Sunday, September 8, 2013

Paya Leupon Unmasked

Tags
Angin yang mendung di pagi hari, membuat malas mandi. Tapi apa boleh bulat, sudah tua begini. Harus mandi. Biar nampak kegantengan yang tersisa beberapa menit lagi. Sebenarnya sudah bangun dari jam empat tadi. Saat Ayam berkokok dan bebek terjaga.

 Ngomong-ngomong soal bebek. Desa tempat saya bekerja sekarang rawan sekali terjadi pencurian bebek. Desa yang berjudul Paya Leupon. Pasti kalian tidak tahu dimana. Paya leuepon itu terletak di dekat Paya Ilhap. Pasti kalian lebih tidak tahu lagi. Paya Ilhap itu di dekat Lhok Ni. Yang saya juga tak tahu dimana. Tapi saya nak bagi tahu, sesaat lagi. Setelah pesan-pesan berikut ini. Paya. 

Bahasa indonesianya Rawa. Semua sudah tahu, untuk apa saya bagi tahu lagi. Baiklah kita jelaskan saja kondisinya. Paya Leupon ini di penuhi dengan Bak Meuria. Atau bahasa Papuanya pohon sagu atau pohon rumbia. Pohon sagu ini banyak sekali manfaatnya. Malah lebih besar menghasilkan uang dari pohon kelapa. Baiklah saya ceritakan dari pertama, setelah saya mandi.

 Paya Leupon sangat melegenda bagi yang tau legendanya. Pada jaman dahulu kala, waktu jaman Aceh makmur di bawah pimpinan Iskandar Muda. Kalau hilang lembu di Paya Leupon, tak usah di cari lagi. Paya ini luaaaaaas sekali. Terbentang dari Trieng Gading kampung Didier Drogba sampai ke Simpang Tiga titian, di Ambang sore nan Layu. Luasnya Puluhan Hektar. Di penuhi pohon Meuria, dan kalau sesat. Tak tahu pulang kemana. Seperti Syiah. Suntuk saya disini. Tiap hari hanya di temani pohon sagu dan pohon bambu.

 Tapi saya tak pernah suntuk, kalau saya suntuk  saya mengunjugi rumah penjahit atap rumah. Atap rumah orang-orang disini hampir semua daun rumbia. Setengah segitiga atap rumah terdiri dari 650 ikat daun rumbia satu-satu meter (Gimana sih cara bilangnya) pokoknya satu rumah Adat Aceh butuh dua kali 650 ikat daun rumbia yang satu-satu meter. Selain murah meriah, Rumah beratapkan rumbia tidak akan panas di siang hari. Jadi kalau menikah nanti tidak perlu beli AC. Beli kulkas saja, taruh di atas atap rumbia. 


Daunnya di ikat bersama bamboo dengan tali dari rotan yang di belah delapan. Itu baru daun, Pohonnya juga banyak sekali manfaatnya. Pohon Sagu yang di ekspor itu sebagai bahan untuk membuat cat, batangnya juga makanan utama masyakarat Papua. Kalau orang aceh memanfaatkan dedaknya yang halus dan sudah di saring menjadi Beureunee (tak tahu saya bahasa Indonesianya apa). Ampas batang sagu merupakan makanan kesayangan bebek.


 Tandan pohon meria kalau kami di Aceh, menyebutnya Peukmiya (Pelepah rumbia). Bisa menjadi bahan utama membuat mainan, mobil dan senjata pemburu cicak. Pelepah rumbia juga di pakai untuk dinding rumah, dinding kamar mandi dan pagar bebas polusi. Tapi pemandangan Pelepah rumbia menjadi rumah hanya bisa di lihat di desa-desa, di kota malu dong kita buat rumah pakek Pelepah rumbia. Apa kata tetangga! Pelepah rumbia yang belum di kupas juga merupakan senjata paling mematikan bagi ular. Sekali pukul, niscaya akan mati itu ular. Sebesar apapun! Maunya film anaconda dan antaconda itu pakai Pelepah rumbia saja.

 jadi tidak perlu rugi jutaan dolar untuk membayar special effect senjata canggih. Bisa menghemat anggaran. Beureune bisa di makan mentah-mentah setelah di goreng. Juga enak di lawek ngoen U dan lebih enak lagi di buat timphan, di buat cagruek. Tapi banyak batang sagu disini di jadikan tepung sagu. Bahan utama membuat kue. Buah sagu atau buah meria adalah obat ciret yang sangat efektif, juga di peujruek, enak sekali. Pada masa Konflik, GAM yang bersembunyi di dalam Paya Leupon, aman sentosa dari kejaran aparat. 


Karena bagi orang baru disini, sama seperti lembu yang hilang, mungkin bisa jadi makanan lumpur hisap atau tersesat. Leupon kalau di bahasa indonesianya artinya empuk. Empuk ini di nisbahkan pada permukaan tanah di dalam paya ini yang labil dan bergerak-gerak, seperti kita berjalan diatas springbed. Tapi sekarang tidak seempuk dulu lagi, mungkin karena di makan usia. 



Atau gara-gara kemarau yang panjang. Kini Paya Leupon bisa di jelajah semuanya, bahkan lembu tak lagi hilang. Karena bisa di cari melalui GPS dan pawang lembu professional. Yang banyak hilang sekarang di daerah ini adalah bebek. Di dalam paya ini anda harus hati-hati, karena ada monyet liar dan harimau. Demikian saya Riazul Iqbal, melaporkan langsung dari Paya Leupon.