Ketika Kami Sadar Kalau Itu Mungkin

Teman-teman pria bertemu teman pria lainnya yang akrab mereka akan saling mengejek, walaupun itu  bercanda. Sedangkan teman-teman wanita bertemu temannya mereka akan saling memuji, walaupun itu juga bercanda. Yang paling akrab dari teman-teman saya sejak 2004 adalah teman-teman SMU yang berdomisili di Banda Aceh selama kuliah dan setelahnya. Tapi bagian pria saja. Yang wanita selain tidak boleh akrab sekali karena tuntunan agama, juga ada dari mereka yang tidak bisa dipeukaru karena sudah ada suaminya.
          Teman-teman yang sama-sama tiga tahun dua puluh empat jam bersama di Asrama Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB). Saat itu kami satu komplek dengan asrama putri PGSD, tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Karena kalau diceritakan juga tidak ada hal yang romantis disana karena pada masa itu kami tidak tertarik menjalin cinta dengan wanita yang jauh lebih tua usianya.
          Yang mau saya cerita sedikit adalah kisah tentang kawan yang sudah menuliskan tentang aku tapi tak disebut namanya beberapa saat lalu, dia sebenarnya juara satu menulis cerpen saat di RIAB tapi sekarang sibuk sekali membangun raksasa bisnisnya, jadi dia tak sempat lagi menulis. Saya ingat sampai sekarang  sedikit tentang cerpennya, judulnya Andai Sedetik Aku Sadar Lebih Awal. Ceritanya tentang seorang anak, dengan seseorang yang memfoto tumpukan ikan, memfoto hal lain yang di akhir cerita ikan itu jadi tumpukan mayat dan foto lain juga jadi lain yang berhubungan dengan konflik di tahun kami sedang sekolah itu. Maka menanglah dia, dan dapat hadiah, aku tak dapat karena tak menang dan cerpenku malah tak masuk nominasi.
          Di kelas juga dia jadi ketua kelas, sedangkan aku tidak ada jabatan apa-apa. Tapi kewajiban ketua adalah melaksanakan siap setiap guru masuk. Siap disini adalah rangkaian berdiri, memberi penghormatan pada guru dan memimpin baca doa. Pray begin! Adalah teriakan yang di olok-olok sama teman-teman karena saat itu bahasa inggris sangatlah asing, dan menurut kami pengucapannya salah. Jadi beberapa saat nama kawanku ini bertambah di ujungnya jadi Muhammad Prey begin.

          Yang paling menjijikan juga adalah mengaku ganteng secara serius. Banyak teman-teman memang ganteng. Tapi mereka tidak mengaku, seperti Munawar, Polo, Mahijir, Inayah dan dengan berat harus kukatakan Mirjan. Ini ditinjau dari ganteng warna kulit dan kebersihan. Bagiku semua pria itu ganteng menurut ibunya masing-masing dan sekarang istrinya masing-masing. Tapi mengaku diri ganteng pada teman-teman yang ragu terhadap wajahnya itu adalah hal yang mengherankan. Tapi kita jangan berlarut-larut disini karena ganteng itu tak penting yang penting adalah taqwa.
          Lalu dia bercita-cita jadi dokter. Itu lebih mustahil lagi bagi kami kawan-kawannya daripada mengaku diri ganteng. Ganteng dan jadi dokter adalah dua hal yang tidak mungkin terjadi padanya menurut hemat kami sebagai kawan sepengolokan. Seperti pelecehan lain terhadap teman lain bahwa walaupun pandai, bagi kami tetap mencari dimana kelemahannya untuk bisa bagian mana yang harus diejek.
          Seperti ada teman yang wajahnya agak tua, maka akan diejek bahwa dia pernah hidup dimasa nabi Musa. Ada teman yang sedikit hitam, akan diejek kalau dia dari afrika dan tidak Nampak kalau malam dan mengidap ebola. Ada juga teman yang sedikit lambat merespon akan dikatakan slow dan kalau ada undangan harus dia yang diutamakan. Ada juga yang terlalu cepat mengantri makan akan disebut Michael Schumacer karena saat itu dia yang tercepat di formula satu. Bahkan ada ejekan yang menjurus pada penyamaan teman dengan binatang. Tapi bagi yang sudah dewasa dan mengerti sifat lelaki memang begitu mereka tidaklah kemudian marah, malah tertawa.
          Setelah tamat sekolah juga ejekan masih berlangsung sambil kuliah ditempat pilihan masing-masing. Abang prey begin tidak bisa masuk dikedokteran ditahun pertama. Prediksi kami masih terbukti, dia tidak ganteng dan tidak juga jadi dokter.

Bencana tsunami terjadi di tahun kedua kami kuliah, beberapa teman akrab meninggal dunia. Beberapa teman tidak bisa melihat keluarganya karena mereka kuliah di Mesir. Mereka menyumbangkan Yasin kepada yang meninggal dan yang dikira meninggal termasuk aku.  Karena beredar  isu Tsunami keluar negeri adalah Aceh sudah tenggelam seluruhnya.

          Abang itu lalu lewat kedokteran ditahun ini, buruk sangka kami adalah memang semua jurusan mudah ditembus saat berakhir bencana karena banyak warga dan mahasiswa yang sudah kembali pada Allah. Tapi rupanya dengan pembelaan-pembelaan bahwa orang Medan, Padang dan Papua juga mendaftar di Kedokteran Unsyiah pada masa pasca Tsunami itu.  Persaingan juga hidup dan alasan-alasan dia memang pintar.

Prediksi kami salah besar, dia berhasil menjadi dokter bahkan lebih pintar dari dokter yang lulus ditahun sebelumnya dari leting kami dalam beberapa hal misalnya kedekatan dengan pejabat, bisa menyelenggarakan sunat massal/bisa menyunat anak dalam jumlah besar perhari. Dengan hal-hal positif yang beliau lakukan untuk masyarakat juga dengan menikah dia menjadi ganteng dengan sendirinya.


         
         

         

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus