Virus FLP


Pertama aku dikenalkan ke FLP oleh nenek Safrina pelangi. Saat itu aku masih mahasiswi di sebuah fakultas terkemuka di dunia IAIN Ar-Raniry. Waktu dikenalkan aku langsung ketemu sama pendirinya Asma Nadia. Dulu FLP di seputaran Darusalam kalau tidak salah sekretariatnya. Tapi aku tidak langsung bergabung, karena saat itu aku sedang fokus pada BEMA IAIN dan fokus jalan-jalan ke pantai di sekeliling Aceh.

          Tapi bertemu dangan anggota-anggota FLP yang shalih semakin membuat syaitan-syaitan dalam hidupku tidak nyaman. Mereka selalu kutemui di masjid-masjid, dengan gaya sopan santun dan tidak menarik sedikitpun. Tiba-tiba  Acara-acara yang mereka adakan aku selalu hadir di garda depan. bertemu lagi dengan penulis besar –badannya- RH. Fitriadi, bocah yang menulis buku tentang Palestina.

          Saat itu hidupku masih berwarna-warni, shalat tidak selalu jamaah, suka mencukur jenggot dan masih suka ke pantai. Lalu seringnya bertemu mereka, virus kembali kejalan yang lurus mulai menjangkitiku. Aku mulai membaca tulisan-tulisan anggota FLP. Pertama kali tulisan Ferhat. Lakon … aku lupa judulnya, lalu tulisan Riza Rahmi yang rapi dan satrawi. Lalu puisi-puisi Anugrah Robi, blog Nuril Anissa dan Ade serta tulisan lelaki angin-anginannya Baiquni.

          Aku mulai semangat lagi untuk menulis. Setelah sukses puisiku masuk majalah SMU dulu, itupun karena tidak ada siswa lain yang mau menulis masa itu, aku ingin mengulang sukses itu.  Aku mendaftar, di wawancara oleh Riza Rahmi tapi dia bilang “Rio tak perlu di wawancara” aku senang sekali. Tinggal ikut inagurasi.

          Waktu inagurasi, aku satu-satunya lelaki. Yang lain anggotanya perempuan semua. Aku tambah senang. Tapi sialnya ada panitia juga banyak yang laki-laki. Ada Daman, Ibnu, Fakrizan, Robi dan sesekali Hilal serta RH fitriadi.

          Itu tahajjud pertamaku di tahun itu. Ibnu yang menjadi imam. Setelah itu muhasabah membuatku menangis. Kenapa hidupku berwarna gelap begini –rupanya lampu dimatikan- aku berjanji malam itu untuk lebih taqwa dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak mau ke pantai lagi.

          Mulailah acaranya, aku di dakwahi harus menulis dengan niat karena Allah. Aku membantah. Karena tulisanku kuniatkan selalu supaya aku senang. Tidak ada niat apa-apa. Lalu di ceramahi tulisan kita harus islami. Aku iya iya saja. Tapi ustad ceramah itu benar-benar sesuatu. Dia bilang dunia ini memang islami. Semua yang Allah suruh itu demi kebaikan manusia.

          Semakin aku tak mengerti tapi kuikut saja. Baru beberapa hari di bina FLP tulisan aku masuk ke Koran Atjeh Post. Lalu aku banyak menelurkan tulisan yang semakin baik setiap minggunya. Kritik dan saran selalu berdatangan dari mereka yang shalih-shalih itu. Itu semua membuatku semakin semangat dan semakin ingin memperbaiki diri.

          Sekarang Alhamdulilah hidupku tidak berwarna hitam lagi. Sudah shalat jamaah, ikut pengajian setiap malam kamis-jum’at. Menulis yang baik-baik, dan bergaul dengan orang-orang yang baik. Tapi orang jahat di kawani juga kadang-kadang.

          Selama di Flp aku jadi rajin membaca, tentunya yang pertama Serambi Indonesia. Karena selalu tergeletak lesu di depan rumah setiap pagi. Lalu buku-buku yang aku pinjam. Dan entah kemasukan jin apa, aku kadang-kadang sudah suka membeli buku. Tapi belum membeli buku yang di jual oleh pak ketua Flp Anugrah Robi, karena dari judul buku yang di tawarkan, belum ada yang menarik hatiku.

          Pengalaman yang menarik dalam dunia kepenulisan bersama Flp banyak. Yang pertama ada seorang teman, yang baru meninggal mamanya. Di bunuh dengan sadis. Anak itu sedih dan dia buka facebook, dia menemukan 100 tulisan saya, dia baca semua. Dan dia bersemangat kembali. Katanya “Rupanya bang, aku masih bisa tertawa setelah semua ini menimpaku” aku terperanjat. Apa yang sudah kulakukan!

          Kedua ibu-ibu “Tag lagi ibu ya nak? Tulisan kamu bisa menghilangkan stress” ketiga bapak-bapak wartawan “Sampah begini banyak juga yang baca ya?” katanya mengomentari tulisan aku yang banyak likes nya. Keempat Anak gadis tak berjilbab “B4ng, MwU G4 JJ mach aKoh” aku tolak. Keenam ada nenek-nenek “Cucu, bantu nenek menyebrang jalan” aku sebrangi. Ketujuh ada Ninja “Tulisan kamu hambar” Biarkan saja, orang berkata. Kataku.

          Dari semua yang kulakukan, ternyata aku bisa memberi manfaat bagi orang. Bahagia rasanya. Apalagi saat Ferhat bilang “ hahhahahhah... pulang kerja baca ini, bikin stress hilang. rio gila!! hahaaa...” sungguh sangat senang bisa menyenangkan orang lain. Rupanya menulis itu bisa menambah berat badan. baru Tahu.


         
          

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus