Monday, June 20, 2016

Perang Blogger Aceh

Tags
Saya lupa kapan pertama bikin blog, yang saya ingat adalah saat pertama bikin facebook di tahun 2008. Dari facebook berjumpa teman-teman secara online sampai suatu saat nanti berjumpa di dunia nyata. Satu persatu dalam acara, di tempat wisata atau berjumpa sengaja karena ada keperluan mendadak misalnya bagi-bagi film terbaru. 


  Di kemudian hari terjadilah acara berkumpul teman-teman sehobi. Saya berjumpa dengan teman-teman yang sudah punya blog pribadi yang keren. Pertama berjumpa dengan blogger asal Sigli. Ada abang Taufik Mubarak yang punya blog Jumpung.com. beliau penulis Aceh Pungo dan Aceh tapi nyata, merupakan abang letting di SMP yang tidak jumpa. Karena beda letting jauh. Dari beliau saya tahu kalau dari blog itu bisa dapat uang dari gugel, beliau ambil pertahun. Pada saat itu saya tidak tertarik. Lalu berjumpa dengan Makmur Dimila. Karena agak sebaya dan sering berjumpa, kami jadi berkerja sama, dan diberikan kesempatan menulis beberapa tulisan di blognya yang terkenal seantero dunia Safariku.com. 



  Dan kemudian bertemu kak Liza, beliau membuka acara pertemuan blogger sebanda Aceh di warkop 3 in One. Disitulah saya berjumpa dengan banyak blogger, tapi yang kenal Cuma beberapa. Di situ hari itu pas masa tu lah saya pertama jumpa sama Hijrah Saputra dan Makmur Di Mila. Sebenarnya saya tidak begitu mengenal anggota Aceh Blogger Community (ABC) kalau Gaminong Blogger (GIB) memang baru di add bulan lalu (juni 2016) ke grub WA mereka. Tidak begitu mengenal dan tidak mau kenal orang karena latar belakang mereka apa. Karena saya pelupa, kadang teman yang jarang berjumpa harus loading dulu di koneksi yang lambat ini siapa dan dari blogger mana.


  Hadirnya komunitas blogger di Aceh merupakan berkah yang tidak terhingga, dulu yang menulis tentang  Aceh orang belanda, sekarang udah ada orang Aceh yang menulis tentang Aceh. Beberapa blogger menulis supaya yang baca datang ke Aceh. Mereka kadang menulisnya bukan karena keingginan sendiri, tapi untuk ikut lomba. Tapi beruntunglah kita pembaca, karena selalu tulisan yang diperlombakan biasanya bagus luar biasa. Seperti tulisan Ferhat Muchtar, Riza Rahmi, Fardelyn Hacky, Yudi Randa dan yang lain yang tidak disebut jangan marah. 


  Kadang saya iri pada orang-orang blogger ini, duduk-duduk di depan laptop dapat uang tiap bulannya. Saya duduk tiap hari didepan laptop hanya mendonload film sampai laptop rusak dan saya pula harus membayar perbaikan dan minuman di warung dimana saya duduk.


  Karena iri, saya juga belajar. Tapi sampai sekarang belum berhasil untuk mendapat keuangan dalam perblogan. Jadi saya sementara Cuma mengisi blog dengan tulisan yang saya ingin tulis, bukan yang paling banyak di cari orang di google. Karena menulis pun masih pemula, jadi semua butuh proses yang panjang minimal 80 tahun. 


  Teman blogger yang lain yang dari raut wajahnya beliau sudah banyak makan asam garam kehidupan dalam dunia menulis di laptop dan di opload ke internet adalah bang Sayed Fadhil Asqar dan Ariel Kahhari. Ada Trainer Nasi bungkus.com dan Arielogis.com. bang sayed saya jarang baca tulisan beliau, tidak ingat pun beliau pernah nulis apa. Tapi kayaknya blognya sudah lama.



  Kalau Bang Ariel tidak perlu kita baca pun tulisannya sudah banyak masyakarat Indonesia yang baca, tulisan beliau yang controversial dan fenomenal berjudul Jangan Menikah dengan gadis Aceh, sampai sekarang masih ada yang baca.

  Ada juga penulis aktif di blog seperti Muhadzier Maop, Idrus Bin Harun dan Ibnu Syahri Ramadhan. Tidak tahu saya mereka masuk dalam blogger yang mana, yang penting saya berteman dan terus menggangu mereka kalau jarak kami dekat dan mencoba mengajak  ngopi bersama. Lalu apa salahnya kita punya tulisan, grub atau kampung yang beda, bukankah perbedaan itu rahmah, pelangi saja beda warnanya.

Friday, June 10, 2016

Sedapnya Ie Bu Kanji Meunasah

Tags


Bermacam-macam kesenangan melanda kaum muslimin ketika ramadhan datang,  ada yang senang karena tidak  bekerja pagi karena warung makanan tempat dia bekerja tidak buka, ada juga yang senang karena di bulan yang mulia ini sudah bisa berjualan kolak lagi.

        Anak-anak senang karena setiap sorenya bisa memakan banyak macam makanan basah. Bagi orang dewasa yang senang karena bulan puasa bulan penuh ampunan, bisa mengandakan amalan. Bahkan kalau dapat lailatur qadar sama seperti beribadah seribu bulan.


Budaya makan orang Aceh memang sudah maju sejak dahulu kala, bahkan ada hadih maja tentang makanan seperti “asai meupe teupong dumpeu kueh jeut tapeugot”  kalau tahu tepungnya, membuat kueh jadi gampang.  bahkan ada lagu tentang makanan, yang liriknya kurang lebih begini, breuh bit luekat adang, peugot makanan, peu yang hawa.

 


        Bagi yang tak sanggup membeli makanan bermacam macam, menasah biasanya menyediakan Kanji untuk berbuka. kanji itu adalah semacam bubur yang di di masak menggunakan bahan-bahan lebih kurang seperti di bawah ini; jera-maneh, bungong lawang kleng, bungong lawang geutanyoe,  rheu, breuh bit (beras) dan air sebanyak 7 galon perhari.

        Bahasa Acehnya di sebut Ie bu kanji. Makhluk cair  ini di masak sejak siang di dalam kuali yang besar, ini gunanya supaya seluruh masyakarat desa dapat bagian dalam merasakan masakan yang biasanya pria yang mengedalikan dayung untuk mengaduk ini.

 

Kanji ini sudah ada sejak ayah saya masih anak-anak. Ayah sekarang umurnya 59  tahun.  Menurut cerita beliau semalam, di masa kanak-kanaknya suka memasukkan kelapa muda kedalam api di bawah kuali tempat kanji itu dimasak. Tapi setelah kelapa di masukkan ke api, harus di jaga, karena kalau kelamaan kelapa muda bisa meledak. Kalau belum pernah mencoba kelapa muda bakar, main-mainlah kemari.

 

 

 Kanji seputaran tahun itu dimasak dengan kayu bakar (rujei).  Rujei di cari di hutan, dari kayu-kayu kering. Yang besar di belah-belah, yang kecil segera dilempar kedalam api.   ini untuk apa dijelaskan?

 

Tukang masak biasa di pilih yang enak masakannya di desa. Setiap harinya berbeda penyumbang bahan-bahan yang diperlukan untuk memasaknya. Kalau penyumbangnya orang kaya, hari itu kita bisa dapat ie bu kanji ayam atau udang.  Karena biasa kalau orang kaya akan memberi banyak uang dan pemasak akan membelikan udang atau ayam untuk di potong kecil-kecil sebesar dadu dan di masak bersama kanji. Hah? Kecil-kecil sebesar? Kalimat macam apa itu?

 

Kanji ini dulunya sebagai tambahan ta’jil untuk masyarakat desa, tapi kemarin saya ambil kanji di masjid kampong kami, ada banyak yang mengantri dan dengan wajah penuh harap seolah-olah itu satu-satunya ta’jil.

 

Kami dulu waktu kecil menunggu dari selepas zuhur abang ini memasak, sebut saja namanya Bang Ariel. Pertama-tama dia akan mencincang-cincang bawang, membuat simpul dengan daun serai (rheu?) mencuci bahan-bahan lain, menyiangi udang atau menyembelih ayam. Mencuci beras tiga kali suci. Lalu mulailah dia memanaskan api. Hah?

 

Tempat membuat ie bu kanji ini biasanya khusus di buat di komplek  menasah, kalau di gampong. Tapi di Blang Paseh, Kota Sigli ini, ie bu nya dimasak di masjid. Ruangan itu seperti gubuk kecil Sekitar 4x4 m. tergantung dana desa. 

 

Di dalam kamar dapur itu ada sebuah kuali besar, dayung perahu untuk mengaduk kanji. Di dinding terikat beberapa tangkai daun salam, dayung cadangan kalau dayung utama patah. Di pojok kiri-kanan ada seplastik garam, di bawah meja ada buah kelapa tua di atap ada burung kakak tua.

 

 

 

        Di jendela ada anak-anak dengan memegang alat masing-masing ada yang memegang cerek emas hadiah dari Arab dalam berbagai ukuran, ada yang bawa gayung,  gelas dalam ukuran besar dan Tupperware kalau sudah ada. Pokoknya sesuatu wadah yang biasa menampung cairan panas minimal satu liter. Tapi jangan bawa anggota DPR walaupun mereka kadang kadang bisa menampung aspirasi rakyat.

 

Setelah Asar Tgk Imam akan mengumumkan kalau ie bu kanji sudah boleh diambil di menasah. Maka Bang Ariel mulai menuangkan dengan hati-hati kepada warga yang mengantri, tapi biasa tidak ngantri siapa saja yang Nampak cerek di dekat aweuk (apa bahasa indonesianya?) laju di tuang ie bu kanji, yang beruntung akan mendapatkan banyak udang, yang tidak beruntung dapat simpul daun serai.


 

Thursday, June 2, 2016

Ketika Kami Sadar Kalau Itu Mungkin

Tags
Teman-teman pria bertemu teman pria lainnya yang akrab mereka akan saling mengejek, walaupun itu  bercanda. Sedangkan teman-teman wanita bertemu temannya mereka akan saling memuji, walaupun itu juga bercanda. Yang paling akrab dari teman-teman saya sejak 2004 adalah teman-teman SMU yang berdomisili di Banda Aceh selama kuliah dan setelahnya. Tapi bagian pria saja. Yang wanita selain tidak boleh akrab sekali karena tuntunan agama, juga ada dari mereka yang tidak bisa dipeukaru karena sudah ada suaminya.
          Teman-teman yang sama-sama tiga tahun dua puluh empat jam bersama di Asrama Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB). Saat itu kami satu komplek dengan asrama putri PGSD, tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Karena kalau diceritakan juga tidak ada hal yang romantis disana karena pada masa itu kami tidak tertarik menjalin cinta dengan wanita yang jauh lebih tua usianya.
          Yang mau saya cerita sedikit adalah kisah tentang kawan yang sudah menuliskan tentang aku tapi tak disebut namanya beberapa saat lalu, dia sebenarnya juara satu menulis cerpen saat di RIAB tapi sekarang sibuk sekali membangun raksasa bisnisnya, jadi dia tak sempat lagi menulis. Saya ingat sampai sekarang  sedikit tentang cerpennya, judulnya Andai Sedetik Aku Sadar Lebih Awal. Ceritanya tentang seorang anak, dengan seseorang yang memfoto tumpukan ikan, memfoto hal lain yang di akhir cerita ikan itu jadi tumpukan mayat dan foto lain juga jadi lain yang berhubungan dengan konflik di tahun kami sedang sekolah itu. Maka menanglah dia, dan dapat hadiah, aku tak dapat karena tak menang dan cerpenku malah tak masuk nominasi.
          Di kelas juga dia jadi ketua kelas, sedangkan aku tidak ada jabatan apa-apa. Tapi kewajiban ketua adalah melaksanakan siap setiap guru masuk. Siap disini adalah rangkaian berdiri, memberi penghormatan pada guru dan memimpin baca doa. Pray begin! Adalah teriakan yang di olok-olok sama teman-teman karena saat itu bahasa inggris sangatlah asing, dan menurut kami pengucapannya salah. Jadi beberapa saat nama kawanku ini bertambah di ujungnya jadi Muhammad Prey begin.

          Yang paling menjijikan juga adalah mengaku ganteng secara serius. Banyak teman-teman memang ganteng. Tapi mereka tidak mengaku, seperti Munawar, Polo, Mahijir, Inayah dan dengan berat harus kukatakan Mirjan. Ini ditinjau dari ganteng warna kulit dan kebersihan. Bagiku semua pria itu ganteng menurut ibunya masing-masing dan sekarang istrinya masing-masing. Tapi mengaku diri ganteng pada teman-teman yang ragu terhadap wajahnya itu adalah hal yang mengherankan. Tapi kita jangan berlarut-larut disini karena ganteng itu tak penting yang penting adalah taqwa.
          Lalu dia bercita-cita jadi dokter. Itu lebih mustahil lagi bagi kami kawan-kawannya daripada mengaku diri ganteng. Ganteng dan jadi dokter adalah dua hal yang tidak mungkin terjadi padanya menurut hemat kami sebagai kawan sepengolokan. Seperti pelecehan lain terhadap teman lain bahwa walaupun pandai, bagi kami tetap mencari dimana kelemahannya untuk bisa bagian mana yang harus diejek.
          Seperti ada teman yang wajahnya agak tua, maka akan diejek bahwa dia pernah hidup dimasa nabi Musa. Ada teman yang sedikit hitam, akan diejek kalau dia dari afrika dan tidak Nampak kalau malam dan mengidap ebola. Ada juga teman yang sedikit lambat merespon akan dikatakan slow dan kalau ada undangan harus dia yang diutamakan. Ada juga yang terlalu cepat mengantri makan akan disebut Michael Schumacer karena saat itu dia yang tercepat di formula satu. Bahkan ada ejekan yang menjurus pada penyamaan teman dengan binatang. Tapi bagi yang sudah dewasa dan mengerti sifat lelaki memang begitu mereka tidaklah kemudian marah, malah tertawa.
          Setelah tamat sekolah juga ejekan masih berlangsung sambil kuliah ditempat pilihan masing-masing. Abang prey begin tidak bisa masuk dikedokteran ditahun pertama. Prediksi kami masih terbukti, dia tidak ganteng dan tidak juga jadi dokter.

Bencana tsunami terjadi di tahun kedua kami kuliah, beberapa teman akrab meninggal dunia. Beberapa teman tidak bisa melihat keluarganya karena mereka kuliah di Mesir. Mereka menyumbangkan Yasin kepada yang meninggal dan yang dikira meninggal termasuk aku.  Karena beredar  isu Tsunami keluar negeri adalah Aceh sudah tenggelam seluruhnya.

          Abang itu lalu lewat kedokteran ditahun ini, buruk sangka kami adalah memang semua jurusan mudah ditembus saat berakhir bencana karena banyak warga dan mahasiswa yang sudah kembali pada Allah. Tapi rupanya dengan pembelaan-pembelaan bahwa orang Medan, Padang dan Papua juga mendaftar di Kedokteran Unsyiah pada masa pasca Tsunami itu.  Persaingan juga hidup dan alasan-alasan dia memang pintar.

Prediksi kami salah besar, dia berhasil menjadi dokter bahkan lebih pintar dari dokter yang lulus ditahun sebelumnya dari leting kami dalam beberapa hal misalnya kedekatan dengan pejabat, bisa menyelenggarakan sunat massal/bisa menyunat anak dalam jumlah besar perhari. Dengan hal-hal positif yang beliau lakukan untuk masyarakat juga dengan menikah dia menjadi ganteng dengan sendirinya.