Friday, July 15, 2016

Wisata Laweung Tak Hanya Ujoeng Pi dan Gua Tujuh Lho!



Hari ini kami rencananya mau makan mie ikan di Ujoeng Pi Laweng, Pidie. Tempatnya tidak jauh dari kota Sigli, sekitar 40-50 km. Memasuki Simpang Beutoeng -Ada kok di jalan Banda Aceh-Medan yang di tulis di petunjuk jalan yang ada tulisan arah Laweng dan Guha Tujuh itu namanya simpang Beutong,  lalu kita jalan terus lurus ke Pelabuhan Ujoeng Pi, belok kiri jangan belok kanan, kalau ke kanan Guha Tujoh.  Mie di sini sangat terkenal ke seluruh penjuru Kabupaten, banyak PNS yang di waktu senggang kantor kemari untuk mencicipi mie ikan segar. 


Sebenarnya dulu ini hanya tempat pelabuhan ikan biasa, dengan dermaga sederhana yang dipakai untuk kapal mendarat dan orang memancing, setelah ada dermaga yang bagus dan mie yang terkenal enak, masyakarat banyak mulai kemari untuk mencicipi. 

Beruntung sekali saat kami datang. Ada nelayan yang baru saja berhasil menyelamatkan lobster yang tenggelam. Setelah dua kali merayu kami untuk membelinya. Akhirnya di rayuan pertama kami berhasil memperoleh lobster yang besar-besar empat ekor dengan harga lima puluh ribu saja.


Setelah mengecek harga di Traveloka, tenyata harga nasional 300-400 ribu perkilonya. Waa! Sambil menunggu tempat jual mie buk, kami keliling Pelabuhan, melihat perahu yang kepantai dan pulang dari melaut. 

Kami juga ikut terlibat dengan bahagia dalam menarik pukat, dan masyarakat di sini sangat bahagia menerima kami. Mereka senyum-senyum melihat ‘orang kota’ mau berbaur dengan pendudduk lokal. Padahal kami dari desa juga. 

Keramahan juga ditunjukkan para nelayan yang baru pulang dari laut. Dia malah berteriak dari perahu
“ka kamera kamoe”
Menyuruh kami untuk memotret mereka. Selain ramah juga mereka menjual ikan dengan harga murah.
Ikan yang dipasar ratusan ribu, disini bisa didapatkan dengan puluhan ribu saja. Bayangkan ikan suru (ungkot sure, tongkol) atau yang besarnya disebut ame-ame. Yang biasanya di pasar 150 ribu disini dapat 70 ribu saja.


            Kami juga jadi tahu sirkulasi meuge ungkot (penjual ikan keliling) bagaimana system kerjanya. Rupanya, mereka pagi-pagi sudah mangkal di Pelabuhan Ujoeng Pi ini untuk menunggu ikan yang diselamatkan dari laut oleh nelayan. Mereka menawar dengan harga rendah dan di jual ke kampong dengan harga mahal dan ditawar lagi dari ibu-ibu di kampong dengan harga termurah.

            Yang terkenal mie di warung sederhana di dekat pelabuhan. Dia satu-satunya pemasak mie di wilayah ini. Rela mempesiang ikan apa saja yang kita bawa, udang kah, kepiting kah, lobster kah, hiu kah sampai yang paling diminati disini, ikan suru. Harga per satu mie juga tidak sampai sepuluh ribu. 


Selain kuliner, pemandangan laweung juga tidak kalah dengan Switzerland. Kami menelusuri jalan menuju banda Aceh via krueng Raya. Dari Laweung ini ke krueng Raya hanya 45 km saja.


Kami pun mencobanya. Pemandangannya di sisi kanan laut dan sisi kiri gunung. Tumpukan-tumpukan gunung hijau ini bagaikan tumpukan tempurung yang ditanami rumput. Dari kejauhan Nampak megah dan biru gunung Seulawah. Gunung yang hijau ini dimanfaatkan peternak untuk mengembala kambing dan lembu. Sedangkan petani menanam cabe. Kalau kambing memakan cabe, dia akan kepedasan. Eh?


Karena terpesona melihat keindahan alam, tidak terasa kami sudah sampai ke Aceh Besar. Lampanah, kemudian sampai ke Beurenut dan akhirnya berhenti di pantai pasir putih. Jalan hanya 800 meter lagi belum diaspal. Selebihnya mulus gan. Juga sudah ada markas tentara juga polsek. Sebenernya jalan ini direncanakan pemerintah untuk jalan truk yang dari medan dan truk-truk pulang dari Banda Aceh. Tapi belum bisa diterapkan karena ada jembatan yang belum siap untuk truk.


Dijalan terlihat ibu-ibu membawa kacang kuning dalam ember diatas kepalanya. Ada juga yang membawa piring habis dicuci dan juga pakaian juga dalam ember diatas kepala, keseimbangan luar biasa yang tak dapat dipraktekkan cewek-cewek yang ikut yoga di kota.
Di sisi kiri kanan jalan juga ada beberapa lahan usaha seperti tambang pasir hitam yang sudah modern ada excavator dan pengayak pasirnya.

Bersambung...



           

Tuesday, July 12, 2016

Hari Pertama Idul Fitri di Sigli

Tags
Fungsional ruang tamu selawet Idul Fitri ini menjadi maksimal. Tamu Ibu, Ayah dan Adik-adik disanalah mulai menjajal. Bertamu, bersilaturahmi intensitas tinggi dilakukan masyarakat Aceh setiap seminggu pertama lebaran sudah menjadi tradisi sejak Islam datang.
 
 
Awal dari ramenya orang di jalan mengunjungi saudara mereka secara terang-terangan adalah setelah masa damai Antara GAM dan TNI. Kini setiap motor, setiap mobil, setiap sepeda yang sehat wal-afiat keluar kejalan untuk mengantar pemiliknya ketempat tujuan.
 
 
Anak dayah pergi ke Teungkunya. Pegawai pergi ke Atasannya. Yang kerja di perusahaan pergi ke Tokenya. Anak Sekolah pergi ke Gurunya. Anak Mahasiswa pergi ke dosennya. Yang belum punya anak, sedih hatinya.
 
Beberapa rumah orang besar, besar pula rumahnya. Kadang aku suka sinis, keupe rumoh raya that tapi ureng duek dua droe.(kenapa rumah begitu besar penghuninya cuma dua orang)
Tapi lebaran ini melihat tamu-tamunya, kelihatan rumah besar, masih kurang cukup besar untuk menampung handai taulan yang datang.
 
 
Bersilaturrahmi memanjangkan umur, silaturrahmi adalah kegiatan sehari-hari penghuni syurga jika ada tamu yang bertandang kerumah berarti rumah kita di berikan beribu keberkahan dan mutiara kebaikan di dunia ini adalah teman-teman yang soleh, Begitu syarahan agama yang pernah saya dengarkan dikalangan status kawan-kawan.
 
 
Makanya dari dulu sampai sekarang, Orang-orang kampung di Aceh asal kita kerumahnya saudara bukan sesiapa bukan tapi tetap saja disuruh masuk. 
 
 
“Piyoh, tamong urumoh, tamong ilei” tetap ada di suara-suara penghuni rumah kalau kita dekat. Mungkin inilah filosofi rakyat Aceh yang ditebarkan oleh endatu-endatu kita. suasana rumah adat Aceh juga sangat welcome terhadap tamu-tamu.
 
 
Lihat saja kamar mandi di rumah Aceh, tetap di depan rumah. Anak gadis yang mandi di depan rumah mengundang lebih banyak lagi tamu. Padahal yang mau saya tulis bukan itu. Maksudnya tamu-tamu dari jauh, akan tidak sungkan-sungkan meminta di tunjukkan toilet kalau mau fresh-up ketika baru tiba kerumah, mau cuci muka atau buang air kecil karena lelah di perjalanan.
Tidak seperti sekarang, kamar mandi dirumah sudah didalam. Jadi birokrasi ke kamar mandi saat bertamu kalau mau pi pi harus di tahan, pi pi juga menjadi standarisasi saat lamaran, orang tua kalau mau melamar anak orang, juga lihat kamar mandi calon mak tuan, kalau kamar mandinya bersih, berarti kamar mandinya baru dibersihkan. #hoigrop
 
 
Jamu atau jamei. Datang dengan lima alasan. Satu lebaran. Dua ada keperluan. Tiga ada permasalahan, empat minta sumbangan, lima dan lain lain. Tapi ini saya mau tulis khusus lebaran.
Anak-anak dengan celana kebesaran di lipatan pinggang, celana jeans yang bergambar dengan jahitan, baju juga kebesaran bergambar kadang- kadang kemeja. Cuma lebaran mereka yang biasa tak pakai baju bola, biasanya kita melihat pemain idola kita dimana-mana. Kadang ingin berfoto dengan Messi, rasanya mudah sekali. Memang lebaran itu merupakan kesenangan luar biasa untuk anak.
 
 
Kalau di Negara API (Aceh Pidie Islami) ini pusat anak-anak lebaran adalah di Alun-alun tepi pantai. Mereka bercengkarama dengan teman-temannya yang jauh pergi dari desa. dengan gaya kampungan dan perdesaan, baju harga puluhan ribu dan berwarna mencolok. Padahal dulu aku kek tu uga.
Lebaran adalah kesempatan besar untuk bertamu. Selain ada kue, banyak berkahnya kita juga bisa kembali merajut cinta yang dulu ragu-ragu dengannya. Dengan bersilaturrahmi kita merasa lebih hidup dan kembali mengupdate situasi, kondisi dan kolaborasi teman-teman seangkatan.
 
 
Lihatlah, teman-teman yang berpergian lebih bahagia hidupnya dari anak rumahan. Minimal foto-foto traveling mereka mengandung ekspresi gembira sedangkan ekspresi foto anak rumahan suram tanpa gaya. Dalam ilmu psikologis juga kita disuruh banyak jalan-jalan bersilaturrahmi. Tempat yang baru kawan yang baru dan pemandangan yang baru. Kalau kita disitu-situ aja, ibarat membaca buku tapi satu halaman saja.
 
 
Karena manusia sebagai mahluk sosial, tidak akan diampuni dosa sesama manusia kalau belum minta maaf pada manusia yang kita buat salah itu. Makanya pergilah, karena zakat membersihkan harta sedangkan silaturrahmi membersihkan dosa antara dua kubu manusia yang berselisih paham.
 
 
Karena kita tidak tahu, mungkin anak-anak saudara semakin cantik setiap tahunnya. Siapa tahu dia khilaf dan silap mata, nanti bisa jadi seandainya tidak ada lagi lelaki lain dan ras manusia harus diselamatkan, dia jadi suka sama kita. 
 
Saya Riazul Iqbal, ditunggu dirumah tahun depan!

Tuesday, July 5, 2016

Aceh Perlu 1000 Muzammil Hasballah

Tags


Demam Muzammil Hasballah melanda Aceh, terutama Pidie. Beberapa hari sebelum beliau pulang, berita sudah tersebar melalui dunia maya tentang dia akan menjadi Imam di Masjid Taqwa di depan RSU Sigli. Berbondong-bondong manusia kesana malam ini, saya juga termasuk dalam golongan manusia –siapa yang Tanya-, juga terlibat dalam shalat disana, ikut-ikutan! Kan lumanyan sekali, biasanya beliau kita nonton di Youtube, kini sudah ada di depan mata. Tapi gak juga di depan mata, karena dapatnya saf paling akhir, jadi dia jauh dimata. Tapi bisa mendengar suaranya dari pengeras suara.


          Masjid Taqwa yang malam sebelumnya (malam ke 28) jamaahnya cuma dua saf, malam ini penuh dengan kaum muslimin dan muslimah. Tidak hanya orang tua yang bau tanah, tapi juga para remaja dan remaji yang bau parfum mewah. Sangking penuhnya ada yang harus shalat di tempat wudhu! Untung tidak ada yang shalat di toilet, karena haram dan toilet jauh dari masjid. 


Isya berjalan dengan normal dan suara merdu muzammil bertalu-talu sampai akhir tarawih dan witir. Masjid penuh sesak dan malam itu tiba-tiba kekurangan kipas angin sehingga para jamaah selesai delapan rakaat langsung pulang, beberapa dari jamaah langsung mencari tempat ngopi untuk menonton Prancis vs Islandia.  


Setelah babak Pertama yang membuat Prancis menang 3-0, Muzammil kembali mengimami Qiyamul lail di Masjid Agung Al-falah Sigli. Tiba-tiba yang ditakuti Yahudi dalam konferensi beberapa tahun lalu terjadi, yaitu jamaah shalat malam sama seperti jamaah jum’at. Malah lebih dahsyat, separuh masjid  di isi jamaah perempuan. 


Saat saya berwudhu, di samping saya ada yang wudhu anak perempuan, saya berani bertanya
“ngapain kesini?”
“mau lihat Muzammil” Kata Adek tu

          Padahal maksud saya mau menanyakan ngapain disini, bukan ngapain ke masjid, tapi ngapain kesini ini kan tempat wudhu laki-laki, saya tidak melanjutkan pertanyaan begini takut menyakiti perasaan itu perempuan. Baru kali ini saya melihat perempuan yang keluar tengah malam, mana tanggung jawab Walikota? Eh? Dan Nampak sekali adek ini jamaah pemula karena tempat wudhu laki-laki dan wanita tidak tahu beda.


Malam Terakhir Taraweh Muzammil menjadi Imam di Masjid Al-Falah, di masjid Agung Al-Falah yang luas dan megah ini juga tiba-tiba tidak bisa menampung semua jamaah, tempat parkir penuh dengan kendaraan dan para ibu-ibu ada yang harus shalat di teras tempat biasa jamaah menaruh sandal mereka. Jamaah tidak hanya dari kota Sigli saja, tapi juga ada yang khusus datang dari Banda Aceh, untuk melihat imam fenomenal ini.
 Sangat disayangkan,  penuhnya masjid di Subuh ini, di masjid kota Sigli saja, masjid di desa jamaahnya biasa, terdiri dari orang-orang yang sudah sangat  tua, pemuka agama dan beberapa anak muda yang tadarus.


Tapi seandainya banyak Muzammil di Aceh, akan banyak lagi yang mau shalat jamaah. Maka dari itu pemerintah perlu mencetak muzammil-muzammil baru dengan anggaran APBA 2017. Saya pernah mendengar di Arab itu, imam itu di kader sejak kecil, yang bagus suaranya dididik khusus untuk jadi imam masa depan. Posisi imam sama seperti posisi pejabat negara, ada ajudannya, ada mobilnya dan ada pengawalnya. 



Dengan adanya kaderisasi imam, maka bisa jadi jamaah masjid bertambah, seperti juga UERO, yang baik-baiklah yang bertahan sampai final, pemain yang bagus skillnya lah di kontrak klub-klub besar. Pendakwah yang bagus bicaranyalah yang di dengar, maka untuk perkembangan Islam kedepan, perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk menjadikan Islam Indah. Misalnya dengan punya masjid yang bersih, ramah Pria (ada kain sarungnya) ramah wanita (ada banyak stok mukena, berwarna warni dan semua ukuran ada), Imamnya bagus suara dan pas bacaannya dan disediakan Daging Kambing setiap makan siang! What?


Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempengaruhi masyakarat  untuk ke Masjid.  Sejak jaman dahulu sudah ada yang melakukan. Seperti ide masjid Poteumeuruhom dulu, setiap habis Jum’at ada makan apam bersama. Di menasah juga ada tempat-tempat olahraga untuk pemuda, ya tentu saja dengan ketentuan tidak boleh membuka aurat dan hura-hura.



Lalu memaksimalkan remaja masjid juga harus menjadi agenda masjid, dari anak-anak muda lah biasanya muncul ide-ide kreatif kekinian supaya lebih banyak kaum muslimin ke masjid, misalnya ada pustaka masjid yang terbuka untuk umum, sebulan atau seminggu sekali ada majelis tak alim. Lima bulan sekali yang paling banyak ke masjid di berikan jodoh yang soleha kalau dia cowok jomblo.

Banyak Yang berkomentar untuk tulisan sederhana ini, saya mohon maaf kalau salah, diantara komentar yang bagus yang adalah dari Zikri Ib:

Lucu skali..padahal aceh sangat banyak imam2 penghafal quran, dan mreka jg di undang ke beberapa negara tetangga..
Adminnya kurang piknik rupanya
Makanya bek gadoeh duek di miyub bruek..
Sana keluar dan merantaulah..lihatlah aceh dr luar..

Kedua dari Miftahul Umam
 KIRANYA ADMIN PERLU MELAKUKAN SURVEI. PULUHAN RIBU IMAM MUDA TELAH TERSEBAR DAN MAKIN BERKEMBANG. DAYAH ACEH PENCETAK KADER ULAMA.

Dan ketiga dari
ada satu lagi dari sahabat saya Tgk Muzanni

Maaf kalau saya salah dalam tulisan ini, karena saya orang kampung yang tidak tahu menahu soal kaderisasi imam, dan tidak kenal imam-imam lain yang mengharumkan nama Aceh, Masukan teman-teman sangat berharga untuk kebaikan kita dimasa yang akan datang, disini saya tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya sedikit reportase dan pendapat saya tentang Muzammil, kalau tidak berkenan atau ada kritik saran lain saya akan layani di facebook. maaf sekali lagi.

Memang tak layak jadi orang Aceh kalau tak bisa jadi Imam.

Saturday, July 2, 2016

Di Aceh Masih Ada Perang Meriam!

Tags


Siapa bilang perang di Aceh sudah reda? Di seputaran Garot, Pidie masih ada bunyi ledakan setiap saat Idul Fitri tiba. Tidak percaya? Datanglah kemari malam kedua hari raya idul Fitri. Bukan petasan  bukan Bom Rakitan tapi ini Budee Trieng (meriam Bambu). Apa seluruh indonesia ada jenis meriam ini saya kurang tahu. Tapi sejak kecil  saya sudah lihat meriam jenis ini di sebahagian daerah di Aceh, dulu hanya memakai bambu, tapi sekarang dalam perkembangannya sudah ada meriam menggunakan drum bekas dan ada juga mengunakan tiang listrik. 


 Dulu meriam ini mulai dibunyikan malam pertama hari raya setelah isya, tapi pada tahun  2010  ikatan santri di Pidie menyarankan malam ke dua saja, karena malam pertama khusus untuk takbiran. Menurut warga Garot saat saya tanyakan kenapa suka sekali membunyikan meriam ini, mereka bilang karena Aceh sudah terbiasa dengan konflik.  Jika sepi dari ledakan, tidak enak rasanya. Dulu saat menjelang bulan ramadan, kita sudah mendengar bunyi-bunyi letusan “senjata rakitan” ini di berbagai desa di Aceh. Saat konflik, juga terdengar bunyi meriam ini, hanya orang Gam yang membuatnya ya kata para kombatan GAM budee ini untuk menakut-nakuti pasukan TNI.



Budee Trieng mulai semarak lagi setelah Mou Helsinki. Di Garot ini, pemuda bahkan mempersiapkan kesenangan mereka ini sejak 11 ramadan, mereka mencari bambu di hutan sebagai bahan  utama pembuatan meriam yang suaranya terdengar sampai puluhan kilometer ini. 


Sesudah bambu di angkut ke desa, bambu akan dilubangi (direuloeh) dan dibersihkan. Kemudian ditambahkan gula, dan air secukupnya lalu direbus 30 menit di bawah suhu 30 derajat lalu di makan. Eh? Kok jadi resep masakan?


 Bahan yang penting lainnya dalam pembuatan meriam ini adalah karbit, nama ilmiahnya calcium carbide. Bahan kimia yang di jual di toko bangunan ini menurut para ahli memiliki 2 unsur karbon didalamnya apabila di taruh ke dalam air  carbon ini akan bereaksi (meledak) apalagi kalau airnya di ruangan tertututup. Kalau di buka dan di sulut api, akan terdengar bunyi dentuman besar sekali seperti bom Hiroshima dan Nagasari. Eh.. Nagasaki maksud saya.


Yang lebih dahsyat lagi ledakannya meriam yang wadahnya sempit dan berbahankan besi. Misalnya dari tiang listrik bekas atau drum bekas. Tapi untuk meriam Ini para pembuatnya sudah bagian orang dewasa yang tahu masalah welding (pengelasan) jadi drum di sambungkan dari dua sampai lima drum. Tapi kalau sudah lima suara dentumannya sudah tidak terlalu dahsyat lagi. Untuk suara maksimal 3 drum sudah sangat sempurna. Dan kalau bahannya drum akan bertahan lama bisa di pakai beberapa lebaran kalau bolong tinggal di las saja lagi. Kalau meriam bambu biasa anak-anak Garot usia sekolah sudah bisa membuatnya. 


          Sangking antusiasnya masyarakat Garot mereka rela merogoh kocek yang dalam untuk suksesnya acara perang di malam  hari raya Idul Fitri ini. Biasanya yang wajib mengumpulkan kocek adalah anak desa yang sudah sukses yang baru mudik ke kampung halamannya.


Lazimnya Budee trieng yang berbahan bambu di tembakkan dari atas balai (panteu), sebagai simbol pistol karena suaranya kecil sedangkan meriam yang dari drum di benam di tanah atau di buat rodanya seperti meriam Belanda dulu -pakai roda biasa dimunculkan keatas di gunakan kaki di las untuk menimbulkan sensasi mundur saat di ledakkan. sebagai simbol dari bom. Suaranya besar dan menggelegar, Saat pesta di mulai masyarakat sudah bisa bersiap siap. Karena getarannya akan merambat sekitar 500 meter.  Jadi rumah-rumah yang ada foto keluarga atau hiasan di dinding, harus segera diturunkan supaya tidak jatuh.


Animo masyarakat yang ingin menyaksikan pun luar biasa, masyarakat dari seluruh penjuru Pidie keu sini semua malam kedua hari raya. Jalan Garot-Jabal Ghafur sudah seperti Jalan di Jakarta. selalu macet di malam kedua hari raya, trombongan masyakarat ini menyaksikan pesta rakyat ini sampai azan subuh. Karena setelah subuh tidak ada lagi meriam yang berbunyi.
.
          Tapi beberapa lebaran belakangan kemeriahan budee Tring ini sudah berkurang,  kalau dulu sampai 500 batang bambu di potong untuk di buat budee tring, tapi kini hanya 100an saja.
Penasaran bagaimana serunya dentuman-dentuman Budee Trieng? Jangan lupa ke Garot lebaran ini!