Sunday, January 8, 2017

Teuraceu Alue Putek, Gampong Hujan dan Durian

Tags



Pernahkan kamu melihat lutung? Ituloh monyet abu-abu tua berekor panjang. Binatang itulah yang menyambut kami, memantau kami bagai CCTV di pepohonan disepanjang jalan yang membelah hutan Beungga. Perjalanan kali ini harus ditempuh dengan kaki ayam. Karena suasana hujan dan jalan bechek tak ada ojhek. Kalau kepergian saya sebelumnya, jalan kering dan bisa memarkirkan motor beberapa meter dekat air terjun,  kepergian? Apakah itu kata yang cocok? Ya memang dua minggu lalu saya kesini dengan Tgk Zian Mustaqin, empunya ceritapidie.com.
Penampakan air dari kamera amatir

Kali ini saya menguras keringat kesana bersama tiga orang teman, sang patner sejati Akbar Rasfanjani, Rayyan dan satu lagi lupa namanya. Mendengar ada air terjun di Pidie yang dekat dan masuk ke hutan hanya sebentar, mereka berdua yang juga aktivis media sosial laju bergabung dengan kami, yang mau syuting Rio de Jaksiuroe. 
Walaupun Sudah Kuliah, pria ini tidak lupa shalat

Mendung yang mewarnai langit tak menyurutkan semangat kami melintasi jalan Banda Aceh – Medan, lalu jalan Bereunuen- Tangse, tapi sampai di Kemala, semangat kami surut juga. Hujan sebesar-besar kacang keledai membuat kami singgah dipinggiran irigasi yang mengurai air sungai Geumpang. Kami berbincang-bincang dari yang penting sampai gak penting menunggu hujan reda.
Hujan mengurangi rinainya dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan, jalan yang basah menambah pemandangan menjadi indah. Disamping kiri sungai berbatu membelah daratan disamping kanan gunung yang tinggi menjulang. Maka kalau tuan dan puan mau ikut juga naiklah ke jembatan layang pertama kali jumpa. Di sebelah kanan kalau dari kota Beurunuen.
Sutradara Rio De Jak Siuroe sedang merekam asap, siapa yang lagi merokok ditengah hutan
Kami membeli durian dan membuka dengan orang kampung akan percakapan, menanyakan apakah jalan ke air terjun aman. Orang kampung bilang baru saja hujan, boleh kesana asal mau becek-becekan. Kami pun berjalan. Walaupun setelah terengah-engah baru menyesal apa yang kami lakukan.
Merekam para perekam

Jalan yang kalau dengan motor hanya memakan waktu 10 menit saja, dengan dua tanjakan yang tidak terlalu tinggi. Kita harus dua kali menyebrang aliran sungai lalu sampailah di lokasi. Air terjunnya memang tak terlihat di ujung jalan buntu itu, kita harus sedikit berjalan kaki ke pinggir sungai, lalu satu menit kita akan langsung melihat air terjun yang indah ini.
Air terjun ini bukanlah sumber air untuk sungai besar, tidak seperti air terjun Lhoong ataupun Air terjun Pria laot di Sabang, tapi sungai besar tetap mengalir seperti biasa di sampingnya. Air terjun Alue putek hanya sebagai subjeck pelengkap penderita sungai Beungga. Eh?



Tidak hanya air terjun dan keramahan warga yang ditawarkan di Beungga ini, tapi juga durian kalau  lagi musim. Varian durian memanjakan lidah kita, di jual disepanjang jalan dengan harga murah, hanya berkisar 15-20 ribu perduri, pandai-pandailah menawar pada pembeli.




1 comments so far


EmoticonEmoticon