Monday, August 22, 2016

Tenggelam Di Sabang

Tags


Tidak Terasa ini sudah kali kesepuluh saya ke Sabang. Doyan ya? Bukan karena doyan, tapi semuanya rata-rata ikut kawan supaya menjalin silaturahmi dan memang Sabang tempat wisata yang layak dipergikan. Ada bulek yang rela berkerja setahun penuh demi bisa liburan ke Sabang. Nah! Kita sangat dekat gak pigi? Kepergian ke Sabang  itu terjadi sejak perpisahan SMP. Kenapa ke Sabang? Karena disana semua item perwisataan ada,  gunung yang melungkup, Laut yang biru, Air Terjun yang menghitamkan batu, Gua yang ada lautnya, Pemandian air panas, peninggalan sejarah dan banyak lagi. Dan di akhir tahun ini, Kali ini pegri nya bersama teman yang sengaja jumpa gara-gara  aplikasi Android Couchsurving.

 Dia kawan pertama kali jumpa pakai aplikasi itu, aku pun juga. Aplikasi ini memudahkan kita berpergian kemana saja kecuali ke planet dan negeri akhirat. Bisa dengan biaya minimal, penjelasan lebih lanjut cek sendiri lah di google  play store. Yang saya mau bilang adayah saya hampiy tergelam di Sabang. Angin kencang dan ombak besay sebabnya. Tapi simpan dulu kata-kata itu saya ceyita duyu dayi pertama pergi.
Menaikkan kapal lambat ke Sabang menyebabkan kita harus membayar akan dianya tiket. Untuk per orang akan di kira 26 ribu dan untuk kendaraaan yang saya bawa kebetulan motor saya, di berikan tiket satu lagi berwarna merah. Untuk motornya,  Bisalah motor naik kapal dan setelah menunggu semua penumpang naik,  berjalanlah kapal. Tapi kata berjalan kurang tepat, berenang juga kurang tepat. Jadi saya tak tahu kata yang tepat, maka berjalan saja.
Boat thep-thep, perahu, kayak, kapal motor, kapal penyebrangan, kapal pesiar, yatch dan kapal lomba adalah benda-benda laut yang haram dimakan seperti layaknya kapal selam dan terumbu karang. #eh

Lalu kami telah dua jam di kapal penyebrangan, kapal berwarna biru dan putih yang bukan disponsori facebook ini, berlabuh dengan semangat di pelabuhan Balohan Sabang. Di samping kiri terlihat ombak yang menjilat-jilat pantai, di samping kanan terlihat gunung yang hijau dipenuhi pohon cemara pohon kelapa dan pohon talok yang tak bernyawa, di sebelah utara candi Borobudur di sebelah selatan ada posko pengamanan pilkada. 


Kami turun dari kapal, karena kalau tak turun, jadinya ke Banda Aceh lagi, melenceng dari visi misi bupati Sigli.kami ada kawan bulek satu ekor dari jerman. Ketemu di ruang tunggu  di Pelabuhan Ule lheu, dan sudah ngomong ngomong panjang lebar tentang filosofi, Nazi dan kemajuan teknologi.
Dia lalu kami temani untuk menyewa motor, setelah minta kurang dengan a lot dengan empunya motor akhirnya dia mendapatkan motor sewaan dengan harga 80 ribu rupiah perhari, laju kami menuju lokalisasi utama wisata di Sabang, Iboieh. 


Jalan berliku, menanjak, dan hitam seperti wajahmu. Kalau malam jalan ke sini ada lampunya. Ini kami sampainya sore. Jadi lampu belum nyala. Kenapa itu dijelaskan juga, alah! Jadi dijalan pemandangannya indah. Kami bisa jumpa kawan-kawan (monyet-red) di jalan, meminta pisang. Kami tidak bawa banyak pisang. Hanya tiga dan itu untuk dipakai sendiri.
Di sebelah kanan laut, disebelah kiri gunung. Di sebelah depan jalan, di belakang juga. Hari-hati harus waspada karena kalau sedikit saja terpeleset kita akan biasa aja, paling luka. Jadi tampa memperpanjang mukattimah sampailah dilaut Iboih yang tenang, dengan pemandangan pulau Rubiah dan mau istrirahat sebentar setelah mabuk di kapal dan di jalan. Seperti Fredy yang kadang kadang mabuk di jalanan kadang juga mabuk di perjalanan.


Tapi disaster pun tiba, si bulek ini maunya nginap di Panorama resort. Katanya disana murah, 100 ribu permalam. Sedangkan menurut pengalaman saya 10 kali pergi, enaknya menginap ya daerah sini. Kamipun mengumpulkan rasa kemanusiaan saling tolong menolong, menemani si bulek mencari kamar ke Panorama yang notabene jalan ke KM 0, jauh. Dan memang 100 ribu tapi pemandangannya laut berbatu karang, tanpa kegiatan manusia, tanpa tempat snorkeling dan sangat me….. ah sudahlah. Harga kamar di Iboih mulai 50 ribu sampai seratus ribu lebih. Tidak tahu termahalnya berapa, karena biasa saya akan cari yang paling murah. Bahkan waktu kuliah pernah kesana tidur bawa tenda sendiri. Bukan tenda tapi terpal. yuhuhu


Setelah dia tidak puas, kami kembali ke Iboih dan dapat kamar 150 ribu semalam untuk tiga orang. Aku, Heri dan bulek pun terancam tidur bersama. Satu kamar, satu king bed. California king Bed. Judul lagu Rihanna.
Tapi di malam hari pas sedang diner di pinggir pantai, di temani cahaya lampu petromak, nasi goreng yang enak, suara ombak memukul-mukul karang dan suara kapal nelayan mencium dermaga jumpalah dengan Faiz. Kawan Heri yang juga dari Malaysia. Intinya makan dan Faiz kesepian karena tidur sendiri, faiz mengajak Heri tidur, padahal baru kenal. Apa karena terpengaruh lagu Indonesia?
Paginya bangun dan siap-siap Snorkeling. Untuk 3 orangutan (aku dan Heri dan Bulek itu yang bernama David Kotulin Schultz) harga penyewaan alat menyelam setinggi dada bebek itu hanya 120 ribu rupiah. Yee! Bisa seharian menyelam. Melihat terumbu karang di bawah laut Sabang dan sekolah-sekolah ikan (school of fish) diantara karang. Termasuk dimana posisi populasi ikan asin berenang. 

Tapi tampa arahan yang jelas, saya salah sih, kenapa tidak sewa guide seperti yang saya lakukan dengan Arvit saat kepergian kami setahun lalu, jadi bisa foto di bawah air dengan pemandu. Karena sok tahu saya pun mengarahkan snorkelingnya di seberang pulau Rubiah, dimana tak sadar ombaknya besar dan dan angin kencang.
Pertamanya indah, seperti saat aku melihatmu untuk pertama kali dan kita mulai jatuh cinta. Kami saat pertama senorekeling bisa melihat penyu, ular laut, harimau laut, kuda laut, hyena laut dan beruang laut di air, melalui kacamata yang malu kalau kita pakai untuk ke pesta, karena tak bisa bernafas dengan hidung.
Dan tiba-tiba dari kejauhan….terlihat…

Bersambung

Monday, August 1, 2016

Sedapnya Lincah Busu, Makanan Alami Aceh

Tags


Kuliner Aceh memang banyak ragamnya salah satunya -yang benar berapa?- Lincah Busu. Perusahaan bertaraf Internasional ini milik Pak Mustafa, yang menjadi favorit pecinta rujak, khususan warga Aceh.

Baiklah kita ulangi penjelasannya, diantara deretan kuliner khas kabupaten Pidie, salah satunya adalah Lincah Busu. sepiring lincah busu berisi potongan buah segar yang diolah dengan bumbu kacang dan cabe rawit ini sangat menggoda selera -daripada menggoda wanita untuk pacaran yang diharamkan-





Beda daerah beda juga ciri khasnya. Jika anda  jalan-jalan di kabupaten Pidie, ada satu lokasi di Busu, kecamatan Indra Jaya  mana terdapat penjual rujak aceh atau  dalam bahasa Aceh disebut lincah.  karena baik untuk kesehatan, terutama untuk mencegah  konstepalasi. susah buang air bak mandi. Rujak ini laku keras. yang membelinya dari kalangan muda sampai tua suka rujak ini -tapi apakah rujak ini suka kepada mereka, ini masih dilema.  disukai karena mengandung bahan-bahan alami yang baik untuk kesehatan.


Rasa rujaknya yang memikat perpaduan rasa klat, manis, asam, asin, lemak menjadi satu. ditambah suasana desa yang nyaman, di mana persawahan  juga tempatnya terletak di pinggiran sungai. sesekali ada lembu dan dinosaurus berlewatan.



 
Perdagangan Lincah ini mulai open order atau di mulai dari siang hari. banyak pengunjung yang langsung mencicipi di tempat dan ada juga yang minta untuk dibungkus. Harga nya relatif murah hanya rp 5.000 saja per porsi.

 

Buah-buahan seperti mangga, mentimun, bengkoang, nenas, mancang dan pepaya. Yang istimewa tiap mangkok akan diberi bumbu rujak yang terdiri dari gilingan kacang tanah, gula merah, pisang batu muda, garam, dan cabai rawit.


Semua bahan ini laludicincang kecil-kecil dan disiram kuah kacang, lalu diaduk. Perpaduan bumbu rujak dan buah inilah yang membuat sajian tersebut lezat tiada tara, anda mungkin sekarang bisa membayangkan perpaduan rasanya.


Rujak dijual di banyak tempat di kabupaten Pidie, seperti di depan spbu Beureunuen,di Bambi dan di kota Sigli, tapi rujak yang paling diminati adalah Lincah Busu. ramai masyakarat rela pergi dari jauh bahkan dari lain kabupaten rela pergi demi lincah busu ini.

Pernah sekali dulu bangunan pencakar langit tempat dijual rujak ini, yang dibangun berlandaskan semen, berdindingkan bambu beratapkan daun ijuk dan rumbia ini terbawa angin, roboh dan menimpa lantai, masyarakat sangat sedih tak bisa membeli rujak, tapi kini sudah diperbaiki dan semakin keren dengan tameh sudah dari beton, tidak dari kayu lagi seperti yang dulu, saat kau masih mencintaiku.




Bila berkunjung ke Sigli, jangan lupa untuk menikmati sepiring lincah Busu, rujak khas Aceh. -kalau lupa gimana bang?>