Tenggelam Di Sabang



Tidak Terasa ini sudah kali kesepuluh saya ke Sabang. Doyan ya? Bukan karena doyan, tapi semuanya rata-rata ikut kawan supaya menjalin silaturahmi dan memang Sabang tempat wisata yang layak dipergikan. Ada bulek yang rela berkerja setahun penuh demi bisa liburan ke Sabang. Nah! Kita sangat dekat gak pigi? Kepergian ke Sabang  itu terjadi sejak perpisahan SMP. Kenapa ke Sabang? Karena disana semua item perwisataan ada,  gunung yang melungkup, Laut yang biru, Air Terjun yang menghitamkan batu, Gua yang ada lautnya, Pemandian air panas, peninggalan sejarah dan banyak lagi. Dan di akhir tahun ini, Kali ini pegri nya bersama teman yang sengaja jumpa gara-gara  aplikasi Android Couchsurving.

 Dia kawan pertama kali jumpa pakai aplikasi itu, aku pun juga. Aplikasi ini memudahkan kita berpergian kemana saja kecuali ke planet dan negeri akhirat. Bisa dengan biaya minimal, penjelasan lebih lanjut cek sendiri lah di google  play store. Yang saya mau bilang adayah saya hampiy tergelam di Sabang. Angin kencang dan ombak besay sebabnya. Tapi simpan dulu kata-kata itu saya ceyita duyu dayi pertama pergi.
Menaikkan kapal lambat ke Sabang menyebabkan kita harus membayar akan dianya tiket. Untuk per orang akan di kira 26 ribu dan untuk kendaraaan yang saya bawa kebetulan motor saya, di berikan tiket satu lagi berwarna merah. Untuk motornya,  Bisalah motor naik kapal dan setelah menunggu semua penumpang naik,  berjalanlah kapal. Tapi kata berjalan kurang tepat, berenang juga kurang tepat. Jadi saya tak tahu kata yang tepat, maka berjalan saja.
Boat thep-thep, perahu, kayak, kapal motor, kapal penyebrangan, kapal pesiar, yatch dan kapal lomba adalah benda-benda laut yang haram dimakan seperti layaknya kapal selam dan terumbu karang. #eh

Lalu kami telah dua jam di kapal penyebrangan, kapal berwarna biru dan putih yang bukan disponsori facebook ini, berlabuh dengan semangat di pelabuhan Balohan Sabang. Di samping kiri terlihat ombak yang menjilat-jilat pantai, di samping kanan terlihat gunung yang hijau dipenuhi pohon cemara pohon kelapa dan pohon talok yang tak bernyawa, di sebelah utara candi Borobudur di sebelah selatan ada posko pengamanan pilkada. 


Kami turun dari kapal, karena kalau tak turun, jadinya ke Banda Aceh lagi, melenceng dari visi misi bupati Sigli.kami ada kawan bulek satu ekor dari jerman. Ketemu di ruang tunggu  di Pelabuhan Ule lheu, dan sudah ngomong ngomong panjang lebar tentang filosofi, Nazi dan kemajuan teknologi.
Dia lalu kami temani untuk menyewa motor, setelah minta kurang dengan a lot dengan empunya motor akhirnya dia mendapatkan motor sewaan dengan harga 80 ribu rupiah perhari, laju kami menuju lokalisasi utama wisata di Sabang, Iboieh. 


Jalan berliku, menanjak, dan hitam seperti wajahmu. Kalau malam jalan ke sini ada lampunya. Ini kami sampainya sore. Jadi lampu belum nyala. Kenapa itu dijelaskan juga, alah! Jadi dijalan pemandangannya indah. Kami bisa jumpa kawan-kawan (monyet-red) di jalan, meminta pisang. Kami tidak bawa banyak pisang. Hanya tiga dan itu untuk dipakai sendiri.
Di sebelah kanan laut, disebelah kiri gunung. Di sebelah depan jalan, di belakang juga. Hari-hati harus waspada karena kalau sedikit saja terpeleset kita akan biasa aja, paling luka. Jadi tampa memperpanjang mukattimah sampailah dilaut Iboih yang tenang, dengan pemandangan pulau Rubiah dan mau istrirahat sebentar setelah mabuk di kapal dan di jalan. Seperti Fredy yang kadang kadang mabuk di jalanan kadang juga mabuk di perjalanan.


Tapi disaster pun tiba, si bulek ini maunya nginap di Panorama resort. Katanya disana murah, 100 ribu permalam. Sedangkan menurut pengalaman saya 10 kali pergi, enaknya menginap ya daerah sini. Kamipun mengumpulkan rasa kemanusiaan saling tolong menolong, menemani si bulek mencari kamar ke Panorama yang notabene jalan ke KM 0, jauh. Dan memang 100 ribu tapi pemandangannya laut berbatu karang, tanpa kegiatan manusia, tanpa tempat snorkeling dan sangat me….. ah sudahlah. Harga kamar di Iboih mulai 50 ribu sampai seratus ribu lebih. Tidak tahu termahalnya berapa, karena biasa saya akan cari yang paling murah. Bahkan waktu kuliah pernah kesana tidur bawa tenda sendiri. Bukan tenda tapi terpal. yuhuhu


Setelah dia tidak puas, kami kembali ke Iboih dan dapat kamar 150 ribu semalam untuk tiga orang. Aku, Heri dan bulek pun terancam tidur bersama. Satu kamar, satu king bed. California king Bed. Judul lagu Rihanna.
Tapi di malam hari pas sedang diner di pinggir pantai, di temani cahaya lampu petromak, nasi goreng yang enak, suara ombak memukul-mukul karang dan suara kapal nelayan mencium dermaga jumpalah dengan Faiz. Kawan Heri yang juga dari Malaysia. Intinya makan dan Faiz kesepian karena tidur sendiri, faiz mengajak Heri tidur, padahal baru kenal. Apa karena terpengaruh lagu Indonesia?
Paginya bangun dan siap-siap Snorkeling. Untuk 3 orangutan (aku dan Heri dan Bulek itu yang bernama David Kotulin Schultz) harga penyewaan alat menyelam setinggi dada bebek itu hanya 120 ribu rupiah. Yee! Bisa seharian menyelam. Melihat terumbu karang di bawah laut Sabang dan sekolah-sekolah ikan (school of fish) diantara karang. Termasuk dimana posisi populasi ikan asin berenang. 

Tapi tampa arahan yang jelas, saya salah sih, kenapa tidak sewa guide seperti yang saya lakukan dengan Arvit saat kepergian kami setahun lalu, jadi bisa foto di bawah air dengan pemandu. Karena sok tahu saya pun mengarahkan snorkelingnya di seberang pulau Rubiah, dimana tak sadar ombaknya besar dan dan angin kencang.
Pertamanya indah, seperti saat aku melihatmu untuk pertama kali dan kita mulai jatuh cinta. Kami saat pertama senorekeling bisa melihat penyu, ular laut, harimau laut, kuda laut, hyena laut dan beruang laut di air, melalui kacamata yang malu kalau kita pakai untuk ke pesta, karena tak bisa bernafas dengan hidung.
Dan tiba-tiba dari kejauhan….terlihat…

Bersambung

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus