Saturday, July 2, 2016

Di Aceh Masih Ada Perang Meriam!

Tags



Siapa bilang perang di Aceh sudah reda? Di seputaran Garot, Pidie masih ada bunyi ledakan setiap saat Idul Fitri tiba. Tidak percaya? Datanglah kemari malam kedua hari raya idul Fitri. Bukan petasan  bukan Bom Rakitan tapi ini Budee Trieng (meriam Bambu). Apa seluruh indonesia ada jenis meriam ini saya kurang tahu. Tapi sejak kecil  saya sudah lihat meriam jenis ini di sebahagian daerah di Aceh, dulu hanya memakai bambu, tapi sekarang dalam perkembangannya sudah ada meriam menggunakan drum bekas dan ada juga mengunakan tiang listrik. 


 Dulu meriam ini mulai dibunyikan malam pertama hari raya setelah isya, tapi pada tahun  2010  ikatan santri di Pidie menyarankan malam ke dua saja, karena malam pertama khusus untuk takbiran. Menurut warga Garot saat saya tanyakan kenapa suka sekali membunyikan meriam ini, mereka bilang karena Aceh sudah terbiasa dengan konflik.  Jika sepi dari ledakan, tidak enak rasanya. Dulu saat menjelang bulan ramadan, kita sudah mendengar bunyi-bunyi letusan “senjata rakitan” ini di berbagai desa di Aceh. Saat konflik, juga terdengar bunyi meriam ini, hanya orang Gam yang membuatnya ya kata para kombatan GAM budee ini untuk menakut-nakuti pasukan TNI.



Budee Trieng mulai semarak lagi setelah Mou Helsinki. Di Garot ini, pemuda bahkan mempersiapkan kesenangan mereka ini sejak 11 ramadan, mereka mencari bambu di hutan sebagai bahan  utama pembuatan meriam yang suaranya terdengar sampai puluhan kilometer ini. 


Sesudah bambu di angkut ke desa, bambu akan dilubangi (direuloeh) dan dibersihkan. Kemudian ditambahkan gula, dan air secukupnya lalu direbus 30 menit di bawah suhu 30 derajat lalu di makan. Eh? Kok jadi resep masakan?


 Bahan yang penting lainnya dalam pembuatan meriam ini adalah karbit, nama ilmiahnya calcium carbide. Bahan kimia yang di jual di toko bangunan ini menurut para ahli memiliki 2 unsur karbon didalamnya apabila di taruh ke dalam air  carbon ini akan bereaksi (meledak) apalagi kalau airnya di ruangan tertututup. Kalau di buka dan di sulut api, akan terdengar bunyi dentuman besar sekali seperti bom Hiroshima dan Nagasari. Eh.. Nagasaki maksud saya.


Yang lebih dahsyat lagi ledakannya meriam yang wadahnya sempit dan berbahankan besi. Misalnya dari tiang listrik bekas atau drum bekas. Tapi untuk meriam Ini para pembuatnya sudah bagian orang dewasa yang tahu masalah welding (pengelasan) jadi drum di sambungkan dari dua sampai lima drum. Tapi kalau sudah lima suara dentumannya sudah tidak terlalu dahsyat lagi. Untuk suara maksimal 3 drum sudah sangat sempurna. Dan kalau bahannya drum akan bertahan lama bisa di pakai beberapa lebaran kalau bolong tinggal di las saja lagi. Kalau meriam bambu biasa anak-anak Garot usia sekolah sudah bisa membuatnya. 


          Sangking antusiasnya masyarakat Garot mereka rela merogoh kocek yang dalam untuk suksesnya acara perang di malam  hari raya Idul Fitri ini. Biasanya yang wajib mengumpulkan kocek adalah anak desa yang sudah sukses yang baru mudik ke kampung halamannya.


Lazimnya Budee trieng yang berbahan bambu di tembakkan dari atas balai (panteu), sebagai simbol pistol karena suaranya kecil sedangkan meriam yang dari drum di benam di tanah atau di buat rodanya seperti meriam Belanda dulu -pakai roda biasa dimunculkan keatas di gunakan kaki di las untuk menimbulkan sensasi mundur saat di ledakkan. sebagai simbol dari bom. Suaranya besar dan menggelegar, Saat pesta di mulai masyarakat sudah bisa bersiap siap. Karena getarannya akan merambat sekitar 500 meter.  Jadi rumah-rumah yang ada foto keluarga atau hiasan di dinding, harus segera diturunkan supaya tidak jatuh.


Animo masyarakat yang ingin menyaksikan pun luar biasa, masyarakat dari seluruh penjuru Pidie keu sini semua malam kedua hari raya. Jalan Garot-Jabal Ghafur sudah seperti Jalan di Jakarta. selalu macet di malam kedua hari raya, trombongan masyakarat ini menyaksikan pesta rakyat ini sampai azan subuh. Karena setelah subuh tidak ada lagi meriam yang berbunyi.
.
          Tapi beberapa lebaran belakangan kemeriahan budee Tring ini sudah berkurang,  kalau dulu sampai 500 batang bambu di potong untuk di buat budee tring, tapi kini hanya 100an saja.
Penasaran bagaimana serunya dentuman-dentuman Budee Trieng? Jangan lupa ke Garot lebaran ini!


EmoticonEmoticon