Na Tajak Na Raseuki Institute



Rejeki itu misteri Allah. Tgk Hamdanuddin, ustad yang sering saya mengaji dengannya masih heran kenapa dia bisa buat rumah dan beli mobil. Darimana dia bisa dapat uang padahal dia tidak kuliah, diatidak punya perusahaan dan bukan pegawai pemerintah. Semua itu rahasia Allah. Dia malahan bulan depan mau Umrah.

Saya pikir hari ini saya tidak bisa mendapatkan kopi, karena semiskin-miskin orang Aceh adalah tidak bisa minum kopi pagi. Walaupun tanggal muda. Gaji disekolah Cuma puluhan ribu sudah habis untuk ke Banda Aceh kemarin. Kini Gaji kantor belum cair juga gaji PPS belum menampakkan batang hidungnya. Kata orang kantor camat lagi amprahan.


Jarak warung kopi juga jauh, walaupun sudah langganan tapi tidak berani berhutang, karena bukan perkara nyawa atau kelangsungan hidup. Kan kalo gak ngopi masih hidup juga kalau panjang umur. Maka disebabkan hujan berkepanjangan sejak kemarin dan capek sekali hari senin pagi harus kembali ke Sigli dari banda Aceh ditengah hujan lebat. Maka dari itu sampai ke Sigli masih ada sisa uang 15 ribu. Sampai kerumah makan pagi, jam 10. Lalu ke warung kopi. Lalu karena hujan sampai sore, harus makan dan habis uang saat pulangnya.


Dan terjadilah hari ini, berbaring disinni, dikammar, sambil merenungi pagi. Yang ada matahari, yang tidak hujan tapi tak bisa mengopi. Karena tadi.


Memutuskanlah pagi ini setelah sarapan, untuk tidur lagi. Karena pepatah ustad alah lupa namanya, beliau ngajar di RIAB dulu, lucu orangnya dan sekarang sudah dosen di UIN. Beliau bercerita, ada kawannya dulu saat di LIPIA. Menulis di dinding kamarnya.

“Lebih baik tidur kelaparan daripada bangun menambah hutang”

Maka tidurlah sampai tiba-tiba sebuah telepon dipanggil, eh. Suara dering telepon. Dering telepon adalah lagu Azkil berjudul Khaab. Bahwa di layar tertulis Ihksan PKK. Dia mengatakan menyuruh saya kerumahnya.


Jreeng..saya pun mandi dan menuju tempat beliau, rupanya disuruh kerja buat memastikan sama kelurahan dimana-mana saja spanduk paslon gub dan wagub, bup dan wabup boleh dipasang.


Sudah kerumahnya, lalu saya disuruh ke kantor Kelurahan, disanalah kopi berada. Kopi adalah benda cair di kantor lurah. Di bungkus dalam plastik transparan, terikat karet gelang, terasa panas kalau di pegang. Dengan serta merta mulut berkata “bolehkah saya minum kopi ini?”

orang-orang yang mengurus surat dikantor lurah menatap. Sungguh tidak malu anak ini, anak siapa ya? Saya pastikan mereka tidak mengenal ayah saya. Jadi saya teguk saja kopi dengan gelas yang tersedia disampingnya.


Kopi terminum dan ada kue disampingnya tapi sedikit dan mungkin jatah pegawai, bukan jatah saya jadi saya biarkan. Lalu setelah diskusi sana sini sama pegawai kantor lurah, suratnya siap dan disuruh ke kantor kecamatan.


Kantor camat adalah rumah yang besar, bersembilan kamar, berpuluh pekerja, tapi yang terlihat disana hari ini selasa delapan november tahun dua ribu enambelas, hanya dua orang. Pak Jol yang gelisah. Dia terus berbicara tentang banyaknya kerja yang harus dia kerjakan. Dalam pengamprahan gaji kami, para karyawan musiman bidang PPS (panitia pungut Suara).


Sambil dia bicara saya memungut surat kabar. Di bawah surat kabar ada kue pagi yang tak dimakan karena banyak pegawai kantor camat pergi berdoa ke samping kantor karena ada orang meninggal.

Sering kali kejadian saat-saat masa paceklik begini, saya pergi saja kemana biasa. Misalnya kesekolah tempat saya bekerja. Kadang ada tugas prakerin yang tak bisa guru lain. Prakerin itu praktek kerja industri, yang siswa kami biasa laksanakan karena kami sekolah kejuruaan. Setiap guru prakerin diberikan uang transport untuk anak-anak yang mereka monitoring. Saya kadang kena tiga tempat jadi tiba-tiba hari yang pergi dengan  kantong kosong, pulangnya jadi berisi. Na Tajak, Na Raseuki!

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus