Thursday, May 5, 2016

Bolehkah Aku Menjadi Imammu

Tags



                Anak-anak kampung di Aceh, pasti pernah mengaji. Baik itu mengaji dengan orang tua atau pergi ke balai pengajian. Anak kelahiran tahu 1930 sampai 1980 malah tidak ada kawan bermain kalau mereka tidak pergi mengaji. Pada masa itu, sepulang sekolah pasti pergi ke rumah ngaji, sore baru pulang dan malam tidur. Makanya gadis-gadis diluar Aceh yang tau agama, sangat berkeinginan menikah dengan pria Aceh, paling tidak pria Aceh minimal bisa mengaji.

                Alhamdulillah aku lahir di era 80an. Bisalah menikmati indahnya mengaji dari kecil, walaupun waktu besar baru bisa mengaji. Sangat miris kita lihat sekarang, ada juga masyarakat Aceh yang tidak bisa mengaji dan lahir di era 60-70an gitu. Berarti dia tak punya kawan dimasa kecil, tapi kenapa mau jadi rakyat wakil? 

                Setelah besar, aku paling malas disuruh jadi imam, hanya mau kalau shalat asar dan zuhur. Karena aku takut bacaan aku salah, dan aku pikir masih banyak yang lebih fasih dari aku baca qur’annya di desaku tercinta ini. tapi shubuh itu betul-betul naas, di desa tak ada Imam, hanya ada makmum dan ayahku yang mau mengetes imamku. Apa yang terjadi kaum muslimin?

                Kita komentari dulu keadaan ini sedikit, sebelum aku ceritakan apa yang terjadi padaku setelahnya. Di sebagian besar di desa-desa itulah yang terjadi sekarang, Krisis Imam. Anak-anak sekarang lebih keren kalau dia pandai pelajaran lain daripada pelajaran agama men! Yang mencari ilmu agama sikit kali udah. Di beberapa desa yang aku jelajahi malah ada yang magrib tak lagi berjamaah di menasah. Bayangkan generasi kita setengah tahun kedepan. Kalau tak ada lagi jamaah, maka dengan mudah kita disesatkan oleh syaiton dan antek-anteknya kalau kita jauh dari agama.
                Ada kisah seorang bapak yang ditanya sama orang, tentang ke tiga anaknya.

“Anak bapak yang pertama sekarang dimana?”
Dengan nada tinggi dan bangga sang Ayah menjawab
“Oh..anak saya itu sedang s2 di Amerika!”
Kalau yang kedua pak?
“Yang kedua di India” Masih dalam keadaan bangga
Yang Ketiga pak?
Lalu bapak ini merendahkan suaranya, dengan sedikit kecewa bapak ini menjawab
“Yang Kelhei, hanjeut keu buet, yak beut-beut keudroe jih di Samalanga”
-Yang ketiga tidak bisa jadi buat, pergi ngaji-ngaji aja dia di Samalanga-
                Seolah-olah seakan-akan mengaji itu katrok, ndeso dan kampungan kan? Padahal mungkin anak ketiga ini nanti yang bisa memandikan, mengkafankan dan menguburkan dan mentalkin ayahnya ini. kalau disuruh sama yang pertama mungkin bapaknya akan dikremasi dan kalau disuruh sama yang kedua mengubur mungkin ayahnya akan di bakar dan abunya di alirkan ke sungai Gangga.
                Jadi yang terjadi padaku subuh itu adalah aku gagal menjadi imam yang baik, aku kurang fasih dan lupa bait-bait doa Qunut. Dan mulai saat itu aku galau dan tak pernah disuruh lagi jadi imam di desa, di boikot selama dua tahun lamanya. Tapi aku berjanji pada diri Kediri (Droe keu droe) akan kembali dengan ayat yang lebih panjang. Maka akulah mengajilah lagi.
                Beberapa tempat ngaji dimari, tak diajarkan Al-Qur’an dengan insentif. Kebanyakan Cuma ajarkan baca kitab kuning, katanya Qur’an itu buat anak kecil. Dan aku bukan anak kecil….aku bukan anak kecil… Aku bukan Anak kecil.. #iklan

                Galau aku bertambah, dimana ya kucari belajar Al-Qur’an? Sama ayah malu, sama kawan lebih malu. Aku sudah rencana gantung diri di pohon cabe, tapi diperjalanan pulang aku menemukan brosur. di brosur itu tertulis harga-harga mobil, oh bukan maksudku brosur tempat pengajian bagi yang belum bisa mengaji sama sekali, maka itulah dua tahun yang lalu akunya masuk kesitu, maka aku mengajilah.

                Malam ini tanggal empat bulan tiga puluh tahun dua ribu empat belas, malam itu tiba juga. Pak imam dibekap cedera karena menendang bangku disebabkan oleh tim Kesayangannya Bayern munchen gagal masuk ke Semifinal Liga Champion, kakinya bengkak parah dan tidak bisa mengimami dimenasah selama satu pekan.

                Maka akulah tersenyumlah, karena Real Madrid juga aku sedikit suka karena CR7 pernah bersalaman denganku waktu dia ke Aceh, sebab itulah dia pandai main bola sekarang seperti ini, itu karena bersalaman dengan aku. Maka malam menjadi malam bahagia.

                Pak Imam tak ada dan masyarakat belum lupa bagaimana kejadian di subuh naas, tapi mereka sebagian bukan makmum di subuh naas, dengan modal baju Istanbul pemberian Baiquni, aku merangsek kedepan, setelah aksi dorong-mendorong dengan pemuda kampung. Maka aku majulah, Saf rapat dan lurus aku katakan. Tapi ada masyakarat yang masih ragu-ragu berdiri aku imami, itu membuat jantung berdetak semakin cepat. 

                Tapi aku takbiratur ihram terus dan semua lancar, dukungan juga datang dari Ayah, setelah tahu aku yang jadi imam di Menasah, ayah malah memilih pergi ke Masjid. Yah semoga Tengku imam sembuh lebih cepat.
               


EmoticonEmoticon