Saturday, May 27, 2017

Dangal, Ketika Ayah Tidak Mendapat Anak Laki-Laki

Dangal merupakan film kritik terhadap perkembangan olahraga di India sama seperti film Singham yang mengkritik korupsi yang dilakukan polisi di negara-negara Asia. Film ini juga mengetengahkan kesetaraan gender. Tapi tidak hanya itu.

Latihlah anak disiplin sejak manyak


Mari kita kupas setajam parang potong sie meugang. Geeta Kumari Phogat  dan Babita Kumari Phogat  adalah anak dari pegulat nasional,  sungguh hal tabu di India seorang wanita menjadi pegulat (wrestling). Aamir Khan (Mahavir Singh Phogat) disini adalah ayah dari kedua anak perempuan ini, istrinya sudah empat kali melahirkan dan Aamir Khan tetap mengharap anak laki-laki biar dilatih gulat dan sampai bisa memenangkan medali nasional seperti dia.
El Fenomenale Geeta and Babita


Bertahun-tahun kecewa tanpa anak wanita dan menjadi bahan tertawaan orang desa karena tak bisa ada anak lelaki, Aamir khan memiliki ide pada suatu hari. Ketika anak perempuannya menghajar beberapa lelaki sampai babak belur yang mengejek mereka.Mulailah anaknya dilatih gedhe-gedhe (gulat). Dengan latihan keras setiap hari berlari di subuh hari, berlatih gulat setiap sore, selama setahun anaknya pun di daftarkan ke kompetisi gulat laki-laki tingkat tarkam (antar kampung/mud wrestling).
Pasangan ini tidak memiliki anak laki


Pertama panitia tak bersedia, sampai Aamir mengajak panitianya bergulat, tapi akhirnya panitia menerima Geeta karena panitia lain berbisik, kalau ada pegulat wanita bergulat dengan laki-laki pasti penontonnya banyak. Maka setelah beberapa kali juara Geeta menjadi populer di Tarkam dan mendapat juara, dia menjadi pegulat yang ditakuti laki-laki, dan yang berhasil dikalahkan Geeta, jatuh maruahnya diantara laki-laki lain tentu saja.

Film yang menyia-nyiakan waktu puasa kita selama 2,5 jam ini membuat kita menangis (bagi yang suka menangis)  berkali-kali, misalnya karena Geeta dan Babita dipotong rambut sama ayahnya karena rambut anak India itu panjang-panjang dan menggangu saat berlatih dan berantam, nanti kalah karena ditarik rambutnya sama cowok kan gak fair. Lalu menangis lagi saat Geeta dan Babita tidak mendapat bantuan tempat berlatih sama pejabat pemerintah, padahal sudah mengharumkan nama daerah.dan menangis-nangis lain kalau aktor dan aktrisnya menangis, kenapa kita menangis? Tak tahu, kadang ingin sama kayak pemainnya atau karena kita punya perasaan yang dalam saat menonton film.
Tapi mereka berhasil mendidik anak yang bisa mengalahkan laki-laki


Film ini sama tegangnya seperti saat kita menonton The Karate Kid (2010),  Barefoot Dream (2010) dan lupa saya apa judul film satu lagi yang Hugh Jackman pertarungan robot. Pokoknya begitu lah. Saat dua anak ini masuk ke NSA (Nasional Sport Academy) semperti Hambalang Lah, tapi hambalang belum jadi, karena korupsi. Seharusya setiap provinsi di Indonesia ada NSA nya, kalau para atlit mau jadi juara, atau pejabat bagian olahraga mau anak Indonesia juara di aneka pertandingan sport tingkat nasional maupun internasional, NSA dimana para atlit seluruh cabang berkumpul dan punya prasarana dan sarana latihan yang lengkap.

Film ini aman dinonton bersama keluarga selama ramadan, tapi lebih penting adalah baca Qur’an



EmoticonEmoticon