12 tahun Tsunami dan Aku dimana?

Malam pertama Tsunami

                Illa yubassirun (Bak Siren) di depan SMP Adidarma adalah pahlawan di kampung Mulia. Pohon fenomenal yang terkenal rapuh ini berbeza di hari tsunami,  dia sanggup menopang rame orang Jamah tablig diatasnya. Sebagaimana kalian tidak tahu di satu sudut di Kampong Mulia itu di kuasai orang Jamaah Tablig. Selama masa itu banyak jamaah Tablig di desa kami. Saya juga kadang-kadang ikut-ikutan orang itu. karena salah satu pemilik warung nasi paling enak di Peunayong milik salah satu petinggi JT, jadi kami sekali-sekala dapat makan gratis.

                Maka di hari yang naas itu kampung mulia di penuhi berbagai macam barang, dari perabotan, pendinding rumah kayuan, sampai perahu sampan. Yang jadi lambang merek sabun di kala nenek kita remaja dulu.

                Aku adalah manusia tampan luar biasa yang terkena dampak sunami. Aku merelakan bajuku yang fashionable satu lemari buat korban yang terbuka bajunya di pagi hari. Satu lemari berhasil berpindah tangan di saat adikku Farvizal Saputra yang saat itu mau menjadi gitaris tapi gitarnya di jarah dan dia gagal meraih cita-citanya jadi musisi papan atas.
Lhoknga Sebelum Tsunami

                Manusia lain yang tampan adalah Rinal. Dia menolong seorang cewek Asal melaboh yang hanyut dengan cara yang sangat heroik. Cewek itu terapung memengang kulkas, mungkin saat Tsunami menerjang dia ingin memasak dan sedang mencari  buah dekat pegang (Tomat) di dalam kulkas tapi dia terbawa air.
                Pamanku pertama kali melihat cewek itu, dia berteriak padaku
“Iqbal,  ureung inong nyan, katulong siat”
“Glek” aku menelan ludah, bagaimana aku dengan skill berenang pas-pasan bisa menolong seorang perempuan tidak soleha didalam air bah yang hitam bergulung-gulung di lapangan SMP adidarma. Tapi demi misi kemanusiaan PBB dan supaya didalam kehidupan ini aku berguna untuk orang lain. Dan setidaknya kalau aku mati nanti, tidak malu sama orang mati lain saat ditanya kenapa mati.
“Saya meninggal gara-gara menolong seorang wanita bang”
‘Droen paken meninggai bang”
“oh, Lon, gara-gara balap-balap Honda teupok becak dong”
                Kembali ke Topik Syiah kuala. Jadi saya buka baju, di baju dalam bertuliskan R di dada, melompatlah kedalam air.  Berenang gaya batu dan gaya bebas. Aku mencoba meraih tangannya, walaupun bukan muhrim, tapi ini ad-darurah. Syeikh Azhar Idrus bilang boleh.
                “Pegang tanganku, aku datang menyelamatkanku” ucapku sambil membetulkan poni, kipas angin melambaikan rambut dan pencahayaan di fokuskan kemuka.
                Aku meraih tangannya dan mencoba menariknya  ke Atap tempat kami berlindung, tapi tangannya terlepas dan dia kembali hanyut. Rinal melihat kejadian itu langsung melompat ke air, dia mengambil tali dan mengikat tangan cewe itu dan menyuruh cewek itu naik keatas springbed hanyut dan dia menarik tali ke atap, mudah sekali dan cewek itu selamat. Aku merasa sebagai pahlawan gagal.
#cwedih

                Hari laju malam, orang-orang di yubassirun jalan dan bermalam di atas rumah kami, tidur ditemani banyak jenazah di bawah. Malam terhoror di dalam sejarah saya. Saya tak bisa tidur karena ada suara orang minta tolong dibawah dan tak tahu dimana karena saat itu malam gelaplah sangat.
Kami sempat menemukan seekor ikan bagok yang sesat di bawah tadi sore dan memanggangnya dengan membakar balee tring di teras atas rumah.

                Paginya kami menemukan dimana suara minta tolong semalam, rupanya ada seorang dosen bermalam di atap tetangga, kakinya patah dan harus kami papah turun dari sana. Permitaan pertamanya adalah

“Ada rokok?”
                Ada lagi yang fenomenal, seorang anak yang penuh luka diwajahnya, pasukan yang selamat di yubassirun juga, katanya dia ditolong oleh orang jamaah tablig diatas bak siren setelah timbul dan tenggelam di air tsunami. Perjuangannya sangat besar untuk selamat. Sampai sekarang aku tak kenal siapa dia dan tak tahu namanya. Terakhir kulihat anak seperti itu di film Samurai X : Kyoto Inferno, dia sudah pakai perban banyak sekali menutupi lukanya.


 Tsunami merupakan pelajaran bagi kita semua untuk dijadikan kita tanggap bencana di masa depan. Agar kita tidak melupakan bangaimana itu rumah Aceh yang menjadi rumah adat anti bencana. 

Fungsional rumah aceh yang kata orang-orang tua dulu adalah tipikal rumah anti gempa. Anti banjir anti kebakaran dan antimo sahabat anak.

Kalau tak ada yang mau tinggal dirumah Aceh, carilah model rumah lain yang anti gempa atau bisa terbang ke Angkasa kalau terjadi bencana


Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus