Resensi Film The Hobbit



Di  film ini makhluk terbagi lima, oh enam atau tujuh. Satu Manusia, lalu Orc; makluk jelek, hidung hanya lobangnya saja, kumuh, bertaring, seperti troll tapi seukuran manusia rajanya saja yang agak besar, memakan daging dan meminum darah. Elf; bangsa peri seukuran manusia, cantik/ganteng dan selalu muda. Hobbit; bangsa kerdil berkaki besar seperti kelinci. Dwarf; bangsa kerdil tapi kakinya normal, di film ini mereka hidup di pimpin oleh seorang raja yang di bunuh naga dan kerajaannya diambil, jadi bangsa Dwarf terusir dari kerajaannya berkelana mencari penghidupan baru. Naga dan binatang aneh lainnya, elang yang besar bisa mengangkut manusia, serigala tunggangan. Dan yang terakhir Gandalf serta kompatriotnya Saruman, mereka manusia tapi punya kekuatan seperti dewa.

Oh hampir lupa, Smeagol! Awalnya makluk yang tak bisa berjalan tegak ini adalah manusia (atau hobbit, lupa saya) jadi dia mendapat sebuah cincin keramat. Cincin yang membuat setiap lelaki lajang akan galau melihatnya, mirip sekali dengan cincin tunangan, emas murni 24 karat, mungkin 5 mayam. Saktinya cincin ini, kalau di pake kita bisa menghilang tak Nampak dilihat orang lain, tapi kita bisa melihat orang lain. Sebagaimana kita tahu (bagi yang tahu) nanti cincin ini menjadi rebutan dan membuat dunia film ini perang. Salah seorang smegol membunuh temannya gara-gara cincin berharga ini, karena sayangnya pada cincin ini dia menyendiri, ke gua, semakin kurus dan memakan Orc, jadilah seperti dia sekarang yang banyak suaranya di pelesetkan, bahkan ada edisi bahasa Aceh yang membuat kita tidak naik ketawa.

                Sebenarnya Novel the Hobbit ini sudah ada sejak jaman dahulu kala tahun 1075, setelah novel ini baru JJ R Tolkien menulis trilogy The Lord Of The Ring. Tapi pihak Hollywood membuat film The Lord Of The Ring dulu, karena ceritanya lebih seru. Setelah trilogy ini sukses besar, lihat saja sekuel terakhir The Lord Of the Ring: the Return Of The King masuk 100 besar film terbaik dunia. Maka dari itu kaum muslimin dan muslimat Al ahya u minkum wal amwat, film ini di buat, baru minggu pertama di rilis, langsung jadi trending topic di IMDB (Internet Movie Di Banda).

                Film ini diawali dengan kejayaan dan kehancuran kerajaan Dwarf dalam sepuluh menit, lalu di arahkan kameranya ke kesunyian hidup hobbit. Hobbit itu sebenarnya pelesetan dari Rabbit, rumah hobbit di lubang tanah juga seperti kelinci, bersih dan suka menyimpan makanan. Lihat orang jaman dulu saja sudah memakai plesetan, kenapa kita tak boleh?

                Misi film ini adalah merebut kerajaan Dwarf kembali, melewati kerajaan Orc yang kejam.  Itu saja sebenarnya misinya, tapi visual film ini luar biasa. Kalau kita sudah menonton The lord of the ring pasti rindunya pada film seperti itu akan terobati. Juga petualangan seru seperti Ice Age akan kita dapati. Film yang berdurasi 2 jam lebih ini cocok di nonton bersama keluarga. Karena Cuma 6 wanita yang Nampak di film, berbaju sopan Cuma kasihan tak memakai jilbab.

                Cowok-cowok di film ini shalih semua, bisa di lihat dari jenggotnya. Kaum Dwarf semuanya berjenggot, dari raja sampat rakyat jelata, panjang-panjang lagi. Gandaf dan Syaruman juga berjenggot, Cuma hobbit dan Elf yang tidak. Itu kalau kesolehan seseorang di lihat dari jenggot. Sering-seringlah Hollywood buat film seperti ini, jangan mengandalkan cewek seksi. Sebenarnya boleh saja ada cewek seksi di film asalkan mereka menutup aurat dengan sempurna. Atau seksi konsumsi.


#menulis 500 kata sehari 

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus