Padi Dua (Terinspirasi dari tulisan Muarrif Salda)



Sejak dalam kandungan, saya tidak tau apakah mama membawa saya kesawah apa tidak. Kan belum lahir, jadi saya tak tahu apa yang terjadi dalam kandungan. Saya  baru tahu diri saat kelas dua SD. Saat itu pun hanya mengingat beberapa kejadian, seperti mengerumuni pintu kelas, menunggu guru yang jarang datang mengajar.

Yang saya ingat dari sawah adalah saat menonton pemuda gampong bermain layangan. saya dan anak-anak lain hanya bisa menengadah kelangit, menyaksikan bilahan bambu berpadu dengan kertas menari-nari di angkasa. 

Pada usia remaja di gampong kami, semua anak muda bisa membuat layangan, mobil dari pelepah rumbia dan  Cintra (sangkar burung). Selain skill lainnya yang diperlukan saat dibutuhkan mama, seperti mencuci piring, memanjat pohon meninjau, mencari ikan, menjaga api tetap menyala saat khenduri, memperbaiki pagar dan mematahkan hati pemudi. #telolet

Sawah berpuluh tahun lalu adalah tempat berbagai kegiatan menyenangkan selain tempat padi berkembangbiak. Saat habis musim panen, sawah menjadi bandar udara belalang untuk lepas landas, mendarat dan menambah keturunan. Malam hari belalang diburu warga beramai-rama dimasukkan kedalam kaca (botol) lalu di kumpulkan dalam beulangong ie bu, lalu dibagi sama rata ke semua warga yang pergi mencari belalang tadi, lalu bawa pulang dan digoreng, dimakan bersama-sama sekeluarga. Saya termasuk orang yang sangat merindukan belalang goreng ini, tapi sulit sekali mengumpulkan belalang di tahun pancaroba ini.

Setelah masa belalang habis, ada petani yang menunggu masa tanam padi kembali dengan menanam kacang, semangka atau bawang disawah. Bagi yang tidak memanfaatkan sawahnya untuk tumbuhan, kami yang masih kecil dibantu para remaja mencabut akar padi dan membuat sepetak sawah untuk dijadikan lapangan bola. Kami bermain bola dengan orang sekampung setiap sore sampai magrib tiba.
Sebelum Ubat semprot (zat kimia) masuk kedalam sawah, disaat air mulai masuk untuk perairan persawahan, air sungai juga membawa serta ikan-ikan. Bermacam ikan bisa kita dapatkan dalam aliran sungai sawah bahkan didalam sawah bersarang ikan Baasyir, lele, Mujair, gree, ilis  dan Kruep.

Bace sabee mangat
Kruep Meuketuep mangat
Gree sigee mangat
....
Kata orang-orang dulu yang pernah merasa betapa enaknya ikan yang didapat di sawah, tapi semua berubah, saat pestisida menyerang.

Seorang pemuda, melihat bangunan yang rata di pinggir sawah
***
Saat padi mulai menguning, anak-anak kecil mulai mencoba peruntungannya siapa terbanyak mendapatkan burung pipit (Tulo). Sangkar tulo dibuat sedemikian rupa untuk bisa menjebak burung lain masuk kesangkar. Sangkar di buat 5 ruang, empat pintu di dibuka sedangkan ditengahnya di taruh seekor burung pipit yang paling berisik dikawanan yang telah ditangkap. Lalu sangkar itu ditempatkan dipematang sawah yang padinya sering disinggahi banyak burung.


Itu cara pertama, cara kedua adalah dengan getah nangka, getah nanga diambil meretas sedikit batang nangka, lalu mengoles ke ranting pohon atau bambu. Lalu satu burung yang cerewet seperti diatas diikat kakinya, sementara sekeliling burung itu di campakkan ranting yang sudah ditaruh lem alami tadi. Dan setelah beberapa tahun beberapa burung terjebak dan bisa dimiliki dan diperjualbelikan di kids black market.
Tapi semuanya berlalu setelah bahan-bahan kimia hanya baik bagi padi tapi tak baik bagi ikan. Ikan mulai jarang sekali berenang di sawah, seiring dengan mulai berkembang jaman kearah konsumtif, deduktif dan over production to growing more consufmtion in instant way, yang maksudnya mau segalanya cepat.
Global warming juga membuat anak-anak bahkan orang dewasa tidak betah lagi di sawah belama lama karena menurut pantauan kami dari redaksi Metro Since when petani mengeluh panas, saat berada disawah diatas jam 11 pagi.
Sawah tidak ramah lagi anak-anak karena jarang ada yang bisa dimainkan disana.Sawah kini sudah kejar target, setahun bisa tiga kali panen. Setelah panen, moto krok (traktor) langsung terjun ke sawah mulai memakan tanah disertai akar-akar padi dan memuntahkannya kebelakang menjadi areal yang bisa ditanami lagi. Jadi selamat tinggal main bola, selamat tinggal menangkap belalang dan menangkap ikan di sawah.

Semoga suatu saat nanti, kita kembali pada alami tanpa zat kimia membahayakan. dan menyaksikan anak-anak kita bermain layangan atau menangkap ikan dengan riang gembira di sawah.








  

Popular posts from this blog

Ae Dil Hai Mushkil : Hati yang Tak Pernah Patah, Tak Bisa Membuat Puisi Bagus