Sunday, May 29, 2016

Di Sigli Ada Pameran Loh!





Sudah hampir empat hari menghabiskan waktu di Stand FLP Sigli, Pelajar Film Pidie dan Stand English Lovers. Ini semua gara-gara acara Pidie Education Festival (PEF). Gegara acara itu saya lupa ke Acara kawinan sahabat saya yang lain Reza Acoi dan turun tanah anak si Ayu Ceritanya bermula pada saat Rahmat mengajak saya ikut serta, padahal saya sedang asyik menikmati waktu senggang saya di Pidie untuk mendownload film, menonton film, berbakti pada orang tua, mengepel masjid dan mengajar di sekolah..


Tapi suasana di usik semalam di Taufik Kupi (warung kopi enak di Sigli yang Herry Saputra –seorang sahabt akrab- bisa berhutang disana) oleh masyarakat FOKUSGAMPI, saat itu untunglah mati lampu. Saya meraih baju dan sampai di Taufik kupi baru tahu baju itu terbalik, tapi kalau terbalik menurut mitos yang berpendar di kalangan masyakarat berarti ada rezeki. Lalu disana duduklah di meja sebelah kiri rombongan mereka, ada ketuanya bang Ikhsan, yang suka berbicara setelah sepuluh kata pasti ada kata mungkin. Lalu ada Jamal yang mengenalkan saya pada Universitas bahasa, lalu ada Rahmat yang baru kenal beberapa hari oleh sahabat saya yang lain Pasha. Ada juga Deden yang suka mengucapkan luar biasa kalau di kasih mix padanya.

Mereka mau saya mengikuti acara PEF, saya iyakan saja karena di Pidie saya tidak banyak kegiatan lagi karena sekolah dan kuliah diambang keliburannya. Kegiatan hanya mengisi rapor anak kelas tiga dan remedial anak kelas satu SMK yang dianya tidak lulus akan pelajaran yang saya ampu.
Maka dari itu saya pertama diberikan satu stan untuk FLP Sigli, lalu mereka Tanya komunitas apa saja yang ada disigli saya bilang banyak sekali. Ada Stand Up comedy, hip-hop, komunitas pakaian adat, komunitas film pelajar, komunitas suka berbicara bahasa inggris dan lain sebagainya.


Lalu karena dari FLP mereka menawarkan saya supaya mengisi workshop menulis. Senang sekali saya padahal skill menulis saya pas-pasan tapi baiklah saya laksanakan.
Di hari teknikal meeting seperti biasa katanya jam dua tapi mulainya dua jam setelahnya. Dikasih tata cara dan ukuran-ukuran stand. Lalu dua hari setelahnya stand sudah berdiri banyak. Di sebelah kiri ada stand Sekolah, komunitas di sebelah kanannya.

Maka banyaklah orang kesana, selain melihat stand juga melihat yang jaga stand. Eh.. maksud saya melihat pergelaran tarian, musikan dan stand up comedian beraksi di atas panggung di ujung stand. Panggung yang sempat terbakar sedikit di pojoknya saat acara penutupan ini menghadirkan banyak sekali penampilan selama tiga malam. Kita lupakan saja saat Fashion Shownya. Yang lain seperti tari Aceh kreasi, ranup lampuan, lomba pidato bahasa Inggris dan bahasa Aceh, dan yang lain saya lupa.
Juga di sela-sela kegiatas ada dua panggung lagi di agak jauh dari stand, rupanya disana ada ajang tahfiz qur’an, cerdas cermat dan lain-lain. Semua sekolah menengah ikut. Karena membaca Al-qur’an setiap hari, jadi agak jauh dari stand. Karena mungkin orang di stand akan panas dan kesurupan kalau mendengar kalam ilahi. Mungkin!


Stand jadi meriah terutama stand FLP Sigli yang ada banyak bukunya gratis untuk di baca. Banyak sekali pengunjung perharinya. Kalau bukunya wanita mungkin tidak ada lagi cowok yang akan melamarnya. Karena setiap yang datang pasti memegang buku-buku di stand flp. Ada yang membaca lama, ada juga yang melihat gambarnya saja. Ada juga yang mau lihat yang jaga stand, untuk saat itu yang jaganya saya.

Workshopnya juga lancar karena ada Jarnawi yang mengedit slidenya. Workshop menulis rencananya diatas panggung tapi saya menolak. Karena saya demam panggung dan maunya di stand saja supaya lebih bersahaja, lebih gampang berbicara karena kalau ramai sekali takut saya grogi.
Ada juga di hari kedua Ikhwan Reza penemu kepo syariah, Muhammad Hendri penemu banyak hadiah dan sudah ke jawa akibat pergaulannya dengan film Dokumenter. Ada juga yang lain saya tidak tahu karena tidak mendengarkan.
Banyak pelajaran yang penting yang bisa kita ambil dari pergelaran pameran ini, yang pertama yang bisa kita ambil adalah nasi goreng jatah panitia. Kadang-kadang mix dikasih kesaya untuk meng host Acara Zian Mustakim tentang fotografi. Karena keasikan bicara dia lupa shalat Asar pada waktunya.




Sebaiknya acara pameran begini lebih sering diadakan, misalnya sehari sekali seperti makan


Monday, May 23, 2016

Isi Ceramah Ustad Azhar Idrus Di Aceh

Tags


 Saya melihat sebuah share-an di Facebook kalau Ustad Azhar Idrus (UAI) akan berceramah di Aceh. Khususan di masjid Fathul Qarib UIN Ar-Raniry. Saya menjadi galau karena malam yang sama hari ini 22 mai 2016 jam 19.00 itu jadwal MotoGp Mugello, Ustad Azhar  berceramah satu jam setelahnya. Pilih MotoGp atau dengar ceramah? Saya pilih MotoGp. Tapi pembalap kesayangan saya mesinnya rusak jadi tidak bisa menghabiskan semua lap. Jadi saya mengencangkan kain sarung dan menuju masjid kebangaan UIN, Fathul Qarib.

                Setibanya di sana banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi Malaysia berkumpul. Kalau dulu waktu kuliah disana ada sekitar 30% yang saya kenal jamaahnya di masjid langganan ini. Ini yang saya kenal sekarang cuma dua-tiga orang itupun dua yang saya pengaruhi di warung kopi tempat menonton Rossi tadi. Si Muhajir anak FLP baru itu yang menyapa saya di tempat wudhu. Menyapa dan duduk. Lalu setelah shalat isya kami menunggu UAI. Tak lama ustad datang, dan moderator berbahasa Malaysia yang sedikit diantaranya saya mengerti kalau nanti ustad berbicara kami harus menjaga adab. Saya mengambil saf paling depan. Kiri-kanan orang Malaysia. Kanan sedikit sebelah sana bang Fakrur Ramadan. Teman orang Aceh yang yang jauh-jauh dari warung kopi Batoh.

                Ustad di persilahkan duduk. Dengan senyumnya yang khas, beliau berkata dia ke Aceh untuk berlibur. Karena liburan ke Singapura mahal, jadi dia liburan ke sini. Dan beliau katanya ingin belajar dari mahasiswa Malaysia yang ada di Aceh. Lalu panitia memberikan beberapa lembaran kertas berisi pertanyaan-pertanyaan. Yang pertama masalah Mazhab. Katanya kita boleh tidak bermazhab kalau kita lebih pandai dari imam mazhab. Beliau menambahkan sekarang sudah ada mazhab kelima kata beliau yaitu mazhab Fesbuki, dimana ada ustad-ustad entah dari mana suka member fatwa.

Kemudian soalan khutbah, nabi saat khutbah matanya merah, bicaranya  seperti akan ada perang, memegang benda seperti busur untuk menyemangati jamaah. Soal selanjutnya tentang Kentut dua kali, dua kali kentut tidak membatalkan shalat. Karena yang membatalkan shalat adalah kentut yang pertama.

Selanjutnya pertanyaan tentang puasa. Niat puasa menurut imam Hambali, Syafie dan Hanafi kita harus berniat setiap malam karena puasa itu adalah amalan ibadah yang terpisah-pisah setiap malam. Karena ada hadis yang mengatakan Tidak sah puasa kalau tidak ada niat. Tapi menurut mazhab Maliki boleh niat malam pertama saja.

Barangsiapa yang berpuasa mengharap Ridha Allah dan mengaharapkan pahala yang berlimpah, maka Allah akan menghapuskan dosa-dosanya terdahulu. Paling sedikit pahala nanti di Syurga adalah seorang di berikan tanah seluas Yaman sampai syiria, istananya dari emas dan istri 70 orang yang berusia 17 tahun.

Lalu soal boleh tidak yang berpenyakit asma menggunakan inhaler saat dia berpuasa. Ustad menjawab boleh kalau dia hari-harinya memang tergantung dengan inhaler.  Lalu mencicipi makanan boleh.

Nabi di bulan ramadhan melipatgandakan ibadah beliau dari bulan-bulan lainya. Nabi beribadah sepanjang tahun, sedangkan kita menunggu ramadhan baru beribadah.

Masalah jumlah rakaat juga sudah dijawab oleh ulama terdahulu 20 rakaat dianut oleh mazhab Hambali dan Syafiie dan lebih banyak pahala. Sedangkan 8 rakaat banyak dianut oleh ulama ahli hadits. Cuma kurang pahalanya, lebih banyak lebih baik.  

Membaca Al-Qur’an 50 ayat/hari kita tidak akan tercatat lagi dalam golongan orang-orang yang lalai. Imam syafiie pernah tahajud di dalam Ka’bah dua rakaat, satu rakaat beliau membaca 15 juz Al-qur’an beliau masuk Ka’ban selepas Isya dan pulang sebelum Subuh, saat ditanya murid-muridnya. Beliau menjawab ini amalan Utsman Bin Affan. Terdapat perbedaan pendapat ulama mana amalan sunat terbaik. Antara Witir, tahajjud dan Dhuha. Ada juga ulama berpendapat amalan sunat terbaik itu mengkhatamkan Qur’an dalam shalat.

Beliau juga menceritakan pengalaman beliau menuntut ilmu. Beliau membaca kitab fatwa saat belajar sebanyak 5 jam perhari 16-17 kitab perbulan, selama 12 tahun. Dengan cara Tallaqi. Beliau juga dijemput sama gurunya setelah gurunya mengajar dan belajar bersama guru di rumah dengan sangat sungguh-sungguh. Beliau disuruh gurunya kalau ngantuk sekali, baca lima kitab saja baru tidur. Usia 7-20 tahun adalah masa yang baik untuk belajar agama. Dulu orang belajar  Tallaqi di Mekkah 25 tahun masih disebut anak baru, belum ustad, sekarang 4 tahun belajar sudah disebut ustad.


Kalau kita tidak tahu tentang sesuatu, jangan bagi tahu, tanyalah orang yang lebih tahu atau diam lebih baik. Jangan kita lebih dari ulama, kalau member fatwa tanpa ilmu itu sesat dan menyesatkan. Islam ini agama Boleh. Bukan agama Haram. Sekarang ada kaum datang kepada kalian dan berkata ini haram, itu haram! Itu bukanlah kaum yang patut kita ikuti.

                Ustad bukanlah orang yang berpendapat, lanjut beliau lagi. Beliau hanya menyampaikan pendapat para fuqaha. Jawaban soalan tetang hokum-hukum itu sudah ada, Cuma ustad sampaikan sebagai perantara berapa banyak orang yang diam lebih pandai daripada orang yang berbicara.
Di akhir menjawab soalan mahasiswa Aceh, Patani dan Malaysia di Masjid satu-satunya UIN Ar-Raniry ini ustad Azhar Idrus berpesan kepada semua mahasiswa supaya mengharumkan nama institusi, dan mengharumkan nama Negara masing-masing.

Wednesday, May 11, 2016

The Liar & His Lover : Ketika Battosai Patah Hati

Tags


                Untuk melembutkan hati dan mencoba jatuh cinta lagi saya tak sengaja mendonload film romantis Jepang. Saat saya sedang mengikuti film yang ada Takeru Sato. Owh tidak kenal ya? Itu loh dia dulu pemeran Serial Kamen Rider lalu menjadi pemeran film layar lebar. Sudah tiga film sementara yang sukses. Rouroni Kenshin, Bakuman dan The Liar and His Lover. Film yang ketiga ini saya nonton semalam. 

                Menyedihkan! Itu kesan pertama yang saya dapat. Melihat dunia musik sekarang tidak mengandalkan bagus suara tapi wajah, pandai acting saat tampil di depan kamera dan apik diatas panggung. Masalah lagu ciptaan dan suara bisa dipakai aplikasi pro dan diolah di studio.

                Inilah latar utama film yang diangkat dari komik ini. What? Jadi semua film si Takeru Sato yang saya nonton ini dari komik? Ya memang di Jepang memang dunia Manga dan Anime. Manga dibuat jadi anime dan yang beruntung di buat jadi live Action. Ada yang sukses ada yang tidak, contoh yang tidak sukses Attack on Titan. Contoh yang sukses ini. 

                Alkisah pada suatu hari AKI (Takeru Sato) Band masa SMA nya dilirik produser besar, Takagi.  Dia sudah memproduksi satu penyanyi solo, Mari –Sayang Artis cantik ini kalau di bahasa Acehkan jadi tempat menaruh pakaian-. Satu lagi Band yang semua lagunya ditulis oleh Aki (hana pakek aroe, -Roaming). Lagu Mari juga di paksa sama Takagi, Aki yang tulis. Lagunya sudah ditentukan judul, World peace. Tapi tidak ditulis karena Mari yang dulu pacarnya Aki sudah cinta sama produser. #uihh!!

                Disinilah saya baru tahu film ini film drama romantis. Film yang paling dihindari. Mau saya banting laptop tapi ini laptop satu-satunya. lalu udah tanggung, penasaran bagaimana endingnya. Aki yang putus cinta hidupnya tidak beraturan. Berbaju lusuh, rambut tidak di pangkas, dan menyendiri. Mari yang terus dicintai tapi sudah milik orang lain tapi masih sering kerumah suruh buatin lagu. 

                Band masa SMU sekarang sudah terkenal seluruh Jepang, Grudge Play. Di film ini seakan-akan di Jepang itu hanya ada tiga musisi. Mari, Grudge Play dan Mushi & Co. oh ya, Riko. Riko Koeda adalah anak penjual sayur di pasar dekat rumah Aki. Pada suatu hari Riko yang ceroboh ini menumpahkan sayuran dalam tas nya di dekat Aki yang sedang di pinggir laut untuk mencari inspirasi dalam dirinya untuk agar supaya dia ada inspirasi membuat aransmen musik. 

                Lalu karena patah hati, sedih, putus asa dan sakit kepala. Aki mencoba jatuh cinta lagi. Bertemulah dengan gadis ini. Gadis chibi cantik bersuara bagus ini, juga pandai menyanyi. (Ya iya lah men, -red). Saat mereka bertemu dengan konyol, Aki hanya ingin menipu si Riko bahwa dia mencintainya.

Karena tidak mau punya pacar dari industri musik, Aki tidak mau cewek ini menyanyi. Jadi dia harus memendam mimpinya sambil bernyanyi dijalanan. Jeh Tadi tidak mau nyanyi? Saat perjalanan kerumah Aki buat maksaain bikin lagu. Pak Takegi menemukan Riko dan band nya sedang menyanyi di jalanan. Lalu mengajak mereka ke Kantor Produksi. Diorbitkanlah mereka jadi Artis. Kemudian ada cinta antara personil Band. Dan komplikasi biasa drama internasional.

Film yang ada komiknya ini selalu mudah digarap sama produser film adaptasi, tinggal pilih saja cerita yang mana untuk di filmkan dari ratusan komik yang scipt detailnya sudah ada dalam bentuk komik? Mungkin begitu tapi pasti ada susah-susahnya juga. Seperti mencari actor yang mirip sama versi komik. Banyak yang gagal disitu, misalya film Avatar Aang dan Blackbutler yang di hujat habis-habisan karena aktornya sama-sama tidak mirip dan aktingnya buruk. Ya, karena aktor baru gitu.

                Secara keseluruhan film ini bagus gambarnya. Karena saya mendonlodnya yang versi lima giga. Soundtrak dan lagu lagu didalamnya membuat kita seperti menonton Aashique 2
. Maksudnya secara bagus-bagus lagunya. Lokasi syuting juga keren. (Astagfirullah bang, semua film memang dicari tempat bagus untuk syuting, -red). Ceritanya up to date dan tidak membosankan. Hanya saja ya, akting cool orang Jepang agak aneh, misalnya ngomong ke orang, menghadapnya ke arah lain.



Thursday, May 5, 2016

Bolehkah Aku Menjadi Imammu

Tags


                Anak-anak kampung di Aceh, pasti pernah mengaji. Baik itu mengaji dengan orang tua atau pergi ke balai pengajian. Anak kelahiran tahu 1930 sampai 1980 malah tidak ada kawan bermain kalau mereka tidak pergi mengaji. Pada masa itu, sepulang sekolah pasti pergi ke rumah ngaji, sore baru pulang dan malam tidur. Makanya gadis-gadis diluar Aceh yang tau agama, sangat berkeinginan menikah dengan pria Aceh, paling tidak pria Aceh minimal bisa mengaji.

                Alhamdulillah aku lahir di era 80an. Bisalah menikmati indahnya mengaji dari kecil, walaupun waktu besar baru bisa mengaji. Sangat miris kita lihat sekarang, ada juga masyarakat Aceh yang tidak bisa mengaji dan lahir di era 60-70an gitu. Berarti dia tak punya kawan dimasa kecil, tapi kenapa mau jadi rakyat wakil? 

                Setelah besar, aku paling malas disuruh jadi imam, hanya mau kalau shalat asar dan zuhur. Karena aku takut bacaan aku salah, dan aku pikir masih banyak yang lebih fasih dari aku baca qur’annya di desaku tercinta ini. tapi shubuh itu betul-betul naas, di desa tak ada Imam, hanya ada makmum dan ayahku yang mau mengetes imamku. Apa yang terjadi kaum muslimin?

                Kita komentari dulu keadaan ini sedikit, sebelum aku ceritakan apa yang terjadi padaku setelahnya. Di sebagian besar di desa-desa itulah yang terjadi sekarang, Krisis Imam. Anak-anak sekarang lebih keren kalau dia pandai pelajaran lain daripada pelajaran agama men! Yang mencari ilmu agama sikit kali udah. Di beberapa desa yang aku jelajahi malah ada yang magrib tak lagi berjamaah di menasah. Bayangkan generasi kita setengah tahun kedepan. Kalau tak ada lagi jamaah, maka dengan mudah kita disesatkan oleh syaiton dan antek-anteknya kalau kita jauh dari agama.
                Ada kisah seorang bapak yang ditanya sama orang, tentang ke tiga anaknya.

“Anak bapak yang pertama sekarang dimana?”
Dengan nada tinggi dan bangga sang Ayah menjawab
“Oh..anak saya itu sedang s2 di Amerika!”
Kalau yang kedua pak?
“Yang kedua di India” Masih dalam keadaan bangga
Yang Ketiga pak?
Lalu bapak ini merendahkan suaranya, dengan sedikit kecewa bapak ini menjawab
“Yang Kelhei, hanjeut keu buet, yak beut-beut keudroe jih di Samalanga”
-Yang ketiga tidak bisa jadi buat, pergi ngaji-ngaji aja dia di Samalanga-
                Seolah-olah seakan-akan mengaji itu katrok, ndeso dan kampungan kan? Padahal mungkin anak ketiga ini nanti yang bisa memandikan, mengkafankan dan menguburkan dan mentalkin ayahnya ini. kalau disuruh sama yang pertama mungkin bapaknya akan dikremasi dan kalau disuruh sama yang kedua mengubur mungkin ayahnya akan di bakar dan abunya di alirkan ke sungai Gangga.
                Jadi yang terjadi padaku subuh itu adalah aku gagal menjadi imam yang baik, aku kurang fasih dan lupa bait-bait doa Qunut. Dan mulai saat itu aku galau dan tak pernah disuruh lagi jadi imam di desa, di boikot selama dua tahun lamanya. Tapi aku berjanji pada diri Kediri (Droe keu droe) akan kembali dengan ayat yang lebih panjang. Maka akulah mengajilah lagi.
                Beberapa tempat ngaji dimari, tak diajarkan Al-Qur’an dengan insentif. Kebanyakan Cuma ajarkan baca kitab kuning, katanya Qur’an itu buat anak kecil. Dan aku bukan anak kecil….aku bukan anak kecil… Aku bukan Anak kecil.. #iklan

                Galau aku bertambah, dimana ya kucari belajar Al-Qur’an? Sama ayah malu, sama kawan lebih malu. Aku sudah rencana gantung diri di pohon cabe, tapi diperjalanan pulang aku menemukan brosur. di brosur itu tertulis harga-harga mobil, oh bukan maksudku brosur tempat pengajian bagi yang belum bisa mengaji sama sekali, maka itulah dua tahun yang lalu akunya masuk kesitu, maka aku mengajilah.

                Malam ini tanggal empat bulan tiga puluh tahun dua ribu empat belas, malam itu tiba juga. Pak imam dibekap cedera karena menendang bangku disebabkan oleh tim Kesayangannya Bayern munchen gagal masuk ke Semifinal Liga Champion, kakinya bengkak parah dan tidak bisa mengimami dimenasah selama satu pekan.

                Maka akulah tersenyumlah, karena Real Madrid juga aku sedikit suka karena CR7 pernah bersalaman denganku waktu dia ke Aceh, sebab itulah dia pandai main bola sekarang seperti ini, itu karena bersalaman dengan aku. Maka malam menjadi malam bahagia.

                Pak Imam tak ada dan masyarakat belum lupa bagaimana kejadian di subuh naas, tapi mereka sebagian bukan makmum di subuh naas, dengan modal baju Istanbul pemberian Baiquni, aku merangsek kedepan, setelah aksi dorong-mendorong dengan pemuda kampung. Maka aku majulah, Saf rapat dan lurus aku katakan. Tapi ada masyakarat yang masih ragu-ragu berdiri aku imami, itu membuat jantung berdetak semakin cepat. 

                Tapi aku takbiratur ihram terus dan semua lancar, dukungan juga datang dari Ayah, setelah tahu aku yang jadi imam di Menasah, ayah malah memilih pergi ke Masjid. Yah semoga Tengku imam sembuh lebih cepat.