. Boleh memprotes dengan tulisan lain. Saya tidak bermaksud menjatuhkan siapa-siapa, apa lagi menjatuhkan bangsa sendiri. Saya hanya ingin memuji kampung kelahiran saya.
Peraturan pertama kesuksesan orang sigli adalah jangan tinggal di kampung. Karena kata pepatah nenek goyang kami “mita raseuki bak lee tapak ureung” maka dimana ada keramaian di situ ada orang Sigli. Blok M, Medan dan kota-kota besar Indonesia sampai dunia ada orang Pidie. Kemarin saya baru ditelpon sama teman saya yang dulu terlunta-lunta di kampung. Dia sekarang di Dubai. Pekerjaannya laundry di kapal pesiar. Subhanallah. Rencana Allah luar biasa.
Peraturan kedua orang Sigli itu sabar. Tidak semua. Saya bukan tipe ini. Saya orangnya tak sabaran. Seorang pengusaha di Malaysia pergi ke sana bermodalkan air mata. Naik boat nelayan. Lalu kerja di tempat Cina. Tidak dibayar apa-apa. Dia hanya di beri makan 3x. tapi dia tetap bersabar sambil belajar bagaimana cara Cina itu bekerja. Lama-kelamaan karena kejujurannya dia diangkat menjadi manager dan dibayar. Setelah punya cukup modal, dia berjualan sendiri dan kini sukses jadi konglomerat di negara tetangga. Untung kemarin nenek moyang kami tidak bilang “kejarlah cita-citamu sampai ke negeri tetangga” kalau itu dibilang, orang Pidie rata-rata di Malaysia.
Malaysia adalah negara yang banyak orang Pidienya. Nekat betul bangsa kami naik kapal nelayan melalui Laweung. Demi mencari penghidupan lebih baik di sana. Bekerja sebagai buruh bangunan. Buruh pabrik. Jualan. Jualan ganja. Sabu dan ada juga yang jual ya, jual itu. Masak tak tahu.
Orang Malaysia yang malas dan gengsi dimanfaatkan dengan baik oleh orang Sigli yang rajin. Kerja yang tidak mau dikerjakan oleh bangsa Malay, dikerjakan oleh orang Siglay. Sukseslah beberapa. Dan beberapa lain masuk penjara.
Peraturan selanjutnya, level sedikit lebih pintar dari masyarakat Pidie adalah kata-kata nenek moyang selanjutnya “Ureung Aceh Buet beu kureung, peng beulubeh” Ini mungkin seperti prinsip ekonomi “dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan laba sebesar-besarnya” Kami mencari kerja yang banyak labanya. Misalnya jualan kelontong. Jualan pakaian. Buka warung kopi. Toko pecah belah. Jaga toko. Pokoknya kerja yang santai tapi duitnya banyak.
Seperti kata pak camat Silih Nara, Takengon pada saya saat saya KKN di sana, saat dia tahu saya dari Pidie “Saya heran sama kalian (orang Pidie). Kami (orang Gayo) capek-capek menanam kopi. Naik ke atas gunung, mencangkul tanah, merawat, memetik, mengangkut. Datang kalian theun umpang di miyup” Maksudnya masyarakat gayo yang menanam kopi, masak orang sigli yang membelinya dan menjual lebih mahal. Itu di beberapa tempat. Tidak semua Takengon.
Orang Pidie yang sukses tidak menjamin daerah Pidie maju. Lihatlah dimana toko yang paling besar punya orang Sigli. tentu saja bukan di kampungnya. Tapi di kota orang. Karena ya itu tadi peraturan pertama. Orang sigli tak akan sukses di kampung sendiri.

Gubernur Aceh Larang Yang Bukan Muhrim Berboncengan

Tags
Setelah Walikota Lhoksemawe menghimbau warganya agar tidak duduk secara mengangkang, kini gubernur Aceh merencanakan hal itu di berlakukan di seluruh Aceh. bahkan saat di temui di warung makan serba lima ribu di kawasan kabupaten Batoh beliau mengatakan "Mulai bulan depan, Aceh bebas dari warga yang berboncengan bukan muhrim" demikian mimpi saya semalam.