Monday, May 23, 2016

Isi Ceramah Ustad Azhar Idrus Di Aceh

Tags



 Saya melihat sebuah share-an di Facebook kalau Ustad Azhar Idrus (UAI) akan berceramah di Aceh. Khususan di masjid Fathul Qarib UIN Ar-Raniry. Saya menjadi galau karena malam yang sama hari ini 22 mai 2016 jam 19.00 itu jadwal MotoGp Mugello, Ustad Azhar  berceramah satu jam setelahnya. Pilih MotoGp atau dengar ceramah? Saya pilih MotoGp. Tapi pembalap kesayangan saya mesinnya rusak jadi tidak bisa menghabiskan semua lap. Jadi saya mengencangkan kain sarung dan menuju masjid kebangaan UIN, Fathul Qarib.

                Setibanya di sana banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi Malaysia berkumpul. Kalau dulu waktu kuliah disana ada sekitar 30% yang saya kenal jamaahnya di masjid langganan ini. Ini yang saya kenal sekarang cuma dua-tiga orang itupun dua yang saya pengaruhi di warung kopi tempat menonton Rossi tadi. Si Muhajir anak FLP baru itu yang menyapa saya di tempat wudhu. Menyapa dan duduk. Lalu setelah shalat isya kami menunggu UAI. Tak lama ustad datang, dan moderator berbahasa Malaysia yang sedikit diantaranya saya mengerti kalau nanti ustad berbicara kami harus menjaga adab. Saya mengambil saf paling depan. Kiri-kanan orang Malaysia. Kanan sedikit sebelah sana bang Fakrur Ramadan. Teman orang Aceh yang yang jauh-jauh dari warung kopi Batoh.

                Ustad di persilahkan duduk. Dengan senyumnya yang khas, beliau berkata dia ke Aceh untuk berlibur. Karena liburan ke Singapura mahal, jadi dia liburan ke sini. Dan beliau katanya ingin belajar dari mahasiswa Malaysia yang ada di Aceh. Lalu panitia memberikan beberapa lembaran kertas berisi pertanyaan-pertanyaan. Yang pertama masalah Mazhab. Katanya kita boleh tidak bermazhab kalau kita lebih pandai dari imam mazhab. Beliau menambahkan sekarang sudah ada mazhab kelima kata beliau yaitu mazhab Fesbuki, dimana ada ustad-ustad entah dari mana suka member fatwa.

Kemudian soalan khutbah, nabi saat khutbah matanya merah, bicaranya  seperti akan ada perang, memegang benda seperti busur untuk menyemangati jamaah. Soal selanjutnya tentang Kentut dua kali, dua kali kentut tidak membatalkan shalat. Karena yang membatalkan shalat adalah kentut yang pertama.

Selanjutnya pertanyaan tentang puasa. Niat puasa menurut imam Hambali, Syafie dan Hanafi kita harus berniat setiap malam karena puasa itu adalah amalan ibadah yang terpisah-pisah setiap malam. Karena ada hadis yang mengatakan Tidak sah puasa kalau tidak ada niat. Tapi menurut mazhab Maliki boleh niat malam pertama saja.

Barangsiapa yang berpuasa mengharap Ridha Allah dan mengaharapkan pahala yang berlimpah, maka Allah akan menghapuskan dosa-dosanya terdahulu. Paling sedikit pahala nanti di Syurga adalah seorang di berikan tanah seluas Yaman sampai syiria, istananya dari emas dan istri 70 orang yang berusia 17 tahun.

Lalu soal boleh tidak yang berpenyakit asma menggunakan inhaler saat dia berpuasa. Ustad menjawab boleh kalau dia hari-harinya memang tergantung dengan inhaler.  Lalu mencicipi makanan boleh.

Nabi di bulan ramadhan melipatgandakan ibadah beliau dari bulan-bulan lainya. Nabi beribadah sepanjang tahun, sedangkan kita menunggu ramadhan baru beribadah.

Masalah jumlah rakaat juga sudah dijawab oleh ulama terdahulu 20 rakaat dianut oleh mazhab Hambali dan Syafiie dan lebih banyak pahala. Sedangkan 8 rakaat banyak dianut oleh ulama ahli hadits. Cuma kurang pahalanya, lebih banyak lebih baik.  

Membaca Al-Qur’an 50 ayat/hari kita tidak akan tercatat lagi dalam golongan orang-orang yang lalai. Imam syafiie pernah tahajud di dalam Ka’bah dua rakaat, satu rakaat beliau membaca 15 juz Al-qur’an beliau masuk Ka’ban selepas Isya dan pulang sebelum Subuh, saat ditanya murid-muridnya. Beliau menjawab ini amalan Utsman Bin Affan. Terdapat perbedaan pendapat ulama mana amalan sunat terbaik. Antara Witir, tahajjud dan Dhuha. Ada juga ulama berpendapat amalan sunat terbaik itu mengkhatamkan Qur’an dalam shalat.

Beliau juga menceritakan pengalaman beliau menuntut ilmu. Beliau membaca kitab fatwa saat belajar sebanyak 5 jam perhari 16-17 kitab perbulan, selama 12 tahun. Dengan cara Tallaqi. Beliau juga dijemput sama gurunya setelah gurunya mengajar dan belajar bersama guru di rumah dengan sangat sungguh-sungguh. Beliau disuruh gurunya kalau ngantuk sekali, baca lima kitab saja baru tidur. Usia 7-20 tahun adalah masa yang baik untuk belajar agama. Dulu orang belajar  Tallaqi di Mekkah 25 tahun masih disebut anak baru, belum ustad, sekarang 4 tahun belajar sudah disebut ustad.


Kalau kita tidak tahu tentang sesuatu, jangan bagi tahu, tanyalah orang yang lebih tahu atau diam lebih baik. Jangan kita lebih dari ulama, kalau member fatwa tanpa ilmu itu sesat dan menyesatkan. Islam ini agama Boleh. Bukan agama Haram. Sekarang ada kaum datang kepada kalian dan berkata ini haram, itu haram! Itu bukanlah kaum yang patut kita ikuti.

                Ustad bukanlah orang yang berpendapat, lanjut beliau lagi. Beliau hanya menyampaikan pendapat para fuqaha. Jawaban soalan tetang hokum-hukum itu sudah ada, Cuma ustad sampaikan sebagai perantara berapa banyak orang yang diam lebih pandai daripada orang yang berbicara.
Di akhir menjawab soalan mahasiswa Aceh, Patani dan Malaysia di Masjid satu-satunya UIN Ar-Raniry ini ustad Azhar Idrus berpesan kepada semua mahasiswa supaya mengharumkan nama institusi, dan mengharumkan nama Negara masing-masing.


EmoticonEmoticon