Friday, August 9, 2013

Lebaran dong!

Tags
 Betapa hancurnya hati kita, saat kita berpakaian bagus pergi Shalat Ied tapi ada anak yang masih ingusan, belum di mandikan sama ibunya dan berdiri di samping jalan menadah tangan dan berkata “Bang, bi peng siribei”
“keupe” tanyaku.
“yak bloe marcon” katanya
“apam!” kataku. Aku kasih dua ribu dan kubilang “Bloe kueh, bek bloe marcon (petasan)” udah kurang pahala ini sebut-sebut amalan.

                Bahagia di hari raya. Bahagia bagaimana itu? Apakah bahagia karena baju baru? Silop baru dan seluar baru? Bahagia anak-anak biasa disini adalah bisa silaturrahman kerumah-rumah tetangganya, bahkan yang tidak di kenal mereka. membawa senjata mainan, Celana jeans bergambar, yang kecil lagi bawa balon tiup bening dan yang kecil cewek ada bawa boneka berbie tak tutup aurat.

                Usia bahagia mereka sampai SMP kelas dua. Kita harus menyiapkan pecahan dua ribu yang banyak di hari lebaran, menyambut mereka. mereka bukan datang untuk ngobrol. Karena banyak rumah yang harus mereka kunjungi.

                Ini menjadi sebuah fenomena baru di kota saya. Dulu kayaknya gak ada waktu saya kecil kerumah-rumah warga bawa senjata. Kalau dulu orang dewasa yang kerumah bawa senjata. Dan senjatanya di pakai untuk menembak kalau kita tersangka bersalah terduga pemberontak.

                Waktu saya kecil, hari-hari perdana Ied itu gak mau pisah-pisah sama mama dan ayah. Ikut kemana mereka pergi. Kalau ke keluarga kaya di kasih 20ribu. Kalau keluarga kaya tapi pelit di kasih sepuluh ribu, dank e keluarga yang sederhana di kasih lima ribu. Mungkin kalian juga. Begini seperti aku. Perkerjaan di hari lebaran adalah ikut orang tua.

                Tapi sekarang sudah dewasa, umur sudah enam puluh dua. Tapi hari pertama wajib ikut keluarga. Karena ziarah ke kuburan dua kakekku dan satu nenek. Hari kedua baru pergi ziarah ke teman masing-masing. Ziarah ke teman-teman yang masih hidup.

                Ternyata tinggal di kota kumuh ini tidak seru saat lebaran. Lebih indah di desa. Kalau di desa pigi ke masjid untuk Shalat Ied jalan kaki. Bisa salaman sana-sini. Kalau kemarin harus pergi pakai motor. Karena Chelsea Vs Real Madrid mainnya jam setengah Sembilan, jadi rencana kabur saat ceramah.

                Kalau di desa semua orang kita kenal, bisa kita salami dan tau bercandanya apa. Tapi di kota, salaman aja segan. Ini siapa? Nanti di Tanya. Mampus lah saya, gak tau saya siapa. Kalau anak gadis tidak haram di salami pas di tanyak. “ini siapa ya?” mungkin kita berkilah.

“Abang memang bukan siapa-siapa, tapi abang akan membahagiakan kamu selamanya” Yohuhuhu.

                Makanya setelah shalat ied kami sekeluarga langsung pulang kampung. Di sana di sambut meriah oleh nenek karena kita bersimpuh di lututnya, kalau dulu niatnya biar dapat sepuluh ribu. Tapi sekarang alasannya lebih keren, meminta maaf, mengikuti apa yang telah di lakukan mama puluhan tahun.

                Di sambut dengan kopi yang di tumbuk sendiri oleh nenek, dan timphan dan kobokan dan air cuci tangan dalam mangkuk kecil bening berbunga kamboja di atas meja. Tetangga-tetangga di kampung juga pembuat lontong paling enak hari ini. jadi tak perlu makan seharian, cukup dengan mie mereka, kita kenyang selamanya.

                Kalau dulu dengan teman-teman di desa, teman waktu kecil Mun, Ryan, Adi dan Taufik bisa jalan-jalan hari ketiga kemana kami suka. tapi sekarang Mun dan Ryan sudah berkeluarga. Adi sudah dewasa dan Taufik sudah Jadi warung kopi. Jadi tak bisa di ajak-ajak lagi.

                Kawan-kawan SMU dan kuliah mana? Ya, mereka jauh-jauh! Karena susah juga saya SMU di SMA yang muridnya berasal dari anak-anak unggul dari seluruh kabupaten di Aceh.

Di balik semua itu Lebaran bermakna kita di Ampuni dosa oleh Allah, seperti lahir kembali, Amin. bagi yang puasa betul-betul tapi, yang dengan penuh keimanan dan ikhtisaban. nah! lebaran itu tinggal kita minta maaf sama manusia, jadi yang salah sama kita, kita kerumahnya, minta maaf! mungkin dia ada curi sapi kita, minta maaf hari ini juga. juga yang sudah mencuri hati kita. tanyakan padanya, hati kita mau di bawa kemana? kepelaminan apa ke Pergadaian. 

Sekian saja dulu, nanti sambung lagi kalau ada waktu.
Saya Riazul Iqbal belum berkeluarga mengkucapkan selamat Lebaran Idul Fitri, Mohon maaf luar dalam.