Di Sigli Ada Pameran Loh!





Sudah hampir empat hari menghabiskan waktu di Stand FLP Sigli, Pelajar Film Pidie dan Stand English Lovers. Ini semua gara-gara acara Pidie Education Festival (PEF). Gegara acara itu saya lupa ke Acara kawinan sahabat saya yang lain Reza Acoi dan turun tanah anak si Ayu Ceritanya bermula pada saat Rahmat mengajak saya ikut serta, padahal saya sedang asyik menikmati waktu senggang saya di Pidie untuk mendownload film, menonton film, berbakti pada orang tua, mengepel masjid dan mengajar di sekolah..


Tapi suasana di usik semalam di Taufik Kupi (warung kopi enak di Sigli yang Herry Saputra –seorang sahabt akrab- bisa berhutang disana) oleh masyarakat FOKUSGAMPI, saat itu untunglah mati lampu. Saya meraih baju dan sampai di Taufik kupi baru tahu baju itu terbalik, tapi kalau terbalik menurut mitos yang berpendar di kalangan masyakarat berarti ada rezeki. Lalu disana duduklah di meja sebelah kiri rombongan mereka, ada ketuanya bang Ikhsan, yang suka berbicara setelah sepuluh kata pasti ada kata mungkin. Lalu ada Jamal yang mengenalkan saya pada Universitas bahasa, lalu ada Rahmat yang baru kenal beberapa hari oleh sahabat saya yang lain Pasha. Ada juga Deden yang suka mengucapkan luar biasa kalau di kasih mix padanya.

Mereka mau saya mengikuti acara PEF, saya iyakan saja karena di Pidie saya tidak banyak kegiatan lagi karena sekolah dan kuliah diambang keliburannya. Kegiatan hanya mengisi rapor anak kelas tiga dan remedial anak kelas satu SMK yang dianya tidak lulus akan pelajaran yang saya ampu.
Maka dari itu saya pertama diberikan satu stan untuk FLP Sigli, lalu mereka Tanya komunitas apa saja yang ada disigli saya bilang banyak sekali. Ada Stand Up comedy, hip-hop, komunitas pakaian adat, komunitas film pelajar, komunitas suka berbicara bahasa inggris dan lain sebagainya.


Lalu karena dari FLP mereka menawarkan saya supaya mengisi workshop menulis. Senang sekali saya padahal skill menulis saya pas-pasan tapi baiklah saya laksanakan.
Di hari teknikal meeting seperti biasa katanya jam dua tapi mulainya dua jam setelahnya. Dikasih tata cara dan ukuran-ukuran stand. Lalu dua hari setelahnya stand sudah berdiri banyak. Di sebelah kiri ada stand Sekolah, komunitas di sebelah kanannya.

Maka banyaklah orang kesana, selain melihat stand juga melihat yang jaga stand. Eh.. maksud saya melihat pergelaran tarian, musikan dan stand up comedian beraksi di atas panggung di ujung stand. Panggung yang sempat terbakar sedikit di pojoknya saat acara penutupan ini menghadirkan banyak sekali penampilan selama tiga malam. Kita lupakan saja saat Fashion Shownya. Yang lain seperti tari Aceh kreasi, ranup lampuan, lomba pidato bahasa Inggris dan bahasa Aceh, dan yang lain saya lupa.
Juga di sela-sela kegiatas ada dua panggung lagi di agak jauh dari stand, rupanya disana ada ajang tahfiz qur’an, cerdas cermat dan lain-lain. Semua sekolah menengah ikut. Karena membaca Al-qur’an setiap hari, jadi agak jauh dari stand. Karena mungkin orang di stand akan panas dan kesurupan kalau mendengar kalam ilahi. Mungkin!


Stand jadi meriah terutama stand FLP Sigli yang ada banyak bukunya gratis untuk di baca. Banyak sekali pengunjung perharinya. Kalau bukunya wanita mungkin tidak ada lagi cowok yang akan melamarnya. Karena setiap yang datang pasti memegang buku-buku di stand flp. Ada yang membaca lama, ada juga yang melihat gambarnya saja. Ada juga yang mau lihat yang jaga stand, untuk saat itu yang jaganya saya.

Workshopnya juga lancar karena ada Jarnawi yang mengedit slidenya. Workshop menulis rencananya diatas panggung tapi saya menolak. Karena saya demam panggung dan maunya di stand saja supaya lebih bersahaja, lebih gampang berbicara karena kalau ramai sekali takut saya grogi.
Ada juga di hari kedua Ikhwan Reza penemu kepo syariah, Muhammad Hendri penemu banyak hadiah dan sudah ke jawa akibat pergaulannya dengan film Dokumenter. Ada juga yang lain saya tidak tahu karena tidak mendengarkan.
Banyak pelajaran yang penting yang bisa kita ambil dari pergelaran pameran ini, yang pertama yang bisa kita ambil adalah nasi goreng jatah panitia. Kadang-kadang mix dikasih kesaya untuk meng host Acara Zian Mustakim tentang fotografi. Karena keasikan bicara dia lupa shalat Asar pada waktunya.




Sebaiknya acara pameran begini lebih sering diadakan, misalnya sehari sekali seperti makan


Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus