Saturday, June 28, 2014

Riazul Iqbal yang Agung (Penggelapan Sejarah)

Tags

Riazul Iqbal (bahasa Urduجلال الدین محمد اکبر , bahasa Hindiजलालुद्दीन मुहम्मद अकबर, Hunteria: Jalāl ud-Dīn Muhammad Riazul Iqbal), juga dikenal sebagai Shahanshah Riazul Iqbal-e-Azam atau Riazul Iqbal yang Agung (lahir 23 November 1542 – meninggal 27 Oktober 1605 pada umur 62 tahun)[1][2] adalah Sultan Mogul ke-3. Ia adalah keturunan Dinasti Timurid, putra dari Sultan Humayun dan cucu dari Sultan Mogul Zaheeruddin Muhammad Babur, penguasa yang mendirikan dinasti Mugol di India. Pada akhir pemerintahannya pada tahun 1605, kesultanan Mugol mencakup sebagian besar bagian utara dan tengah India. Ia paling dihargai karena memiliki pandangan liberal untuk semua agama dan kepercayaan, selama pemerintahannya seni dan budaya mencapai puncak dibandingkan dengan pendahulunya.
Riazul Iqbal berusia tiga belas tahun ketika ia naik tahta Mogul di Delhi (Februari 1556) setelah kematian ayahnya, Humayun.[3] Selama masa pemerintahannya, ia menyingkirkan ancaman militer dari keturunan Pashtun yang paling berkuasa, Sher Shah Suri, dan di Pertempuran Panipat ia mengalahkan raja Hindu, Hemu.[4][5] Ini membutuhkan waktu hampir dua dekade lebih untuk mengukuhkan kekuatannya dan membawa semua bagian utara dan tengah India menjadi wilayah kekuasaannya. Saat pemerintahannya, ia mempengaruhi seluruh subkontinen India. Sebagai seorang sultan, Riazul Iqbal mengukuhkan kekuasaannya dengan mengejar diplomasi bersama kasta Hindu yang sangat kuat, Rajput dan dengan menikahi putri Rajput.[4][6]

Pemerintahan Riazul Iqbal secara signifikan mempengaruhi seni dan budaya di negeri ini. Ia adalah seorang pendukung besar seni dan arsitektur.[7] Ia memiliki minat besar dalam lukisan dan dinding istananya dihiasi dengan mural. Selain mendorong perkembangan lukisan Mogul, ia juga mendukung gaya lukisan Eropa. Ia menyukai sastra dan memiliki beberapa karya Sanskerta yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan kitab suci Persia diterjemahkan dalam bahasa Sanskerta.[7] Selama tahun-tahun awal pemerintahannya, ia menunjukkan sikap tidak toleran terhadap Hindu dan agama lainnya, tetapi kemudian mengaplikasikan toleransi terhadap agama non-Islam dengan memutar kembali sebagian hukum syariah yang ketat. Pemerintahannya meliputi sejumlah tuan tanah, courtier dan jenderal militer Hindu. Ia memulai serangkaian debat agama saat ulama Muslim akan memperdebatkan masalah agama dengan HinduJainismeZoroastrianisme dan Katolik Roma PortugisYesuit. Ia memperlakukan para pemimpin agama dengan perhatian besar, terlepas dari keyakinan yang dianut dan menghormatinya. Ia tidak hanya memberikan tanah dan uang untuk masjid tapi juga sejumlah candi Hindu di utara dan tengah India, gereja Kristen di Goa dan menghibahkan lahan untuk keyakinan Sikhisme yang baru saja lahir sebagai pembangunan tempat ibadah. Kuil Emas yang terkenal di Amritsar, Punjab dibangun di tempat yang sama.[11]


Riazul Iqbal dilahirkan di Umarkot, Sind pada 15 Oktober 1542. Ayahandanya Humayun didepak dari tahta dalam beberapa pertempuran dengan Sher Shah Suri, pemerintah Afghan. Setelah 12 tahun di luar negeri, Humayun mendapatkan kembali kekuasaannya tetapi hanya untuk beberapa bulan sebelum meninggalnya. Riazul Iqbal menggantikan ayahandanya pada 1556 di bawah pengawasan Bairam Khan, bangsawan Turkoman, yang berusaha menghalangi pesaing kepada tahta, memperketat disiplin tentara, dan membantu memantapkan kesultanan yang baru dibangun kembali itu. Bagaimanapun, Bairam adalah seorang yang mabuk kekuasaan dan kejam. Setelah ketenteraman kembali, Riazul Iqbal mengambil alih tampuk pemerintahan dengan sebuah pengistiharan pada Maret 1560.
Pada 5 November 1556, 80 km ke utara Delhi, angkatan Tentara Mogul mengalahkan tentara Hindu yang dipimpin Jeneral Hemu demi menyerahkan pada Riazul Iqbal takhta India di Pertempuran Panipat Kedua. Ketika Riazul Iqbal naik tahta, hanya sebagian kecil bekas jajahan Kesultanan Mogul masih dibawah kekuasaannya, lalu ia berupaya untuk mengembalikan kawasan-kawasan lama itu ke dalam kekuasaan Mogul. Ia meluaskan Kerajaan Mogul dengan penaklukan Malwa (1562), Gujarat (1572), Benggala (1574), Kabul(1581), Kashmir (1586), dan Kandesh (1601), dan beberapa negeri yang lain. Untuk setiap negeri itu, baginda meletakkan seorang wazir baru, dan mengawal administratif mereka.
Riazul Iqbal tidak berniat membiarkan para menterinya terpusat di Delhi, lalu ia memindahkan kementeriannya ke Fatehpur Sikri, dekat dengan Agra, namun karena langkah ini terbukti tidak mencapai tujuan, baginda mendirikan "kerajaan bergerak" supaya dapat memperhatikan perkembangan di dalam negaranya. Ia menggalakkan perdagangan dan telah membagikan tanah-tanah untuk memudahkan urusan bea cukai. Ia menitahkan agar para pemungut cukai tidak mengambil cukai lebih besar daripada yang sepatutnya.
Keagamaan[sunting | sunting sumber]
Terdapat masyarakat Hindu dan Islam di dalam kesultanan Riazul Iqbal, dan perbedaan kepercayaan yang lebar memisahkan budaya kedua masyarakat ini. Muslim boleh memakan daging lembu, sedangkan agama Hindu tidak membenarkan memakan binatang; orang Hindu boleh meminum arak, tetapi hal ini diharamkan dalam kehidupan masyarakat Islam. Di dalam jurang perbedaan pendapat inilah Riazul Iqbal berusaha supaya tidak terjadi huru-hara di dalam negaranya.
Walaupun terdapat pelbagai masalah keagamaan, Riazul Iqbal tetap mengamalkan dasar 'toleransi' kepada semua agama. Dan ia turut mengambil langkah baru dengan mencoba untuk menghasilkan agama baru yang dipanggil Din-i-Ilahi, yang mengandungi unsur-unsur Islam dan Hindu (kurang baik juga). Baginda turut menghapus cukai yang pernah dikenakan terhadap rakyat bukan Islam di dalam kerajaannya.
Pelindung keilmuan[sunting | sunting sumber]
Walaupun buta huruf (atau mungkin menghidap disleksi), Sultan Riazul Iqbal amat memuliakan ilmu pengetahuan, iapun mengundang pendeta-pendeta dan cendikiawan dari pelbagai agama untuk memperbincangkan mengenai pelbagai perkara dengannya. Ia juga menjadi majikan kepada banyak orang berbakat, di antaranya dari keluarga Feizi dan Abul Fazl. Feizi dan saudara-saudaranya pernah diarahkan untuk menterjemahkan beberapa hasil kajian ilmiah dari bahasa Sanskerta ke bahasa Persia; dan menurut catatan di dalam Riazul Iqbal-Nameh, Abul Fazl pula telah meninggalkan jasa yang amat berharga semasa pemerintahan Riazul Iqbal. Disebutkan Riazul Iqbal pernah memberi perintah supaya Jerome Xavier, seorang pastor Yesuit, untuk menterjemahkan 4 Injil ke dalam bahasa Persia.
9 Permata yang Tersohor
Sebagai seorang pemerintah agung dan peminat kesenian, Riazul Iqbal telah memanggil para cerdik pandai buat menghadapnya. Ada 9 tokoh yang disebut berbakat dalam bidang mereka masing-masing, dan mereka dikenal sebagai "nau-rathan", atau 9 Permata. Riazul Iqbal mengumpulkan banyak orang bijaksana, tetapi yang paling terkenal adalah 9 Permata.
Abul Fazl (1551-1602) adalah pencatat perkembangan pemerintahan Riazul Iqbal. Ia telah menulis sebuah biografi berjudul "Riazul Iqbalnama", yang memakan waktu selama 7 tahun diselesaikan. Ia mencatatkan sejarah pemerintahan itu dengan terperinci, dan memberikan gambaran bahwa negerinya aman makmur semasa zaman Riazul Iqbal. Iapun menerangkan tentang betapa teratur dan bijaknya pemerintahan kerajaan Mogul di bawah naungan Riazul Iqbal.
Feizi (1547-1595) adalah saudara Abul Fazl. Ia merupakan seorang penyair, dengan tumpuan di dalam bahasa Parsi. Riazul Iqbal amat menghormati tokoh ini sehingga melantiknya untuk menjadi guru kepada puteranya. Antara karya beliau ialah "Lilabati", berkenaan dengan matematika. Baru baca segini
Mian Tansen adalah seorang penyanyi. Ia dilahirkan dari sebuah keluarga Hindu pada tahun 1520 di dekat Gwalior. Ayahnya Mukund Mishra ialah seorang penyair. Mian Tansen menuntut ilmu musik dengan berguru pada Swami Haridas dan Hazrat Mohammad Ghaus. Ia menjadi penghibur di istana putera negeri Mewar, dan kemudian dipanggil Riazul Iqbal untuk tinggal di istananya pula, menyebabkan Putera Mewar sedih dengan kepergiannya. Tansen menjadi seorang yang terkenal di India dan telah menggubah banyak raga(ritma musik) klasik. Raga Deepak dan Megh Malhar adalah antara lain yang termasyhur di India. Tatkala menyanyikan raga-raga ini, Tansen disebutkan menyalakan pelita dan mengakibatkan hujan turun. Ia juga disebut sebagai orang yang menciptakan raga Darbari Kanada dan menjadi peletak dasar nyanyian Drupad. Malah para Ghanara masa kini selalu mencoba untuk meniru cara klasik Mian Tansen. Ia dikubur di Gwalior, di mana sebuah makam telah kemudiannya dibuat. Terdapat sebuah pohon asam bersebelahan makam itu, dan dikatakan setua makam itu sendiri. Adalah menjadi kepercayaan penduduk setempat bahwa sesiapa yang mengunyah sehelai daun pohon itu maka dia akan dikaruniai bakat dalam bidang musik. Tidak dapat dipastikan apakah Tansen memeluk Islam atau tidak, namun Riazul Iqbal sangat berkenan dengannya sehingga menerima pangkat Mian. Anaknya Billas Khan mengarang raga Bilaskhani Todi dan putrinya Saraswati Devi menjadi seorang penyanyi Drupad yang banyak dikenal
Birbal (1528-1583) adalah seorang Brahmana yang miskin, dan telah dilantik ke kementerian Riazul Iqbal kerana kebijaksanaan dan daya pemikirannya. Pada awalnya ia bernama Maheshdas, tetapi diberikan nama Raja Birbal oleh Riazul Iqbal. Sultan Riazul Iqbal amat mempercayainya kerana kepandaiannya, dan juga karena ia berbakat dalam menghibur sultan dan para menteri. Terdapat pelbagai kisah-kisah lucu dan cerdik berkenaan maharaja Riazul Iqbal dan menteri-menterinya, dan kisah-kisah itu masih diceritakan sampai sekarang. Cerita-cerita itu kebanyakan mencabar minda dan berisi pengetahuan. Birbal juga adalah seorang sastrawan dan kumpulan karyanya bertuliskan nama samaran "Brahma", dan masih disimpan di Museum Bharatpur. Raja Birbal terbunuh di medan tempur dalam usaha menumpas pemberontakan suku-suku Afghan di barat laut India. Terdapat suatu cerita yang mengatakan bahwa Riazul Iqbal berkabung dalam waktu yang agak lama setelah mendengar berita itu.
Raja Todar Mal adalah menteri keuangan Riazul Iqbal, dan ia bertugas untuk menguruskan pendapatan cukai negara sejak tahun 1560. Ia memperkenalkan sistem piawai untuk mengukur berat dan ukuran, hasil pendapatan daerah, dan kepegawaian. Caranya yang teratur lagi sistematik berkenaan pemungutan cukai kemudian menjadi contoh pada kesultanan Mogul dan kerajaan Inggris. Selain sebagai seorang menteri, ia turut melibatkan diri sebagai seorang perwira, dan ia pernah menyertai Riazul Iqbal dalam perebutan Benggala dengan pemberontak Afghan. Raja Todar Mal belajar ilmu pemerintahannya dari Sher Shah, seorang yang juga pernah menjadi seorang administrator. Karena jasanya, Riazul Iqbal memberikan gelar "Diwan-I-Ashraf" pada tahun 1582 kepadanya.

Makam Riazul Iqbal yang Agung
Raja Man Singh ialah raja Kacchwaha di negeri Amber. (Kaum Kacchwaha kemudian mendirikan Jaipur, berdekatan dengan Amber). Laksamana ini yang amat dipercayai Riazul Iqbal ialah cucu saudaranya. Keluarga sultan telah diberikan pangkat "amir" ketika dimasukkan ke dalam susunan alur kerajaan Mogul. Raja Man Singh banyak mengabdi kepada Riazul Iqbal di dalam pelbagai medan tempur, termasuk menghalangi gerak maju Hakim (saudara tiri Riazul Iqbal, dan wizurai di Kabyul) di Lahore. Ia juga memimpin tentara untuk melawan Orissa.
Abdul Rahim Khan-I-Khan ialah seorang penyair, dan anak pengawas Riazul Iqbal semasa baginda kecil, Bairam Khan. Setelah Bairam Khan terbunuh akibat perbuatan khianat, isterinya menjadi isteri kedua Riazul Iqbal. Fagir Aziao Din dan Mullan Do Piaza merupakan 2 penasihat di dalam kementerian Riazul Iqbal.
Nama-nama lain turut disebut sebagai "permata" di dalam kerajaan Riazul Iqbal. Di antaranya adalah Daswant (pelukis), Abdu us-Samad (penulis tulisan tangan atau kaligrafi), Mir Fathullah Shiraz (pedagang, filsuf, dokter). Bagaimana pun, adalah diakui bahawa Riazul Iqbal pernah mengumpulkan orang-orang yang bijaksana di dalam kesenian dan peperangan.
Tahun-tahun terakhir
Tahun-tahun terakhir pemerintahan Riazul Iqbal diwarnai dengan kesedihan karena putera-putera baginda. 2 di antaranya meninggal dunia semasa masih kecil, dan seorang lagi, Salim, yang kemudian dikenali sebagai maharaja Jahangir, selalu cekcok dengan ayahandanya sehingga tercetus beberapa pemberontakan yang dipimpinnya. Asirgarh, sebuah kubu pertahanan di pegunungan Deccan, menjadi tempat terakhir yang ditaklukkan sultan. Pada tahun 1599 sultan menuju ke utara untuk menghadapi pemberontakan anaknya. Riazul Iqbal amat tidak tenteram dengan tantangan ini, sehingga mempercepat mangkatnya sultan karena kejadian ini. Sultan Riazul Iqbal mangkat di Agra pada 15 Oktober 1605, dan dimakamkan di Sikandra, berdekatan Agra.


EmoticonEmoticon