Monday, July 15, 2013

Kalau Ramadhan Tak ada setan, Kamu Setannya!

Tags

            Sebenarnya bulan itu ada dua. Satu bulan di langit, satu lagi di kalender. Kasian bulan madu tak masuk hitungan  Karena yang tulis ini tak kenal sama bulan yang itu. Bulan di kalender terbagi 12, bulan di langit pernah juga terbagi dua, tapi  setelah di belah bersatu lagi. Itu terjadi  di jaman Nabi kita Muhammad SAW.

Hadirnya bulan puasa, begitu special di desa-desa dan kota. Orang yang tak biasa ke musalla, kini berdesak-desakan hadir di malam pertama tarawih. Termasuk saya. Bang neymar jualan siomay, Bang Jo jualan kacang ijo dan bang Din Jualan udang pancing, semua ke musalla malam ini.

            Saya telat datang, terpaksa pulang balik ngambil tikar, karena tak muat lagi di dalam. Tapi tidak waktu puasa saja musalla kami penuh, waktu pembagian kompor gratis juga penuh loh! Malah itu ibu-ibu semua, ngantri sampai luar pagar.

            Dan bulan puasa bulan penuh berkah, rahmah dan magfirah. Anak-anak gadis yang biasa berlengak lengok di jalan desa dengan baju tidur, kini mulai berjilbab kemana-mana. Shubuh-shubuh sudah menenteng mukena, menuju musalla kami tercinta. Sialnya bagiku pagi itu, aku kemasjid karena kupikir di masjid lebih banyak jamaahnya dan ada ceramahnya, ternyata iya!

            Sepulang dari masjid baru terasa sialnya. Bukan hilang sandal seperti biasa, tapi anak muda kota yang pulang berpasangan. Ini masih belum jam enam. Cuaca masih dingin menusuk tulang dan hal ini di manfaatkan oleh mereka untuk jalan-jalan. Setelah shalat fajar bareng, yang pahalanya lebih baik dari langit bumi dan seisinya. Kini mereka menambah dengan maksiat yang dilipat gandakan dosanya di bulan mulia ini.

            Aku pikir kegiatan pacaran ini akan berhenti di bulan suci ini. ternyata oh ternyata. Mana janji pemerintah kalau pasangan bukan muhrim tak boleh di satu motor kecuali di kejar harimau? Kalau minuman keras sumber dari semua kejahatan, saya pikir pacaran itu adalah sumber segala maksiat.

            Lebih parah lagi saat tarawih. Izin di rumah pergi tarawih, rupanya jalan-jalan sama pacar! Kalau dulu Cuma malam minggu, kini semua malam jadi malam minggu. Malah akan membludak malam jum’at. Yang seharusnya kita di rumah baca Yaasin dan Al-Kahfi. Ini malah mencari murka Ilahi di jalan-jalan kota.

            Padahal betapa Allah mengatur kita sangat sempurna. Bulan puasa ini semua kegiatan lagha (sia-sia) di hentikan, misalnya nongkrong di warung kopi, tak bisa dilakukan lagi bulan ini. setan-setan di belenggu. Jadi tak ada lagi yang menggoda kita untuk bermaksiat. Tapi kenapa banyak juga terjadi maksiat? Apa hati kita yang sudah sangat bersih! bersih dari iman.

            Beberapa mala mini saya pergi tarawih, dengar ceramah. Yang mencengangkan pertama kata pak ustad adalah hadits nabi “satu huruf saja kit abaca Al-qur’an di bulan Ramadhan, itu kita dapat 700 kebaikan” lalu habis ceramah itu saya langsung pulang, cari dimana Qur’an saya. Setelah setengah jam, rupanya Al-qur’an itu di atas lemari, sudah berdebu. Kalau Al-Qur’an itu pacar saya, mungkin saya akan di tampar dan dia akan berkata.

            “Kamu kemana aja, telpon gak pernah, sms gak pernah?! Kita putus!” ya udah putusin aja, kan pacaran itu haram.

            Awal Ramadhan selalu ku isi dengan kesolehan yang teramat sangat. Ngaji, baca qur’an. Shalat, shalat malam. Tapi pertengahan sudah mulai aneh, selalu terpikir untuk baju baru. Bantu-bantu nyakwa bungkusin parsel, kerja siang malam dan jauh dari Al-qur’an lagi demi mengejar materi bahan baju koko untuk Idul fithri. Semoga tahun ini gak lagi. Amin.

            #FLPMengguncangRamadhan

           

           

           


            

2 comments


EmoticonEmoticon