Akbar Adikku


Hujan dibulan Desember ini beberapa hari deras. Kalau datang di pagi hari, membuat mata yang sudah melek, karena harus membuka pagar yang keratan. Mengeluarkan motor yang besar melalui pintu rumahku yang kecil, harus hati-hati agar tidak menyenggol motor lain di dalam rumah. Apalagi kalau menyengol motor merah punya adik. Dia akan MABES (Marah BEsar).
Mata yang melek tak bisa diajak tidur lagi, walaupun di rayu oleh hujan yang deras dan selimut lembut buatan Iran. Lalu terpaksa meraba laptop. Yang sudah 6 jam terhibernate karena tombol Shut downnya sudah tidak lagi berfungsi.
                Tapi tulisan ini bukan tenang hujan yang di dramakan, bukan tentang pintu kecil  yang karatan, juga bukan tentang motor yang besar. Tapi tentang seseorang. Seseorang yang sudah 16 tahun hidup bersamaku. Kadang dia kutampar, kadang kubawa ke masjid. Juga kadang kuberi uang. Untuk membeli ikan peliharaan. Dia adalah adekku. Adekku ke 4 dari 2 bersaudara, bagaimana itu?
                Namanya hampir sama dengan namaku. Kalau aku Iqbal dia bernama Akbar. Sejak kecil dia adalah adik yang membosankan. Si tukang nangis. Si yang permintaannya harus di kabulkan kalau tidak dia akan memecahkan barang-barang. Pernah di injak sama Ayah. Nakal luar biasa dan anti social. Anak yang selalu di rumah kalau pulang sekolah Karena dia kurang pandai bergaul.
                Mau jadi apa dia kalau nanti besar? pikirku, anak yang suka pindah-pindah sekolah. Pernah berantam sampai hilang semua gigi depannya.  Cengengesan sana-cengengesan sini. Yang dia bisa Cuma menanam ini-menanam itu dan memelihara ini-memelihara itu.
                Awal kariernya menanam adalah menanam pohon jagung di belakang rumah. Dengan tanah kering dekat laut, dan pupuk seadanya. Dari awal ini aku berfikir tidak akan berhasil. Aku diamkan saja, karena tidak boleh mematahkan semangat anak di usia labil. Dan ternyata yang aku pikirkan benar. Pohon jagungnya tumbuh. Tapi buahnya masih harus beli di pasar. Yang berhasil tumbuh dan berbuah di belakang rumah hanya pohon pisang dan pohon coklat, itupun ayah yang menanamnya.
                Lalu dia benting stir jadi pemelihara binatang. Dia memelihara ikan hias di depan rumah. Ini menuai sukses besar dan di terima oleh masyarakat luas di kalangan anak-anak. Anak-anak sepulang sekolah selalu menghampiri kolam ikan kecil di depan rumah kami. Melihat-lihat dan kagum. Menunjuk-nunjuk seolah mereka tahu semua nama ikan di kolam itu.
                Tahun berikutnya dia mulai menunjukkan jiwa Siglinya. Dia mulai menjual anak-anak ikan itu dengan harga yang sangat murah. Seribu rupiah! Menggebrak harga pasar. Dan membuat Toke ikan Hias Cina di Sigli, bangkrut! Tapi masa kejayaan ikan itu sirna ketika mama mengepel lantai dengan produk porcelen baru. Air pel yang merembes ke teras, meliuk-liuk perlahan masuk ke kolam si Akbar, menewaskan semua penduduk kolam. Ikan merah, putih, hitam, warna warni, ikan mas kesayanganku-padahal mau kujadikan mahar- semua meregang nyawa. Menghancurkan dunia bisnis perikanan Akbar. Membuat klien dari berbagai desa kecewa.
                Dia galau, muka merengut sepanjang hari. Mulut selalu mengoceh kekecewaannya.  Dia merusak lemari kamarnya. Dan pergi kepasar, membeli seekor hamster. Bagiku hamster hanya tikus yang beruntung. Bulunya yang tebal dan ikornya yang pendek membuat dia sedikit disukai.
                Ayah pulang dan melihat bencana yang begitu besar dirumah. Beliau berdiri sejenak dan melepas helemnya. Seperti mengheningkan cipta di depan kuburan ala Amerika. Lalu menuju kamar Akbar dan mencoba menghiburnya.
“Kenapa kamu rusak lemari?” Ayah ingin memarahi tapi dia melihat kelemari “I in ini tikus apa kenapa besar sekali?” niat ayah memarahi jadi keheranan yang luar biasa. Padahal ayah tahu itu hamster tapi dia ingin membuat Akbar tersenyum. Dan itu berhasil.
                Keesokan harinya ayah membuatkan Kandang untuk ‘tikus’ itu. Di taruh di depan kamarku. Aku bahkan tak pernah memperhatikannya. Yang aku tau itu hamtaro makan kuaci. Sampai suatu pagi. Aku harus mengantri mandi. Kulihat ada tauge di atas kandang hamster. Ini pasti mama salah taruh sayuran, seharusnya Tauge ada di dalam kulkas. Aku melihat kanan-kiri tak ada orang, hanya suara percikan air di kamar mandi.
                “bagaimana kalau kita berekperimen, kita kasih tauge ini ke Hamster?” kataku dalam hati. Aku membuka kandanya dan melemparkan segengam Tauge ke dalam kandang. Hamster terkejut dan meraih sebatang tauge. Memegang batang itu dengan kedua tangannya dan makan sambil berdiri, sehabis beberapa kali kunyah dia menatap kearahku. Matanya yang kecil dan kedua tangannya yang sedang memegang tauge membuat aku terpana. “Lucu juga tikus ini” kataku dalam hati. Dia mengunyah lagi, dan melihatku lagi. Seakan-akan dia berkata “Terimakasih abang yang baik” lalu Akbar keluar dari kamar mandi, aku pura-pura melihat kea rah lain. Baru tahu aku hamster itu makan sayuran juga. Beberapa hari lalu hamster kami melahirkan 4 orang anak! Orang? Maksud saya melahirkan 4 binatang anak.
                Sambil memelihara Hamster Si Akbar juga rajin latihan Kempo. Di depan mantan kolam ikannya dia mengikat satu ban bekas untuk di tending-tendangnya. Aku rajin mengantarkannya pergi latihan ke GOR. Ya daripada di rumah terus mendingan dia melakukan sesuatu yang bermanfaat.
                Nilai sekolah dia anjlok. Dia mendapat tiga C di rapor. Rekor keluarga! Anak-anak mama yang lain nilainya selalu bagus. Di sekolah! Di kuliah ya D aku pernah (bangga). Dia sibuk latihan Kempo, jarang sekolah. Selalu kenak marah mama kalau dia dapat nilai jelek. Anak ini memang tak bisa di andalkan pikirku.
                Suatu hari dia bilang “Abang nontonlah adek turnamen di Banda, Turnamen Kempo Suzuki.”
“abang ngajar dek” kataku. “Good luck” kataku dalam hati. Apa yang terjadi di turnamen? Dia Juara 1! Membawa pulang medali Emas.  Mama begitu bangga dan menceritakan ke seluruh tetangga. Pria yang membosankan kini sudah mulai menunjukkan apa yang dia bisa.

                

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus