Es Kado Untuk Israel


“Es Kado! Es Kado! Es Kado!” Aku berteriak teriak di antara kamp militer Israel di Palestina, pekerjaan yang sudah 2 tahun kugeluti. Debu-debu berterbangan kesana kemari di antara puing rumah hancur warga yang di bom tentara zionis, aku kini berdiri di bawah pohon zaitun yang rimbun, melayani anak-anak Yahudi membeli es krim yang kujual ini, di cuaca yang sangat panas siang ini 2 jam saja aku akan membawa kaleng kosong di gerobakku dan beberapa dirham uang.
2 Tahun yang lalu Aku di nobatkan sebagai Intelijen muda terbaik Indonesia oleh ketua BIN, acara yang mewah tapi rahasia di sebuah basement kantor yang sedang di bangun. Kepala BIN sanggat bangga terhadap aksi-aksiku mengungkap kejahatan kelas kakap di Indonesia.  Prestasiku terakhir adalah menemukan pelarian Edi Tansil.  Sebagai hadiah atas prestasiku itu aku di kirim ke Amerika untuk latihan bersama CIA, umurku saat itu baru 20 tahun, spesialisasiku adalah penyamaran.

                Aku menumpang pesawat komersil. Menyamar sebagai seorang kakek yang ingin liburan ke Hawaii, berbaju kemeja pantai kuning bergambar pepohonan kelapa serta matahari terbenam. Aku berkalung batu akik biru. Di dalam kalung terdapat alat pelacak di mana tempatku berada. Aku menolak alat pelacak yang di suntikkan kekulit. Alasanku di suntik itu Sangat sakit dan kulitku gampang iritasi. Padahal di sana aku berniat lain.

                “Can I see your ticket Sir?” tanya petugas bandara America
                “Sure” kataku, dia membolak balikkan tiketku dan menatapku.
“Saiful Jamil! The singer!!” katanya memelukku.
“Can we take picture together!” dia mengambil kamera ponselnya dan memotret. Aku tersenyum dan bilang “Thank you!” No no no, I’m the one who have to say thank you. Dia berkata lagi.

                Aku mencari-cari dimana jemputanku. Aku duduk di terminal bandara. Bangku kayu yang panjang. Daki manusia amerika dimana mana. Kulihat juga bekas liur. Pasti semalam ada tunawisma yang tidur di sini. Dua orang Men In Black datang kepadaku, mencurigakan sekali. bagaimana mereka bisa jadi agent CIA kalau begini. Dari jauh saja sudah bisa kukenal. Apa juga katanya Amerika punya agent terbaik dunia. Payah! (kataku dalam hati).

                Aku di bawa masuk dalam limousine. Di bukakan pintu. Aku duduk di mebel putih. Empuk sekali. di depanku ada meja kecil kaca tebal tanpa taplak. Di atasnya ada botol bir dan gelas berpegangan tinggi. “Welcome to America Agent R10, how is your flight?” tanya sang pembuka pintu tadi.
Aku tak menanggapi. Diam dan memandang keluar jendela. Gedung-gedung tinggi Manhattan.

                Tiba di kantor CIA aku tidak di sambut meriah. Hanya 2 orang tadi membawaku ke ruangan administrasi. Aku melepas penyamaranku, topeng orang tua, baju pantai dan topi kemping. Kini tenang terasa berdiri di wajah sendiri. Bos di ruang administrasi agen Carter. Tertulis di meja kerjanya. Punya luka di wajah. Bekas bom biologi. Nampak seperti bulatan-bulatan yang terbakar seperti air mendidih.

“Sit!” katanya. (dalam hatiku berkata you too Sh*t) Lalu menggerakkan tangan sebagai kode yang lain di suruh keluar.
Aku duduk dan memandang sekitar. Peta dunia di dinding sebelah kananku. Peta elektronik. Banyak tanda merah di Afganistan, Iraq, Palestina, Iran, Suriah, Russia dan Korut. Tanda kuning di Mesir, Indonesia, Libya, Somalia dan Dubai. Di meja foto keluarga agent Carter. Kotak pulpen. Beberapa medali dan pistol. Sepertinya pelurunya kosong. Hanya untuk menakut nakuti.

                So, Sir! Do we have anything to eat here? I’m Starving. Kataku di sambut gelak tawa agent Carter.
Kfc? Mc Donald? Dunkin donuts? Katanya menyuruhku memilih.
Apa saja tuan, asal ada nasinya! Dia tertawa lagi dan kami keluar dari ruangan itu.

                Di restoran dia berbicara banyak tentang masa lalunya. Aku bertanya masa depanku disini. Dia bilang aku akan menjalankan misi-misi penting. Latihan langsung praktek katanya. Dia memproyeksikanku untuk membantu mereka menupas kejahatan di Manhattan ini. Aku bertanya kalau di new york aku harus melompat dari gedung ke gedung. Di sini aku harus apa? Dia tertawa lagi. Aku menghabiskan nasiku. Nasi India (nasi barjanji).

                Misi-misiku berjalan lancar, aku malah unggul dari agent-agent Man in Black ini. Cecunguk-cecunguk yang Cuma hebat di layar kaca. Tapi di lapangan seperti melihat malaikat maut. Agent carter sangat bangga menjadi atasanku. Dia memanggilku ke ruangnya lagi.

“listen Kid, now you have a special mission..”(katanya sambil menunjuk alat semacam antena radio ke dinding)  dia menyuruhku ke Palestina. Tapi katanya itu Israel tapi tetap hatiku berkata itu Palestina yang di jajah.  aku di suruh menyamar menjadi rakyat palestina, berbaur dan mendengarkan apa rencana mereka selanjutnya.

                Esok paginya aku bangun dengan hati gembira Shalat Subuh dan Bersyukur pada Allah. Misi pribadiku akhirnya tercapai. Ke palestina tanpa di tanya macam-macam sama babi-babi Israel. Aku mendarat di Tel Aviv. Aku sengaja memakai sarung tangan supaya tanganku tidak bersentuhan langsung dengan tangan Zionis.

                Hari hari yang membosankan berbicara dengan orang-orang Israel yang suka menyebut mereka special. Katanya kalau menyebut Israel kalian akan terbayang pebisnis sukses. Padahal kulihat di Tel Aviv. Kemiskinan dimana-mana. Hari yang membosankan kini berubah saat aku bertemu seorang teman. Tall berul. Dia ahli kapal selam. Di Tel aviv dia membuat sebuah restoran bawah laut. Dia muslim. Seorang pejuang. Dia menampakkan karyanya di ruang rahasia kantornya. Dia membuat banyak ikan paus. “ini tidak terbaca sama radar Pul” dia memanggilku pul karena  dia sudah memantauku dari pertama sampai ke Palestina. “kok bisa tak terbaca radar?” tanyaku heran.

                “Dindingnya dibuat dari sisik ikan. Setiap ikan yang di pesan orang Israel di sini kulitnya ku kupas dan kubuatkan dinding kapal. Setiap 4 bulan sebuah kapal siap dan aku kirim ke Negara Negara islam yang mendukung misi Es Kado ini” katanya sambil mengajakku masuk kedalam kapal paus. “misi Es Kado kan aku yang laksanakan?” sanggahku. “iya Pul, Israel pun tahu itu, kau di jadikan tumbal. Untuk pengalihan, Mereka pikir misi Es kado hanya untuk melacak dan mengetahui gudang senjata saja”
Jadi rencananya bagaimana?
Bersambung…   

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus