Thursday, December 25, 2014

Reka Ulang Tsunami

Tags


          Dulu sebelum kuliah, bagiku Banda Aceh merupakan kota kunang-kunang. Kalau kesini (bagi yang baca di daerah Banda Aceh) aku pasti singgah ke Kampong Mulia untuk melihat kunang-kunang, setiap malam kunang-kunang berterbangan di atas bak dah di Seputaran Kampong Mulia. tapi semua berubah, saat Tsunami menyerang.

          Pada pagi 26 Desember 2004 gempa bumi. Saya terkejut dan terbangun, melihat keluar jendela, saya lihat bangunan sekitar rumah bergoyang seperti pohon di tiup angin. Saat itu saya di berada di lantai dua.

 Nyakwa (kakak Ayah) dari bawah memanggil mangil “Bal….turun… gempa…!!” saya berlari turun, terhuyung huyung di tanga dan berhasil keluar rumah bergabung bersama tetangga-tetangga, pagar rumah tetangga ada yang roboh, tetangga jauh yang mau mengadakan resepsi pernikahan juga roboh pagar betonnya, roboh ke atas tempat penyimpanan hidangan.

 Suara gemuruh aneh terdengar dari arah laut, orang tiba-tiba ramai berbondong-bondong di jalan melalui kampung mulia ada yang berteriak  “Air laut naik!!”

Saya tak percaya, malah tertawa sama tetangga dan bilang “Mana mungkin air laut naik” tapi Nyakwa dan Ayah saat itu berinisiatif supaya kami semua naik ke lantai atas rumah, beberapa orang ikut naik ada juga yang  memilih ikut orang desa lain untuk lari ketempat yang aman.

Suara gemuruh itu rupanya betul ombak laut yang hitam pekat menghancurkan rumah-rumah yang di laluinya,suara tasbih membumbung kelangit, kami berada di lantai dua rumah. Nyakwa berdoa sambil menangis rumah kami tidak rubuh lalu air menabrak Smp Adidarma di samping rumah kami, Smp itu pun rubuh seketika,saya lihat orang-orang hanyut di bawa air hitam itu mereka mencoba berenang mencari tempat berpegang supaya tidak hanyut lebih jauh,saya berusaha meraih beberapa orang yang bisa saya selamatkan.

Dulu saya tak seberapa kenal masyarakat Kp. Mulia. Tapi saat mengungsi ke kantor DPR, setelah turun dan melewati tumpukan reruntuhan rumah dan mayat bergelimpangan di segala penjuru dari Lampulo sampai Kampong Keramat, kami berhasil mencapai kantor DPR dan menggelar tikar seadanya di terasnya untuk sekedar tempat bermalam.

Pamanku adalah pahlawan disaat itu, dia diantara para korban yang berlarian ketempat yang aman dan menyelamatkan diri sendiri, beliau mencari orang yang bisa menolong kami sekeluarga untuk mengungsi ketempat yang lebih aman.

Entah dari mana dan bagaimana caranya dia pulang dengan seseorang dengan mobil dan mengangkut kami semua ke Lampeuneurut, di tempat paman.

Kami mengungsi sementara di dekat kuburan Massal disana, setiap hari kami melihat mayat yang dibawa dengan truk kuning dan dimakamkan dengan Beko.

Mayat dalam satu liang bertindih-tindih dengan kafan kantong mayat warna kuning. Saat keluar mencari makanan ke Lambaro, relawan PMI di dekat bundaran Lambaro sedang mengangkat mayat dan menyusunnya dengan rapi, air mataku mengalir saat melihat jumlah mayatnya memenuhi teras pertokoan sampai tak ada tempat berdiri.

Diantara yang datang ke Aceh saat itu adalah Sepp Blater. Presiden FIFA itu langsung ke Aceh tanpa transit ke Jakarta, tempat Nurdin Khalid sedang di hujat karena gagal memajukan sepakbola Indonesia.
          Koffi Anan juga tidak ketinggalan, kami sampai-sampai ke Bandara menunggu beliau, dan banyak warga yang bertanya-tanya mana Koffi Anan, karena wajahnya tidak mirip artis.


          Jackie Chan tidak mau berlama-lama bereforia dengan film Rob B Hood nya. Dia datang mengunjungi ‘warganya’ di Penayoeng. Berbaju orange dan ada tulisan cinanya.  Senyuman ikhlasnya Cukup mengobati luka warga peunayong yang susah payah lari bahkan ada yang berenang-renang di air pekat menyelamatkan diri.


          Jackie Chan adalah aktor yang tak pernah berciuman di semua filmnya. Dia memberikan bantuan tidak tanggung-tanggung. Sebuah komplek perumahan! Dan barisan rumah sama-sama semua itu kini menjadi perumahan paling ramah di Aceh.


          Dan yang paling membanggakan adalah pemain termahal dunia yang baru saja memecahkan rekor top skor liga. 25 gol di hanya di 15 laga. Dia datang ke Aceh, menjemput Martunis, pria yang terombang di laut setelah Tsunami, memakai baju timnas Portugal.

          Kita di hari ketiga Tsunami sudah bisa melihat pesawat-pesawat dua baling-baling yang biasa kita lihat di TV. Kini pesawat technology tinggi itu terbang diatas rumah-rumah kita membawa bantuan.

          Berkah Tsunami adalah hidupnya pasar Keutapang, Lampeneurut, Neusu dll. Kalau dulu perdagangan hanya terfokus di Pasar Aceh. Orang tak mahu belanja di tempat lain kecuali di dekat-dekat masjid Raya.

          Kekhalifahan Turki Utsmani juga tidak berhenti memberi makan warga kota Banda Aceh dengan rotinya yang fenomenal. Beberapa masyakarat tak pernah melihat roti sebesar itu sebelumnya. Dan masyarakat jadi rajin shalat ke masjid raya, karena didepan masjid raya roti itu di bagi setiap Jum’at.

          Mobil-mobil pengambil sampah ke Khalifahan juga tak pernah berhenti kecuali malam dan jam istrirahat untuk membersihkan kota.

          Tentara Jerman mendarat di pelabuhan darurat Alue Naga. Mereka semua lupa dan sengaja tidak membawa senjata. Jeep banyak di turunkan membawa obat-obatan, mereka menguasai RSUDZA untuk membantu korban yang patah tulang kaki dan tangannya.

          Kami berhari-hari makan sagoen (sejenis roti tawar penuh gizi tapi tak enak) lalu barulah tiba roti bantuan UNICEF kalo gak salah. Itu baru enak dan lumanyanlah di makan sehari-hari.

          Kami mengungsi ke gedung DPR, Cuma beberapa hari lalu dikasih barak di dekat Stadion Harapan bangsa Lhoong Raya. Karena banyak barak didirikan di Aceh setelah Tsunami, Barak Obama jadi Presiden Amerika beberapa tahun Setelah Tsunami. Masyarakat amerika saat itu prihatin dengan banyak warga Aceh yang hidup di Barak, sehingga mereka memenangkan Barrack. Presiden amerika pertama yang kulit berwarna.

          Sekarang kita sudah sembuh, pasar Aceh sudah mewah tak bermenengah kebawah lagi. Aceh damai walaupun banyak ketidak adilan disana sini. Pengajian sudah Aktif di Desa-desa. Maksiat sudah mampu di kurangi sedikit demi sedikit di setiap kota.

          Semoga tahun 2020 Aceh kembali menjadi kota serambi Mekkah. Jangan ada lagi temuan mesum, perjudian, pembunuhan, pencurian kecil dan pencurian besar oleh pejabat yang di amanahkan mengelola uang rakyat.

          Semoga Aceh tetap aman dan tidak mudah di tipu lagi oleh siapa saja yang mau menipu, semoga rakyat makin dewasa dan tidak main hakim sendiri terhadap beberapa perkara.

          Di Aceh beberapa masyarakat lebih takut di teriakkan Air laut naik daripada Harga minyak naik. #terimakasihJokowi



EmoticonEmoticon